Mantan Pasukan Pengawal Gus Dur Merapat ke Kelana-Astutik

PILBUP SIDOARJO: Haji Masnuh, bawa pasukan Kobra merapat ke Kelana-Astutik di Pilgub Sidoarjo. | Foto: Barometerjatim.com/IST
PILBUP SIDOARJO: Haji Masnuh, bawa pasukan Kobra merapat ke Kelana-Astutik di Pilgub Sidoarjo. | Foto: Barometerjatim.com/IST

SIDOARJO, Barometerjatim.com – Puluhan orang berkumpul di Posko Pemenangan Cabup-Cawabup Sidoarjo nomor urut 3, Kelana Aprilianto-Dwi Astutik (Berkelas) di Ngingas, Waru, Senin (12/10/2020) malam hingga larut.

Mereka adalah perwakilan veteran pasukan Kobra (Komando Banser Reaksi Aktif). Selain reuni setelah sekian tahun tak bersama, juga menyatakan dukungan dan siap memenangkan Kelana-Astutik di Pilbup Sidoarjo 2020.

Sekadar tahu, Kobra adalah mantan pasukan elite dari unsur anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang menjadi garda terdepan dalam mengawal Gus Dur di Muktamar ke-29 Nahdlatul Ulama (NU) Cipasung, serta saat hendak dilengserkan dari kursi Presiden ke-4 RI.

Meski tak segagah di masa lalu, semangatnya tetap membaja. Malam itu, mereka menggelorakan lagu dukungan untuk memenangkan Kelana-Astutik, seolah mengusung nuansa saat membela Gus Dur yang hendak dilengserkan dari di Istana Negara.

Pendukung berkelas yang setia
Mari kita berjuang bersama
Di bawah kibaran sang merah putih
Ayo maju.. ayo maju.. maju..

Terus kita berjuang meraih kemenangan
Walaupun tantangan menghadang di jalan
Demi Berkelas rapatkan barisan

Maju ayo maju ayo terus maju
Singkirkan dia.. dia.. dia..
Kikis habislah mereka
Demi Berkelas yang tercinta (amanah)

Wahai pendukung Berkelas yang setia
Di mana saja berada (di sini)
Tunjukkan pada semua warga
Berkelas pilihan kita

“Semangat itu diungkap kembali oleh sahabat Soewarno. Waktu itu betul-betul seperti mau berangkat perang,” kenang Panglima Kobra, Haji Masnuh yang juga Ketua Tim Pemenangan Kelana-Astutik dengan mata berkaca-kaca saat ditanya soal lagu pembakar semangat tersebut.

Menurut Masnuh, Gus Dur sendiri yang memberikan nama Kobra dan menunjuk dirinya yang saat itu masih berusia 30-an tahun (sekarang 66 tahun) sebagai panglima.

Kobra, lanjut Masnuh, lahir dari Sidoarjo. Semula dibentuk untuk mengawal Gus Dur saat Muktamar ke-29 NU di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, 1-5 Desember 1994.

Muktamar yang disebut-sebut dijadikan rezim Orde Baru sebagai puncak kezaliman terhadap NU. Kala itu, NU dan Gus Dur dengan segala keberaniannya ‘melawan’ pemerintah, dipandang Soeharto sebagai ancaman paling membahayakan.

Hal itu membuat Soeharto dengan kekuasaannya berupaya keras memutus kewenangan Gus Dur di PBNU yang dipimpinnya sejak 1984. Termasuk melakukan intervensi dengan memasang Abu Hasan sebagai calon lawan Gus Dur.

“Waktu itu, awalnya saat dibentuk hanya ada 99 orang saja sesuai amalan Asmaul Husna untuk mengawal Gus Dur di Muktamar NU Cipasung, tapi dalam perkembangannya jumlah Kobra terus meluas sampai ribuan,” kata Masnuh.

Meski awalnya tak banyak anggota, tapi layaknya pasukan elite, mereka adalah orang pilihan yang dibekali berbagai kemampuan lahir dan batin sebagai perisai diri.

Termasuk, jelas Masnuh, setiap bulan mereka mengikuti gemblengan khusus lewat puasa dan wirid. Tak hanya urusan lahir, batin juga turut ditempa misalnya rutin pengajian hingga melakukan kegiatan sosial.

Tak Pernah Bubar

REUNI KOBRA: Haji Masnuh bersama veteran pasukan Kobra, semangat baja menangkan Kelana-Astutik. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
REUNI KOBRA: Haji Masnuh bersama veteran pasukan Kobra, semangat baja menangkan Kelana-Astutik. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Usai Muktamar Cipasung, pasukan Kobra kembali ke rutinitas ke-NU-an. Tapi kemudian merapatkan barisan lagi untuk mengamankan Gus Dur saat hendak dilengserkan dari Istana Negara.

“Sampai sekarang pasukan Kobra tak pernah bubar ataupun mati, karena memang tak pernah dibubarkan Gus Dur. Bahkan, Kobra melakukan peremajaan menggaet sekitar 60 anggota baru,” kata Masnuh.

Saat ini, Masnuh membawa semangat baru pasukan Kobra untuk mendukung pasangan Kelana-Astutik di Pilbup Sidoarjo 2020, baik dalam pengamanan maupun mendulang suara.

“Tim Kobra siap mengawal road show Pak Kelana-Bu Dwi Astutik, lengkap dengan rompi berisi peralatan protokol kesehatan karena situasi pandemi,” katanya.

Selain mengamankan, anggota Kobra juga siap mengamankan suara di daerah masing-masing mengingat ketokohan mereka masih sangat kuat.

“Ini baru sembilan dari 18 kecamatan di Sidoarjo yang berkumpul. Kita akan undang secara bertahap karena alasan protokol kesehatan,” tandas mantan bendahara umum PBNU tersebut.

» Baca Berita Terkait Pilbup Sidoarjo