‘Debu’ Rivalitas Pilgub Jatim Bisa Berdesir di Konferwil PWNU

SILATURAHIM KHOFIFAH-PWNU: Gubernur terpilih, Khofifah Indar Parawansa usai melakukan silaturahim dengan pengurus PWNU Jatim, Rabu (18/7) lalu. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR
SILATURAHIM KHOFIFAH-PWNU: Gubernur terpilih, Khofifah Indar Parawansa usai melakukan silaturahim dengan pengurus PWNU Jatim, Rabu (18/7) lalu. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

SURABAYA, Barometerjatim.com – ‘Debu-debu’ rivalitas Pilgub Jatim 2018 sedikit banyak dinilai bisa berdesir di Konferensi Wilayah (Konferwil) PWNU di Ponpes Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, Kediri, 28-29 Juli.

Maklum, saat Pilgub lalu, Ketua PWNU Jatim, KH Hasan Mutawakkil Alallah beserta sejumlah elite struktural lainnya, secara terbuka mendukung Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno.

Namun faktanya, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak yang tidak didukung kiai struktural PWNU, justru tampil sebagai pemenang dengan selisih cukup tebal, 7,11 persen.

• Baca: Gus Aam: Ketua PWNU Jatim Tak Harus dari Pesantren

“Saya kira sedikit-sedikit pasti ada lah. Debu-debunya konflik politik saya kira ada lah. Enggak bisa ditutup kemungkinan-kemungkinan seperti itu,” kata Ketua PW GP Ansor Jatim, Sholahul Aam Notobuwono.

Bahkan debu-debu Pilgub, bisa jadi sudah berdesir sejak pemilihan ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim lewat Konferwillub di Gedung Serbaguna Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari, Surabaya, 21 Juli 2018, yang dimenangkan Prof Mas’ud Said, mantan Stafsus Menteri Sosial saat dijabat Khofifah.

“Ya kita ndak menutup kemungkinan itu (debu-debu Pilgub di pemilihan ketua ISNU Jatim). Mungkin ada, mungkin tidak ada, saya juga tidak tahu,” tandas kiai muda yang akrab disapa Gus Aam itu.

• Baca: Pengamat: Dipimpin Orang Itu-itu Saja, Tak Baik buat PWNU

Meski menilai masih ada debu-debu Pilgub Jatim, pria yang masih keluarga Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang itu meyakini kiai-kiai di struktural maupun kultural NU tetap akan menjaga dan mengawal jamiyah dengan baik.

“Beliau-beliau masih memiliki semacam ketajaman mata hati, untuk menyelamatkan dan membawa NU ke depan lebih baik. Saya kira masih banyak kiai yang bagus untuk mengawal NU,” tandasnya.

Gus Aam juga menegaskan, komando NU adalah komando ideologis, bukan komando politis. “Kalau komando politis saya kira tidak akan efektif. Partai apapun, kandidat apapun, tidak akan efektif untuk dilakukan atas nama NU,” katanya.

• Baca: Eks Bendahara PBNU: Gus Kikin Layak Ketua PWNU Jatim

Dengan demikian, calon ketua PWNU Jatim nanti harus tahu tantangan hari ini dan penyelesaiannya. “Banyak sekali kan tantangannya. Kita tahu lah mana mitra dan lawan strategis. Itu harus diambil langkah kongret,” ucapnya.

Sementara Ahmad Zainul Hamdi, pengamat sosiologi agama asal Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menuturkan, adalah hal wajar siapapun gubernur Jatim berusaha memiliki kanal komunikasi dan bahkan koordinasi dengan PWNU Jatim. Apalagi Khofifah kader NU.

“Itu bisa kita lihat kekuatan Khofifah ketika Konferwillub ISNU kemarin. Nah, apakah Bu Khofifah juga akan ‘bermain’ ketika Konferwil PWNU di Kediri? Saya tidak tahu persis. Tapi yang perlu digarisbawahi, Bu Khofifah pasti ingin mencari komunikasi dan koordinasi dengan PWNU Jatim,” paparnya.