Pengamat: Dipimpin Orang Itu-itu Saja, Tak Baik buat PWNU

PENYEGARAN PWNU JATIM: Ahmad Zainul Hamdi, PWNU Jatim perlu penyegaran dan mewadahi intelektual kampus. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
PENYEGARAN STRUKTUR PWNU JATIM: Ahmad Zainul Hamdi, PWNU Jatim perlu penyegaran dan mewadahi intelektual kampus. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Penyegaran di tubuh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim kian kencang disuarakan berbagai pihak. Tak terkecuali Ahmad Zainul Hamdi, pengamat sosiologi agama asal Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

“Saya kira perlu penyegaran di PWNU Jatim. Sebab kalau orang itu-itu saja, terlalu lama di dalam, itu cenderung status quo dan enggak baik untuk laju organisasi,” katanya saat diwawancarai Barometerjatim.com, Minggu (22/7).

Hanya saja, tandas Zainul, penyegaran yang bisa dimulai lewat pemilihan ketua tanfidziyah dalam Konferwil PWNU Jatim di Ponpes Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, Kediri, 28-29 Juli nanti, jangan ditafsirkan sebagai bentuk dukungan terhadap para rival incumbent KH Hasan Mutawakkil Alallah.

• Baca: Penyegaran! Saatnya Intelektual Kampus Pimpin PWNU Jatim

“Saya enggak mau ngomong itu (dukung mendukung calon ketua PWNU Jatim), tapi bahwa struktur PWNU harus disegarkan, iya! Setiap organisasi harus melakukannya,” tegasnya.

Karena itu, menurut Zainul, PWNU harus mulai didorong untuk berani melakukan kaderisasi, memberi ruang pada anak-anak muda yang baik dan bisa merangkul semua kader NU yang selama ini tak terwadahi.

“NU jangan menjadi keranjang yang lubang-lubangnya terlalu besar, banyak yang bocor, enggak terwadahi, sehingga banyak orang baik yang tak terangkut di dalamnya,” katanya.

• Baca: Eks Bendahara PBNU: Gus Kikin Layak Ketua PWNU Jatim

“Ini penting, karena potensi NU itu banyak sekali, tapi selama ini tak terwadahi dan tidak dikapitalisasi dengan maksimal.”

Zainul melihat struktur NU masih didominasi para gus (keturunan kiai) dan kalangan pesantren, sementara intelektual dari NU justru masih banyak yang dibiarkan di luar.

“Para gus tetap harus masuk, tapi intelektual NU, sekalipun tak memiliki latar belakang pesantren, tak memiliki darah gus, juga harus tetap menjadi bagian dari struktur NU yang produktif,” ucapnya.

“NU jangan menjadi keranjang yang lubang-lubangnya terlalu besar, banyak yang bocor, enggak terwadahi, sehingga banyak orang baik yang tak terangkut di dalamnya.”

Intelektual kampus atau pesantren? “Begini. Selama ini kan struktur NU banyak didominasi dengan latar belakang pesantren, sehingga banyak sekali kader intelektual NU yang tidak berlatar belakang pesantren terlepas di luaran. Itu enggak baik untuk akselerasi ke depan,” jelasnya.

Saat dipertegas, apakah hal itu tidak mendobrak tradisi NU, Zainul menegaskan, “Harus didobrak, jika pendobrakan itu dalam rangka meningkatkan produktivitas NU sebagai organisasi.”

Lantas, siapa sosok muda potensial yang layak memimpin PWNU? “Saya enggak ingin sebut nama. Menurut saya, di ITS atau Unair itu banyak orang-orang dari NU, tapi seberapa banyak sih selama ini mereka terwadahi. Enggak banyak, yang banyak itu dari IAIN (UINSA) kan,” katanya.

• Baca: Kiai Mutawakkil: Saya Tidak Punya Ambisi, Naudzubillah!

Maka, penyegaran di stuktur PWNU harus dilakukan dengan mempertimbangkan komposisi antara mereka yang berlatar belakang pesantren dan intelektual kampus.

“Agar para teknokrat NU tidak berada di luar, tapi di dalam kemudian mengabdi untuk Indonesia melalui NU sekaligus membesarkan NU,” pungkasnya.