Corona, Ekonomi Jatim Triwulan III 2020 Terkontraksi 3,75 Persen

TERKONTRAKSI: Situasi pandemi Covid-19, ekonomi Jatim triwulan III 2020 terkontraksi 3,75 persen. | Grafis: BPS Jatim
TERKONTRAKSI: Situasi pandemi Covid-19, ekonomi Jatim triwulan III 2020 terkontraksi 3,75 persen. | Grafis: BPS Jatim

SURABAYA, Barometerjatim.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim merilis ekonomi Jatim pada triwulan III/2020 terkontraksi 3,75 persen, setelah pada triwulan II/2020 mengalami kontraksi 5,9 persen.

Angka tersebut diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 587,54 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp 409,11 triliun.

Namun demikian, ada beberapa lapangan usaha yang masih mencatatkan pertumbuhan positif. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha informasi dan komunikasi (9,53 persen).

“Kondisi ini dipengaruhi kenaikan trafik penggunaan paket data akibat peningkatan aktivitas WFH (Work From Home) dan SFH (School From Home),” terang Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan di Surabaya, Jumat (5/11/2020).

Pertumbuhan berikutnya, diikuti jasa kesehatan dan kegiatan sosial (8,55 persen), serta pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang (5,36 persen).

Pertanian juga mengalami pertumbuhan tipis (0,46 persen). Sektor ini masih menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap kinerja ekonomi Jatim, yakni 13,36 persen.

Sebaliknya, dua sektor yang memberikan sumbangsih terbesar terhadap kinerja ekonomi Jatim justru mengalami penurunan. Yakni sektor industri yang memberikan sumbangan 30,36 persen turun 1,07 persen.

Lalu sektor perdagangan yang memberikan sumbangan 17,51 persen juga turun sebesar 1,70 persen. Pun sektor kontruksi mengalami penurunan 0,24 persen.

“Jika dilihat dari pengeluaran, hampir semua komponen PDRB menurut pengeluaran mengalami kontraksi,” kata Dadang.

Semua Pos Anggaran

DIPENGARUHI COVID-19: Konsumsi rumah tangga dipengaruhi pandemi, pengeluaran LNPRT dipengaruhi kampanye Pilkada. | Grafis: BPS Jatim
DIPENGARUHI COVID-19: Konsumsi rumah tangga dipengaruhi pandemi, pengeluaran LNPRT dipengaruhi kampanye Pilkada. | Grafis: BPS Jatim

Komponen yang mengalami kontraksi, terang Dadang, yakni pengeluaran konsumsi pemerintah (6,99 persen), Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB (5,47 persen), pengeluaran konsumsi rumah tangga (2,92 persen), dan impor luar negeri (12,12 persen).

“Sedangkan komponen yang tumbuh, antara lain pengeluaran konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga/LNPRT 2,96 persen dan ekspor luar negeri 22,11 persen,” jelasnya.

Terkontraksinya pengeluaran pemerintah, tutur Dadang, terjadi di semua pos anggaran seperti belanja pegawai, barang, modal dan sosial baik pada anggaran APBD maupun belanja barang APBN. PMTB hanya proyek lanjutan sarana dan prasana.

“Konsumsi rumah tangga masih dipengaruhi pandemi Covid-19, dan pengeluaran LNPRT tumbuh dipengaruhi mulainya masa kampanye Pilkada di 19 kabupaten dan kota.

“Sedangkan ekspor migas unggulan Jatim seperti perhiasan, tembaga, ikan dan udang masih mendominasi nilai ekspor yang tumbuh positif,” ucap Dadang.

Baca Berita Terkait Ekonomi Bisnis