Senin, 24 Januari 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Caketum PBNU, Mantan Aspri Kiai Hasyim Kawal Kiai As’ad Ali!

Berita Terkait

BERSAMA KIAI HASYIM: Fairouz Huda saat berdiskusi bersama mantan Ketum PBNU, almarhum KH Hasyim Muzadi. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
TAWADHU: Fairouz Huda saat berdiskusi bersama mantan Ketum PBNU, almarhum KH Hasyim Muzadi. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Mantan Asisten Pribadi (Aspri) almarhum KH Hasyim Muzadi, Fairouz Huda angkat bicara soal gaduh dukungan calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-34 di Lampung, 23-25 Desember 2021.

Menurutnya, momentum Muktamar ke-34 NU bukanlah agenda untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan di NU. Tapi momentum rumuskan skema perjuangan NU, dan menyiapkan kepemimpinan sejarah yang tepat untuk melaksanakan amanah perjuangan tersebut.

“Sangat prihatin dengan situasi yang memperlihatkan akrobat perebutan pemilik suara. Tanpa mengutamakan adab, yang menjadi pegangan utama di NU selama ini,” katanya di Surabaya, Sabtu (11/12/2021).

Memilih pemimpin, lanjut Fairouz, harus didasari atas hasil riyadhoh para kiai dan dilengkapi dengan kriteria kepemimpinan berbasis pada sebuah gagasan yang menjangkau masa depan.

“Bukan grudak-gruduk dengan pressure politik, lebih-lebih naudzubillah dengan transaksi suara melalui materi,” tandasnya.

Karena itu, Fairouz bersyukur dengan adanya berita di berbagai media yang memuat informasi tentang pernyataan mantan Katib Aam PBNU, KH Malik Madani dan Ketua Umum PP Persatuan Guru NU (Pergunu), KH Asep Saifuddin Chalim yang memina KH As’ad Said Ali untuk ikut menjadi kandidat Ketum PBNU.

“Jika Kiai As’ad bersedia, sungguh ini akan menjadi oase di tengah dinamika ambisius dari kedua kelompok kandidat lain yang penuh dengan drama akrobatik menjelang pelaksanaan muktamar, apalagi pada saat hari pelaksanaannya nanti,” paparnya.

Menurut Fairouz, siapa yang tidak tahu tentang keikhlasan Kiai As’ad Ali dalam merintis tradisi kaderisasi di NU dengan Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU)-nya. Meskipun dia tidak ada dalam struktur, tetap saja konsisten mengawal proses ibadah kaderisasi yang dilakukan se-Indonesia tersebut.

“Ketika saya mendampingi Abah KH Hasyim Muzadi, saya juga banyak mendapat cerita positif tentang sesosok Kiai Asad Ali ini dari Abah,” katanya.

Fairouz mencontohkan bagaimana Kiai Hasyim bercerita tentang perjuangan membangun gedung PBNU, dimana Kiai Asad Ali berperan penting dalam pelaksanaannya. Begitupun dengan program merintis media berbasis digital seperti NU Online.

“Keikhlasan berjuang di NU menjadi ukuran fundamental dalam menentukan kepemimpinan ormas terbesar se-dunia ini. Bukan ukuran materialistik dan irisan politik,” katanya.

Apakah Fairouz juga akan turut mengawal Kiai As’ad Ali? Mantan Ketua PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jatim itu telah menghubungi sosok kiai panutan di Jatim.

“Tanpa arahannya, saya tidak bisa bersikap dan melakukan langkah apapun. Saya meminta beliau memberi arahan terkait dengan munculnya nama Kiai As’ad Ali yang kemungkinan juga akan menjadi calon Ketum PBNU di Muktamar ke-34 NU.

“Guru saya tidak langsung memberi jawaban, butuh satu hari satu malam untuk mendapatkan arahan beliau. Alhamdulillah hari ini beliau memberi jawaban dengan merestui saya untuk terlibat mengawal Kiai As’ad dalam proses bermuktamar nanti,” katanya.

Bismillah. Allah meridhai, juga Syaikhona Cholil Bangkalan, Syaikh Mbah KH As’ad Syamsul Arifin, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, dan para muassis lain ikut merestui. Amin,” tuntas Fairouz.

» Baca Berita Terkait Muktamar NU

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -