Cak Anam: Enggak Pakai Kalau, Risma Enggak Maju Gubernur

PENINGGALAN KAKEK BUYUT: Tri Rismaharini (kanan) di hadapan Cak Anam melihat keris peninggalan kakek buyutnya, Mbah Jayadi di Museum NU Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
PENINGGALAN KAKEK BUYUT: Tri Rismaharini (kanan) di hadapan Cak Anam melihat keris peninggalan kakek buyutnya, Mbah Jayadi di Museum NU Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Mantan Ketua PKB Jatim, Choirul Anam (Cak Anam) meyakini Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) tidak akan maju di Pilgub Jatim 2018. Selain sudah masuk waktu pendaftaran, selama ini dia hanya berkutat di Surabaya. Belum turun ke daerah lain di Jatim untuk melakukan ‘penyapaan’.

“Kalau saya enggak pakai kalau Risma maju, enggak maju dia. Masa maju enggak ada persiapan. Lha pendaftaran tinggal besok, mau maju gubernur bagaimana?” katanya usai menggelar pertemuan dengan Risma di Museum Nahdlatul Ulama (NU), Jalan Gayungan, Surabaya, Senin (8/1).

Ketua Dewan Kurator Museum NU itu menambahkan, dari proses Pilgub Jatim yang diikutinya sejak era Gubernur Basofi Sudirman, Imam Utomo sampai Soekarwo, semuanya ada persiapan.

• Baca: Tolak Maju Pilgub Jatim, Risma: Mosok Aku Mencla-Mencle

“Lha sekarang mau maju, besok sudah tutup pendaftaran. Itu namanya enggak mungkin dong. Jadi enggak pakai kalau Risma maju, Risma enggak maju! Kurang dua hari enggak mungkin,” tegasnya.

Selain waktu persiapan, lanjut Cak Anam, di internal PDIP masih banyak kader yang siap maju, salah satunya Bupati Ngawi, Budi “Kanang” Sulistyono. “Banyak orang yang siap di PDIP,” ujarnya.

Belum lagi faktor luas wilayah Jatim yang mencapai 47.800 km² dan itu belum ‘disapa’ Risma. “Lha dia (Risma) baru Surabaya tok, belum ‘jalan-jalan’ sama sekali. Waktu dua hari dari Banyuwangi ke sini hanya sekali pergi. Jadi enggak mungkin. Dugaan saya enggak mungkin Bu Risma maju,” tandasnya.

• Baca: Arek Jatim: Pernyataan Sekjen PDIP Picu ‘Adu Domba’ Kiai NU

Karena itu, menurut Cak Anam, yang benar memang Risma harus tetap melanjutkan kepemimpinanya di Surabaya. “Bu Risma itu ibunya arek Suroboyo, yo monggo tutukno Suroboyo (diteruskan menjadi wali kota Surabaya),” ucapnya.

Biyen kan wis sumpah pakai Al Qur’an akan mengabdi di Surabaya. Sampeyan tutukno dan itu sesuai dengan sembilan pedoman pokok politik warga NU,” jelasnya.

Bagaimana kalau Risma ‘dipaksa’ untuk maju menggantikan posisi Azwar Anas? “Ya enggak boleh dong, kok dipaksa. Justru Bu Risma ini yang mengamankan pedoman politik NU, karena harus mengabdi di Surabaya,” tegasnya.