Buka Diklat di Batu, Khofifah: Kades Punya Nasab Jadi Menteri

DIKLAT KADES: Khofifah membuka diklat teknis kepala desa di Jatim 2021 di Kota Batu. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
DIKLAT KADES: Khofifah membuka diklat teknis kepala desa di Jatim 2021 di Kota Batu. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

BATU, Barometerjatim.com – Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa membuka acara Diklat Teknis Peningkatan Kapasitas SDM bagi Kepala Desa (Kades) di Jatim 2021 di Hotel Royal Orchids Garden, Kota Batu, Selasa (16/3/2021).

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah memotivasi para Kades agar selalu memiliki inisiatif dan inovasi baru, serta tidak berpikir cukup menjadi pemimpin di level desa. Dia mencontohkan Prof Dr Ryaas Rasyid yang mengawali pengabdian sebagai Lurah Melayu, Kecamatan Wajo, Makassar pada 1972.

Purnatugas sebagai lurah, kemudian melanjutkan sekolah di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta, mengajar, menjadi rektor di almamaternya, pernah menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara, Wantimpres, dan kini salah seorang seorang pakar atau arsitek otonomi daerah (Otda) dan desentralisasi.

“Artinya, para Kades ini punya nasab untuk menjadi menteri,” kata Khofifah yang disambut riuh peserta diklat. “Jadi ini adalah satu referensi betapa seorang lurah, kemudian menapaki karirnya hingga menjadi menteri.”

Karena itu, para Kades tidak boleh ada yang punya pikiran karena sudah dua periode menjabat dan mau selesai, sehingga tidak perlu melakukan inisiatif atau inovasi baru.

“Jangan pernah berpikir seperti itu, karena rahman dan rahim Allah bisa saja turun lebih besar lagi,” tandas gubernur yang juga ketua umum PP Muslimat NU tersebut.

Sebab, tidak sedikit Kades setelah purnatugas malah menapaki karir lebih tinggi. Di level Jatim, dia mencontohkan Wakil Bupati Sidoarjo, Subandi yang sebelumnya menjabat Kades Sedati.

“Itu kan kepala desa, kemudian jadi DPRD (Sidoarjo), kemudian jadi wakil bupati. Next bisa saja beliau kemudian menjadi bupati, next bisa saja mencalonkan menjadi gubernur dan seterusnya,” katanya.

Artinya, kalau sudah rahman dan rahim Allah Swt jangan pernah dianggap kalau orang desa, misalnya dari Pacitan atau Madiun, cukup menjadi Kades.

“Jangan pernah menganggap enteng, dari Pacitan terlahirlah seorang presiden (SBY). Jadi saya mohon kita terus ber-khusnudzon (berprasangka baik) kepada rahman dan rahim Allah,” ucap Khofifah.

Ajang Transfer Ilmu

MOTIVASI KADES: Khofifah, memotovasi Kades dengan karir hebat Ryaas Rasyid yang dimulai dari Kades. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
MOTIVASI KADES: Khofifah, memotovasi Kades dengan karir hebat Ryaas Rasyid yang dimulai dari Kades. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Selebihnya, Khofifah menuturkan, Diklat ini sekaligus menjadi ajang transfer ilmu. Antara lain terkait Percepatan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), upaya pemetaan penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan informasi terkait Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Sebab, Susenas yang dilakukan setiap Maret akan melahirkan data-data baru untuk mengukur daya beli masyarakat. Data tersebut berguna untuk memetakan dan mengintervensi angka kemiskinan termasuk di perdesaan.

Selain itu, Khofifah juga mengimbau percepatan finalisasi APBDesa dan Perdes bagi desa yang belum menyelesaikan melalui pendampingan maksimal sampai akhir Maret nanti.

“Kalau ini bisa kita lakukan percepatan-percepatan, maka harapannya 40 persen masuk ke rekening dana desa di bulan Maret. Karena itu acara ini menjadi penting,” jelasnya.

Diklat kal ini diikuti 180 kepala desa dari 29 kabupaten dan satu kota, yaitu Batu. Kegiatan dibagi menjadi tiga sesi dengan fokus penyelenggaraan kegiatan SDGs, penyusunan pengelolaan anggaran, pengolahan BUMDesa, dan pengolahan potensi desa.

Turut hadir dalam pembukaan diklat, yakni Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko; Plt Plt Kaban Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PSDM PMD) Kemendes PDTT, Jajang Abdullah, serta Kepala BPSDM Jatim, Aries Agung Paewai.

» Baca Berita Terkait Pemprov Jatim