Budayawan: Video Hancurkan Risma Justru Jatuhkan Machfud!

PILWALI SURABAYA: Nonot Sukrasmono, video Hancurkan Risma malah jatuhkan Machfud Arifin. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PILWALI SURABAYA: Nonot Sukrasmono, video Hancurkan Risma malah jatuhkan Machfud Arifin. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Budayawan Jatim, Nonot Sukrasmono menilai kampanye sejumlah pendukung Machfud Arifin-Mujiaman dengan cara menyerang Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini alias Risma secara brutal justru menguntungkan Eri Cahyadi-Armuji.

“Justru menguntungkan Eri! Ya masyarakat itu (menjadi) tahu, mana orang yang baik mana orang yang jelek. Lha, anggapan masyarakat itu bisa membaca mereka,” katanya kepada wartawan di Surabaya, Sabtu (28/11/2020).

Terlebih, lanjut Nonot, nyanyian “Hancurkan Risma Sekarang Juga” dalam video yang tersebar itu sangat kasar. “Dengan pola kampanye mereka seperti itu, justru akan menjatuhkan MA (Machfud Arifin) itu sendiri,” tandasnya.

Namun Nonot tidak setuju kalau nyanyian provokatif tersebut disebut sudah mengarah ke ujaran kebencian apalagi bentuk premanisme. “Ini soal moral kampanye. Pendukung MA harus bisa menjaga moral dalam kampanye,” katanya.

Lagi pula, menurut Nonot, Surabaya tidak butuh orang-orang yang kasar. Tapi Surabaya butuh orang-orang yang cerdas, yang mempunyai pemikiran membangun dan bersikap bagus.

“Dengan norma-norma yang benar-benar ada nilai religiusnya. Kalau sudah seperti itu (nyanyian akan menghancurkan Risma) kan enggak ada nilai religius,” katanya.

Bagiamanapun, ucap Nonot, Risma adalah simbol Surabaya karena sampai detik ini masih menjabat wali kota dan harus dihormati. “Kalau kita mengolok-olok sama dengan mengolok-olok ibu kita. Artinya pemimpin kita itu simbol kita sendiri,” katanya.

Soal diksi menghancurkan, menurut Nonot, hal itu sama juga dengan ingin memusnahkan untuk menghilangkan ketokohan Risma.

“Artinya membunuh karakter. Lha ini tidak bagus, gitu lho. Carilah kampanye-kampanye yang elok yang bisa diterima masyarakat,” katanya.

“Masyarakat itu, khususnya Surabaya, sudah cerdas-cerdas. Enggak perlu disuguhi dengan bahasa yang kasar seperti itu,” tuntas Nonot.

» Baca Berita Terkait Kampanye Hancurkan Risma