Bara JP Jatim: Risma Kurang Cepat Tanggap Tangani Corona

KRITIK KRISMA: Giyanto Wijaya, kritik Risma kurang cepat tanggap tangani Corona. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
KRITIK RISMA: Giyanto Wijaya, kritik Risma kurang cepat tanggap tangani Corona. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya hingga 25 Mei 2020 terjadi, lantaran Wali Kota Tri RIsmaharini alias Risma kurang cepat tanggap dalam menangani wabah virus Corona (Covid-19).

Penilaian itu disampaikan Ketua Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) Jatim, Giyanto Wijaya. “Saya melihat ketidakmampuan Risma dalam menghadapi kasus ini,” tandasnya, Rabu (13/5/2020).

Merujuk PSBB tahap pertama, 28 April hingga 11 Mei 2020, lanjut Giyanto, Risma belum bisa memaksimalkan peran aparat Pemkot Surabaya, termasuk Satpol PP, hingga titik-titik yang dibutuhkan.

“Risma kurang cepat tanggap. Karena sebenarnya saya setuju dengan Risma tidak mau PSBB, asalkan aparatnya diturunkan benar setiap hari di pusat keramaian,” katanya.

“Kehadiran aparat ini untuk mengontrol dan memberikan edukasi ke seluruh lapisan masyarakat, terutama yang setiap hari di pasar, di jalan yang mencari makan untuk hari ini,” sambungnya.

Jika alasannya personel Satpol PP yang kurang? “Tidak ada alasan untuk kekurangan. Kalau memang kekurangan minta bantuan TNI, kepolisian atau bahkan relawan,” tegasnya.

Sebab, lanjut Giyanto, untuk menanggulangi Corona adalah menjaga disiplin masyarakat dalam physical distancing dan itu butuh kehadiran aparat.

“Kalau jalan, enggak perlu semua harus di-lockdown. Tetap bisa beraktivitas seperti biasa asalkan menjaga physical distancing. Intinya cuma begitu, jangan semua di-lockdown,” tandasnya.

Karena itu, setelah menilai PSBB pertama tak berhasil, Giyanto berharap pada tahap perpanjangan ini Risma lebih tanggap lagi. “Saya harapkan berhasil, bisa mengurangi Covid-19,” katanya.

Tapi, sekali lagi, kata Giyanto, pengurangan sebaran Covid-19 baru bisa dilakukan kalau terjadi disiplin masyarakat dalam physical distancing.

“Yang penting itu menanamkan edukasi kepada masyarakatnya, lakukan physical distancing betul-betul. Kalau disiplin, enggak perlu semua ditutup,” ujarnya.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona, PSBB