Banyak Isoman di Jatim Tak Terdata, Picu Korban Berjatuhan!

SWAB ANTIGEN: Lembaga atau layanan kesehatan yang menggelar swab antigen deteksi Covid-19. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
SWAB ANTIGEN: Lembaga atau layanan kesehatan yang menggelar swab antigen deteksi Covid-19. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Angka positif Covid-19 di Jatim terus melonjak. Tambahan kasus harian 4.424 per Senin (19/7/2021), membuat kumulatif terkonfirmasi menjadi 243.592 dengan kasus aktif 43.619 (tambahan 1.211).

Namun angka positif sesungguhnya bisa jadi melebihi data Satgas Covid-19 Jatim, lantaran banyak terkonfirmasi yang menjalani isolasi mandiri (isoman)  tanpa terpantau.

Sebab, kondisi sekarang berbeda dengan awal-awal Covid-19 mewabah. Tak sedikit warga melakukan isoman tanpa melaporkan kondisinya ke pusat layanan medis dengan berbagai pertimbangan.

Apalagi saat ini banyak lembaga atau layanan kesehatan menggelar swab antigen. Masyarakat yang memanfaatkan layanan tersebut, jika hasilnya positif biasanya langsung melakukan isoman begitu saja.

Mereka berusaha mengobatinya secara mandiri tanpa pantauan dari tenaga medis. Cenderung bertanya pada orang yang pernah terpapar Covid-19 atau mencari sumber informasi lainnya.

Padahal, menurut Juru Bicara (Jubir) Satgas Covid-19 Jatim, dokter Makhyan Jibril Al Farabi, idealnya warga tersebut harus melaporkan kondisinya terkait hasil swab yang positif.

“Idealnya melapor ke tenaga medis, RT, atau RW. Laporan itu akan segera ditindaklanjuti. Biasanya RT atau RW melapor ke Puskesmas,” katanya.

Setelah itu, lanjut Jibril, ada tim medis yang memantau. Dengan demikian, perkembangan pasien dapat diamati secara berkala. “Itu akan membuat pasien aman dan potensi sembuh sangat besar,” ucapnya.

Tapi saat ini tahapan itu jarang diterapkan, karena banyak yang setelah hasil swab-nya positif enggan lapor dan memilih menjalani isoman untuk melakukan pengobatan sendiri.

Tak jarang pula, banyak yang tak kunjung sembuh dan baru dirujuk ke rumah sakit setelah kondisinya parah, sehingga potensi sembuhnya sangat kecil. Pola seperti ini memicu banyak korban berjatuhan.

Karena itu, Jibril berharap, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat tidak hanya membatasi aktivitas masyarakat, tapi pemantauan terhadap warga yang terpapar Covid-19 lebih ditingkatkan.

Apalagi, kata Jibril, data yang dimiliki Satgas Covid-19 bersumber dari perawatan pasien di lapangan, yakni dari Puskesmas yang dikirim ke Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten/kota dan diteruskan ke Dinkes Pemprov Jatim.

“Warga yang melakukan isolasi mandiri dan tidak melapor, tidak terdata, itu yang berisiko tinggi,” tegasnya.

Menurut Jibril, Covid-19 membutuhkan perawatan cukup ketat yang berlaku bagi semua pasien, baik bergejala ataupun tidak dan pengobatannya juga harus terpantau.

“Kami sangat berharap, RT dan RW berperan aktif memantau masyarakat lalu melaporkan. Dengan begitu penanganan bisa lebih baik,” pungkasnya.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona