Pengamat: PKB-Fandi Utomo Bisa Dianggap “Nggege Mongso”

JANGAN NGGEGE MONGSO: Mochtar W Oetomo (kanan), Fandi Utomo (kiri) dan PKB bisa dianggap nggege mongso soal Pilwali Surabaya 2020. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
JANGAN NGGEGE MONGSO: Mochtar W Oetomo (kanan), Fandi Utomo (kiri) dan PKB bisa dianggap nggege mongso soal Pilwali Surabaya 2020. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Perolehan kursi legislatif 2019 belum jelas! Tapi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Surabaya sudah sibuk mempromote Fandi Utomo untuk maju di Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya 2020.

Menurut Pengamat Politik asal Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Mochtar W Oetomo, langkah PKB ini terlalu dini. Salah-salah publik mempersepsikan nggege mongso alias terburu nafsu dalam menginginkan sesuatu yang belum waktunya.

“Bisa jadi deklarasi PKB untuk menang di Pilwali Surabaya dengan sosok Fandi Utomo, akan dianggap banyak pihak sebagai nggege mongso atau terlalu dini,” papar Mochtar saat dihubungi, Sabtu (22/9).

• Baca: Kursi Seret, PKB Realistis soal Wacana Fandi Utomo Wali Kota

Terlebih, bagi Mochtar, peta Pilwali Surabaya 2020 bukan hanya soal jumlah kursi yang diperoleh di Pileg 2019, tapi bergantung pula pada hasil Pilpres. “Apakah Jokowi yang diusung PKB akan menang signifikan di Surabaya,” tambahnya.

Selain itu, dinamika sosok kandidat dan partai politik (Parpol) lainnya yang running di Pilwali Surabaya juga menjadi pertimbangan. “Pilkada juga pertarungan figur, narasi, opini dan persepsi,” kata pengamat yang juga Dirut lembaga survei Surabaya Survey Center (SSC) tersebut.

“Banyak bukti, calon dengan dukungan kursi Parpol yang lebih kecil justru memenangkan kontestasi. Pilgub DKI, Jabar dan Jatim beberapa waktu lalu adalah beberapa contoh di antaranya,” tandas Mochtar.

• Baca: Isu Fandi Utomo Cawali, Pekerjaan Berat PKB di Surabaya

Lagi pula, Pilwali Surabaya 2020 tidak bisa semata diukur dengan jumlah kursi DPRD Surabaya hasil Pileg 2014, melainkan hasil Pileg 2019.

“Bisa saja kursi PKB naik, bisa pula turun. Peta politik pasca Pileg dan Pilpres 2019 pasti mengalami perubahan dan dinamika yang tak bisa diprediksi untuk saat ini,” ujarnya.

Belum Teruji Tangguh

Merujuk Pileg 2014, PKB bukanlah Parpol penguasa di DPRD Surabaya. Perolehan kursinya hanya 5, jauh di bawah PDIP yang meraih 15 kursi sekaligus pemenang Pemilu 2014 di Kota Pahlawan.

Begitu pula dengan sosok Fandi Utomo. Mantan politikus Demokrat itu hanya berada di urutan ketiga saat maju Cawali Surabaya di 2010. Fandi yang berpasangan dengan Yulius Bustami meraih 105.736 suara (11,8 persen).

• Baca: Nyaleg Lewat PKB, Fandi Utomo Minta Dukungan Muslimat NU

Jauh di bawah Tri Rismaharini-Bambang DH yang tampil sebagai pemenang dengan raihan 367.472 suara (40,9 persen), disusul Arif Afandi-Adies Kadir yang meraih 327.834 suara (36,4 persen).

Jagoan PKB bersama Gerindra, BF Sutadi-Mazlan Mansur bahkan tercecer di posisi keempat dengan raihan 52.718 (5,9 persen). Hanya sedikit lebih baik di atas paslon dari jalur perseorangan, Fitradjaja Purnama-Naen Soeryono yang meraih 45.459 suara (5 persen).

» Baca Berita Terkait Fandi Utomo, PKB, Pileg 2019