Anwar Sadad: Neoliberalisme Tak Kalah Jahat dari Komunis!

KESAKTIAN PANCASILA: Anwar Sadad (kiri) dan Kusnadi, usai peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Grahadi. | Foto: IST
KESAKTIAN PANCASILA: Anwar Sadad (kiri) dan Kusnadi, usai peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Grahadi. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Wakil Ketua DPRD Jatim, Anwar Sadad menegaskan, tantangan bangsa hari-hari ini bukan hanya soal komunisme, tapi juga paham dan praktik neoliberalisme, serta ideologi transnasional.

“Neoliberalisme tak kalah jahatnya!” katanya usai mengikuti upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (1/10/2019).

“Praktik ekonomi yang kapitalistik dengan menyedot habis kekayaan alam bangsa kita, meninggalkan luka ketidakadilan yang dalam,” sambung Sadad yang datang bersama Ketua DPRD Jatim, Kusnadi.

Bagi Sadad, ketidakadilan adalah bahaya laten yang terbukti meruntuhkan bangsa-bangsa besar di dunia. Di era modern, ketidakadilan juga memporak-porandakan bangsa-bangsa di Eropa Timur.

“Neoliberalisme bertentangan dengan pasal 33 UUD 1945,” tandas politikus Partai Gerindra yang masih keluarga Ponpes Sidogiri, Pasuruan tersebut.

Selain neoliberalisme, ancaman rongrongan terhadap kebangsaan juga berasal dari ideologi transnasional yang diimpor dari asing. Ideologi yang diintrodusir tanpa melalui melalui proses akulturasi yang panjang.

“Para penganjur ideologi itu tidak memiliki akar kesejarahan, tidak ada garis genealogi, dan tidak ber-DNA keindonesiaan,” katanya.

Praktik dan paham seperti itu, jelas Sadad, potensial sebagai ancaman pada kebangsaan. Maka peringatan Hari Kesaktian Pancasila adalah bentuk kesadaran, bahwa Indonesia adalah bangsa yang tangguh dan kokoh.

“Pelajaran yang bisa dipetik dari peringatan Hari Kesaktian Pancasila, kita adalah bangsa yang tangguh dan kokoh menghadapi rongrongan baik gerakan maupun paham yang berusaha menghancurkan kebangsaan kita,” paparnya.

Karena itu, spirit sebagai bangsa yang tangguh harus ditanamkan kepada para generasi muda dan kaum milenial. Mengapa? Karena mereka hidup di zaman yang jauh jaraknya dengan peristiwa pemberontakan PKI pada 1965.

“Di era modern ancaman terhadap kebangsaan kita lebih bervariasi lagi, dimana salah satu penyebabnya adalah globalisasi di semua sektor kehidupan kita,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Anwar Sadad, DPRD Jatim