Tiga Wanita “Super” dengan Guru yang “Bener”

SUPER DAN BENER: (Dari kiri) Nyai Gede Pinatih (simbol yang dipotret di kompleks pesarean) RA Kartini dan Khofifah Indar Parawansa. Tiga wanita super dan bener. | Foto: Ist

GRESIK, Barometerjatim.com – Ketiga wanita ini lahir di zaman berbeda. Tapi memiliki satu kesamaan: “Pinter” dan “bener”. Pintar dalam keilmuan di bidangnya dan benar dalam menjaga perilaku serta mengamalkan ajaran agama.

Sesuai urutan zaman, ketiganya yakni Nyai Gede Pinatih, RA Kartini dan Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa. Rahasia mereka menjelma menjadi wanita “super” karena belajar pada guru yang “bener”.

Di abad 13, lahir wanita super Nyai Salamah alias Nyai Gede (Ageng) Pinatih, ibu asuh Sunan Giri. Dalam bahasa Jawa, nama tersebut bermakna: Wanita ningrat yang memiliki prestasi hebat.

• Baca: Khofifah: Ternyata Kartini itu Seorang Ibu Nyai

“Beliau pedagang ulung antarnegara, bukan hanya antara pulau. Malah perahunya yang masing-masing beratnya 20 ton jumlahnya mencapai 100 lebih. Beberapa ada yang masih terkubur di daerah sini, tapi nggak ada yang berani menggali,” ujar Ketua Yayasan Nyai Gede Pinatih, KH Muchtar Djamil.

SUNAN AMPEL & NYAI GEDE PINATIH: Sunan Ampel, salah seorang guru Nyai Gede Pinatih (simbol yang dipotret dari kompleks pesarean). | Ilustrasi: Ist

Cerita itu disampaikan Kiai Muchtar saat memberi sambutan pada pengajian umum memperingati Haul ke-550 Nyai Gede Pinatih di Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Minggu, 9 Juli lalu.

Tak hanya saudagar, tutur Kiai Muchtar, Nyai Gede Pinatih juga tercatat sebagai satu-satunya syahbandar (kepala pelabuhan) perempuan di Gresik yang diangkat Kerajaan Majapahit. Atau syahbandar ketiga yang menggantikan Raden Santri, kakak Sunan Ampel yang sebelumnya menggantikan Maulana Malik Ibrahim.

• Baca: Setelah Tujuh Tahun, Wasiat Gus Dur ke Khofifah Terpenuhi

Selain kaya raya, Nyai Gede Pinatih dikenal sebagai pribadi dermawan dan kekayaannya dipergunakan untuk dakwah Islam, di antaranya mendirikan masjid dan pondok pesantren di Giri Kedaton untuk keperluan putra asuhnya, Sunan Giri.

KH SOLEH DARAT & RA KARTINI: KH Sholeh Darat, guru RA Kartini yang belakangan dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita. | Foto: Ist

“Yang saya heran dan menjadi teladan kita semua, beliau ini kaya raya tapi qiyamul lail (shalat malam)-nya nggak pernah berhenti,” katanya. “Jadi beliau ini mubalighoh ulung sekaligus maratussalihan yang paripurna.”

Lantas, apa rahasia Nyai Ageng Pinatih sehingga menjelma menjadi wanita super di zamannya? Berguru pada orang yang benar, “Karena beliau murid Maulana Malik Ibrahim dan juga Sunan Ampel. Sama dengan RA Kartini (akhir abad 19 sampai awal abad 20) yang murid Kiai Sholeh Darat, Semarang,” ujar Kiai Muchtar.

• Baca: Kiai Nashiruddin: Pemimpin Perempuan Tak Masalah

Selain RA Kartini, KH Sholeh Darat juga memiliki santri yang belakangan dikenal sebagai para kiai hebat, di antaranya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri, KH Nahrowi Dalhar Watucongol serta KH Ahmad Dahlan.

KH WAHAB TURCHAM & KHOFIFAH IP: KH Abdul Wahab Turcham, salah seorang guru Khofifah Indar Parawansa yang juga berguru kepada KH Muhammad Rais Amin. | Foto: Ist

Nah, lanjut Kiai Muchtar, saat ini juga muncul wanita super tak kalah hebat, yakni Menteri Sosial sekaligus Ketua Umum PP Muslimat NU, Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa. “Karena beliau ini murid KH Abdul Wahab Turcham, juga murid KH Muhammad Rais Amin,” jelasnya.

• Baca: Mertua Berpulang, 2017 Jadi Tahun Kesedihan bagi Khofifah

Kiai Wahab Turcham, selain mumpuni dalam ilmu agama, juga diteladani karena keteguhan dan perjuangannya dalam dunia pendidikan. Salah satu peninggalan hebat yang bermanfaat hingga sekarang yakni Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial (YTPS) NU Khadijah di Surabaya. Yayasan ini semakin berkembang di bawah kepemimpinan Khofifah.

“Jadi kalau menurut dengan kiai, insyaallah meraih kesuksesan besar dan selamat dunia akhirat. Hal itu sudah dicontohkan mulai dari Nyai Gede Pinatih, RA Kartini dan sekarang Ibu Nyai Khofifah,” tandas Kiai Muchtar.