Kamis, 29 September 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Terima Gelar Doktor HC, Surya Paloh Singgung Politik Identitas hingga Kelicikan dalam Pemilu

Berita Terkait

ORASI ILMIAH: Surya Paloh orasi ilmiah saat terima gelar doktor HC dari FISIP Universitas Brawijaya. | Foto: IST
ORASI ILMIAH: Surya Paloh orasi ilmiah saat terima gelar doktor HC dari FISIP Universitas Brawijaya. | Foto: IST
- Advertisement -

MALANG, Barometerjatim.com – Ketua Umum DPP Partai Nasdem, Surya Paloh menerima gelar doktor honoris causa (HC) dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) Malang, Senin (25/7/2022).

Dalam orasi ilmiahnya bertema “Meneguhkan Politik Kebangsaan” Surya Paloh menyinggung soal politik identitas, Pemilu jadi ajang adu siasat dan kelicikan berkompetisi, hingga persatuan bangsa Indonesia.

Menurutnya, dalam demokrasi sistem kekuasaan diatur sedemikian rupa sehingga terjadi perimbangan dan sirkulasi kekuasaan. Peralihan kekuasaan pun diatur sedemikian rupa, sehingga terjadi secara berkala dan diselenggarakan secara terbuka. Hal itu memungkinkan bagi setiap pihak memiliki kesempatan yang sama.

“Namun demikian, dalam sistem yang demikian pun masih kerap terjadi kondisi yang dinilai tidak fair dan perilaku yang menyeleweng,” ujar Surya Paloh di Gedung Auditorium Samantha Krida Kampus UB Malang, Senin (25/7/2022).

Perilaku yang dipandang menyeleweng dalam kontestasi demokrasi, terang Surya Paloh, merujuk pada penggunaan segala cara demi tercapainya kemenangan dan kekuasaan.

“Alih-alih mewujudkan proses peralihan kekuasaan yang fair dan bermartabat, praktik penyelewengan ini hanya akan membuat proses peralihan kekuasaan bernuansa perebutan kekuasaan,” ujarnya.

Pemilu pun, tandas Surya Paloh, tidak lagi menjadi ruang bagi terlaksananya sirkulasi kekuasaan yang demokratis, melainkan ajang adu siasat dan kelicikan berkompetisi.

Alih-alih menjadi ruang pendidikan politik, Pemilu hanya menjadi ajang perselisihan dan konflik. Hingga pada akhirnya, Pemilu bukan lagi bagian dari upaya mencari solusi atas masalah-masalah bangsa, akan tetapi malah menjadi problem baru bagi negara.

Surya Paloh kemudian menyampaikan persoalan bangsa saat ini yang belum terselesaikan, dan memberi dampak lebih buruk dalam kehidupan bersama.

Pertama, persoalan polarisasi sosial dan kebencian yang merupakan dampak dari kontestasi politik yang menggunakan eksploitasi politik identitas di berbagai lapisannya.

Kedua, situasi pasca pandemi Covid-19 yang tidak hanya telah mendisrupsi beberapa sendi kehidupan sosial dan kesehatan individu, namun juga menghadirkan krisis keamanan, pangan dan energi dunia.

Surya Paloh menambahkan, menuju kontestasi nasional yakni Pemilu 2024 telah dihadapkan pada situasi yang semakin dinamis dari waktu ke waktu. Pemilu merupakan keharusan sebagai wujud dari praktik demokrasi elektoral.

“Persoalannya, satu dasawarsa terakhir ini kita melihat hadirnya proses politik yang rawan menimbulkan kerusakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Tiga Bentuk Politik Identitas

Dalam orasinya, Surya Paloh juga menyinggung politik identitas yang disebutnya tidaklah selalu negtif. Dalam sejarahnya, politik identitas lahir dari perjuangan melawan diskriminasi dan ketidakadilan.

Dia  menyampaikan, dalam sebuah forum nasional di Jakarta, Prof Yudi Latif menyampaikan bahwa ada tiga bentuk politik identitas, yakni good (baik), bad (buruk) dan ugly (jelek).

Politik identitas yang baik adalah kelompok yang mampu membangun identitas diri yang kemudian menjadi pembeda antara ia dengan kelompok yang lain.

“Namun identitas itu tidak membuatnya bersikap ekslusif atau tidak mau mengenal yang lain. Sebaliknya, mereka mampu bersikap inklusif dan bersedia interaksi dan mengenal yang berbeda dengannya,” katanya.

Lalu politik identitas yang buruk kebalikan dari yang baik. Mereka bersikap ekslusif dan tidak mau mengenal yang lain, membatasi diri dalam berteman atau bekerja sama.

“Mungkin mereka tidak menganggu, namun cara pandang dan berpikirnya menjadi sempit. Melihat sesuatu selalu dari sudut pandangannya, kurang empati,” tuturnya.

Surya Paloh menegaskan, yang menjadi masalah adalah politik identitas buruk. Menurutnya, itu tidak hanya buruk saja, tetapi juga merusak.

“Praktik politik semacam ini tidak hanya picik, akan tetapi juga membodohi kita. Ia berdiri di atas kesadaran, bahwa identitasnya lah yang paling unggul dan kelompoknya yang paling benar,” kata Surya Paloh.

“Paham dan praktik politik semacam ini, selain tidak mencerdaskan kehidupan bangsa, juga membuat kita lupa seolah manusia adalah mahluk yang hanya memiliki satu identitas belaka,” imbuhnya.

» Baca berita terkait Surya PalohBaca juga tulisan terukur lainnya Rofiq Kurdi.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -