Tekanan Udara Buruk, Warga Banyuwangi Diminta Waspada

WAPADAI CUACA BURUK: BMKG mengingatkan warga Banyuwangi untuk mewaspadai cuaca buruk, khususnya di kawasan rawan bencana. | Foto: Ist

BANYUWANGI, Barometerjatim.com – Udara di barat laut Australia mengalami low pressure (tekanan rendah). Kondisi ini berimbas cuaca buruk di Banyuwangi dalam beberapa hari terakhir.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pun mengingatkan warga di Bumi Blambangan untuk waspada, khususnya kawasan rawan bencana.

Menurut Kepala BMKG Banyuwangi, Beni Gumintar, kondisi cuaca buruk ini karena anomali cuaca di barat laut Australia yang kemudian membawa angin dan awan hujan konvektif (hujan deras).

Angin dan awan ini melewati Bali, Banyuwangi dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Lantaran tekanan udara rendah, intensistas curah hujan di Banyuwangi menjadi tinggi, mencapai 124 milimeter dari kondisi normal di bawah 50 milimeter perhari.

“Depresi atau pusaran tekanan rendah ini berpengaruh pada sekitarnya. Sehingga berdampak pada hujan dengan intensitas yang sangat tinggi di Banyuwangi. Bahkan melebihi rata-rata, hingga mencapai 124 mili meter perhari,” terang Beni Gumintar melalui forecaster cuaca, Senin (13/2).

Selain itu, di Februari ini kondisinya masih musim penghujan. Dengan curah hujan tinggi bisa membawa dampak buruk. “Bisa banjir atau rumah roboh, tergantung kondisinya,” katanya.

Tekanan udara rendah ini, lanjut Beni, akan mulai berkurang antara tiga hingga empat hari puncak tekanan. Di Banyuwangi, puncak anomali cuaca terjadi pada Rabu (9/2) lalu.

“Saat itu intensitas hujan mencapai 124 milimeter perhari dan hari ini sudah memasuki hari kelima. Menurut pantauan kami, cuaca di Banyuwangi sudah mulai normal. Dari curah 124 milimeter, kini turun di kisaran 22 sampai 25 milimeter,” terang Beni.

Meski pengaruh tekanan udara di Banyuwangi sudah mulai berkurang, BMKG tetap mengimbau masyarakat agar waspada karena tidak menutup kemungkinan tekanan udara akan datang lagi.

“Bagaimana bisa tahu datangnya tekanan kembali? Masyarakat waspada saja. Jika turun hujan yang cukup lebat selama sehari penuh atau semalam penuh. Hindari berada di lokasi yang rawan bencana,” katanya.

Beni juga mengingatkan para nelayan untuk waspada. Sebab, anomali cuaca bisa berpengaruh pada naiknya ketinggian gelombang di perairan selatan Pulau Jawa. Kenaikan tinggi gelombang bisa mencapai 4 meter.

“Karena itu, kami juga mengimbau kepada masyarakat yang beraktivitas di laut, juga memperhatikan jika ada tanda-tanda anomali cuaca yang buruk,” tandas Beni.