Sidoarjo Memanas akibat Kedatangan Tokoh Wahabi

PENOLAKAN: Suasana di luar Masjid Shalahuddin yang memanas dan ricuh akibat massa menolak kehadiran dan ceramah Ustadz Khalid Basalamah.

SIDOARJO, Barometerjatim.com – Hampir seharian, Sabtu (4/3), Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, menjadi perhatian lantaran diwarnai ricuh antara GP PC Ansor (Banom Nahdlatul Ulama) dan jamaah pengajian di Masjid Shalahuddin, Puri Surya.

Bermula dari GP Ansor yang menolak kegiatan keagamaan bertema ‘Manajemen Rumah Tangga Islam’ di Masjid Sholahuddin, lantaran kegiatan tersebut mendatangkan pembicara Ustadz Khalid Basalamah, seorang tokoh Wahabi Indonesia.

Mereka menduga Khalid bakal menyampaikan kebencian terhadap umat yang tidak sepaham dengan alirannya. Hal itu dikhawatirkan bisa menimbulkan ujaran kebencian (hate speech) di tengah masyarakat bahkan memecah belah NKRI.

Meski demikian, panitia bersikeras ceramah tetap dilangsungkan. Akibatnya, ratusan massa yang sudah memadati area masjid tersulut emosi. Terlebih saat Khalid naik mimbar dan memberikan ceramah kondisi di luar masjid terjadi gesekan.

Kericuhan pun tak terelakan. Pemicunya ketika Zaini, ketua PAC GP Ansor Tulangan tiba-tiba dipukul seorang jamaah pengajian. Beruntung petugas kepolisian bertindak cepat dengan mengamankan pelaku pemukulan.

“Saya tadi kaget saat adanya pemukulan. Syukur yang bersangkutan langsung diamankan polisi dan tidak sampai menimbulkan bentrokan,” kata Ketua PC GP Ansor Sidoarjo, H Rizza Ali Faizin.

Menurut Rizza, sampai kapanpun pihaknya akan menolak gaya ceramah Khalid yang kata-katanya dinilai kadang ada ujaran kebencian terhadap umat yang tidak sepaham dengan aliran yang dianutnya.

• Baca: Pemkab Sidoarjo Bentuk Satgas Lingkungan Hidup

Setelah dilakukan kesepakatan antara pihak PC GP Ansor Sidoarjo dengan pengurus takmir yang difasilitasi Kapolresta Sidoarjo Kombespol Muh Anwar Nasir, ceramah Khalid urung diteruskan.

Khalid yang sudah berceramah sekitar 30 menit harus mengakhiri ceramahnya agar kondisi di lokasi berlangsung kondusif. Ceramah Khalid akhirnya diganti ustadz lainnya. Tidak lama setelah turun dari podium, Khalid meninggalkan lokasi pengajian dan mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian dan TNI.

“Ini demi pertimbangan keamanan dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” kata Kombespol Anwar.

Anwar membenarkan sebelumnya sudah ada penolakan melalui surat resmi dari GP Ansor Sidoarjo dan musyawarah di Polsek Gedangan. Hanya saja pihak polisi tidak bisa melarang seseorang datang ke pengajian.

“Namun melihat situasi di lapangan yang demikian, kami memfasilitasi untuk berunding agar tidak terjadi bentrokan antara kedua kubu yang berseberangan,” tuturnya.

Disinggung soal isi penolakan, mantan Kapolres Nganjuk itu tidak bersedia menjawab karena masalah substansi. “Polri hadir di sini untuk mengamankan jangan sampai ada bentrokan kelompok massa yang berbeda faham,” tandasnya.