Pengamat: NU di Jatim Jangan Sampai Dikelola ala Parpol

NU BUKA PARPOL: Surochim Abdussalam, NU di daerah jangan dikelola ala Parpol karena bisa merusak khitthah. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR
NU BUKA PARPOL: Surochim Abdussalam, NU di daerah jangan dikelola ala Parpol karena bisa merusak marwah dan khitthah. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengamat politik asal Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surochim Abdussalam berharap pengurus baru PWNU Jatim hasil Konferwil di Lirboyo, Kediri, tidak mengelola Ormas yang didirikan para ulama tersebut ala partai politik (Parpol).

“Jangan sampai NU di daerah dikelola ala Parpol, sekadar untuk alat meraih kekuasaan. Tentu itu akan menjauhkan respek umat dan akan kontraproduktif terhadap marwah NU yang menjadi benteng pertahanan kultural keumatan di level bawah,” paparnya, Senin (30/7).

Surochim menambahkan, NU di daerah harus lebih banyak mengurus kepentingan umat, dan tidak terlena pada kepentingan struktural elite, yang sejauh ini makin menjauhkan dari kebersamaan dengan grass-root Nahdliyin.

• Baca: Gerindra Berharap PWNU Jatim Jadi Pengayom Seluruh Parpol

Terlebih, marwah politik NU di Jatim sempat tereduksi lantaran sejumlah elite politik PWNU terlalu jauh melibatkan dari dalam dukung-mendukung di Pilgub Jatim 2018 lalu.

“NU memang harus dijaga khitthah-nya untuk bergerak di ranah kultural dan keumatan. Tetap harus menjauh dari godaan politik praktis yang sempit,” tandasnya.

Sementara terkait sinergi PWNU dengan Pemprov Jatim yang akan dipimpin Khofifah Indar Parawansa, Surochim menjelaskan, di era disruption saat ini yang butuh respons cepat, memang sinergi antara ulama-umaro menjadi penting. “Tetapi tetap terjaga kehormatan masing-masing,” katanya.

• Baca: Konferwil PWNU Jatim, Tak Lagi Dihadiri Pakde Karwo-Gus Ipul

Sebab, tambah Surochim, hubungan yang elegan antarkedua belah pihak akan mengantar NU di daerah bisa responsif terhadap tugas-tugas pemberdayaan umat di level bawah.

“Tugas itu kalau terjadi hubungan yang baik antara ulama dan umaro, akan membawa efek baik bagi kedua belah pihak,” kata pengamat yang juga peneliti di lembaga Surabaya Survey Center (SSC) tersebut.

Jadi, tandas Surochim, ke depan ulama dan ulama di jajaran NU harus intens membuka komunikasi agar percepatan tugas-tugas pemberdayaan umat bisa akseleratif. “Jangan sampai rengang dan seyogyanya meningkatkan komunikasi sinergis itu,” ucapnya.

• Baca: Duet Kiai Anwar-Kiai Mustamar Pimpin PWNU Jatim 2018-2023

Saat ditanya, bukankah ketua tanfidziyah hasil Konferwil di Lirboyo bagian dari elite PWNU yang tidak mendukung Khofifah di Pilgub, menurut Surochim hal itu menjadi tantangan karena mereka butuh sinergitas. “Kedua belah pihak harus menyadari akan kebutuhan itu,” tandasnya.

Surochim menilai wajar kalau ‘debu-debu’ rivalitas di Pilgub belum hilang sama sekali, apalagi melibatkan banyak kepentingan. “Tetapi yang harus dicatat, tugas akselerasi itu hanya bisa efektif jika kedua kekuatan sinergis, harmonis dan kolaboratif untuk keumatan,” tuntasnya.