Konferwil PWNU Jatim, Tak Lagi Dihadiri Pakde Karwo-Gus Ipul

SEPI PEJABAT: Pembukaan Konferwil PWNU Jatim di Lirboyo Kediri, Sabtu (28/7) malam sepi pejabat. | Foto: Barometerjatim.com/RETNA MAHYA
SEPI PEJABAT: Pembukaan Konferwil PWNU Jatim di Lirboyo Kediri, Sabtu (28/7) malam sepi pejabat. | Foto: Barometerjatim.com/RETNA MAHYA

KEDIRI, Barometerjatim.com – Jumat malam, 31 Mei 2013. Pembukaan Konferwil PWNU Jatim di Ponpes Bumi Shalawat, Sidoarjo, bak panggung bertabur birokrat dan politisi. Hadir di antaranya Gubernur Jatim, Soekarwo dan Wagub Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Di deretan politisi, tampak para ketua Parpol di Jatim. Mulai Abdul Halim Iskandar (PKB), Musyafak Noer (PPP), Soepriyanto (Gerindra) hingga Ketua DPP Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) Choirul Anam.

Hadir pula Saiful Ilah (bupati Sidoarjo),  Abdullah Azwar Anas (bupati Banyuwangi), Ali Masykur Musa (Ketum PP ISNU), serta Ketua Makhamah Konstitusi kala itu, Mahfud MD. Mereka duduk di barisan depan panggung, bersama para pengurus PWNU Jatim.

• Baca: Taat Asas, PWNU Jatim Gelar Konferwil Tepat Waktu

Tapi pemandangan bertaburan birokrat dan ketua Parpol lima tahun lalu, tak lagi terlihat saat pembukaan Konferwil PWNU Jatim di Ponpes Lirboyo, Kediri, Sabtu (28/7) malam.

Tak ada lagi Pakde Karwo — sapaan akrab Soekarwo — atau Gus Ipul, maupun birokrat lainnya. Begitu pula ketua Parpol, yang terlihat hanya Halim dan Musyafak.

“Konferensi ini sangat kendel banget. Saya enggak melihat di depan ada pejabat. Enggak ada gubernur, enggak ada Polda, kendel banget konferensi ini. Luar biasa ini.”

Selebihnya di kursi depan yang terlihat Sekjen PBNU Helmy Faisal Zaini, Ketua PBNU KH Robikin Emhas, mantan Mendikbud M Nuh, pengurus dari unsur syuriyah dan tanfidziyah PWNU Jatim, serta masyayikh dan ulama pengasuh pesantren.

Pemandangan sepi pejabat ini pun memicu seloroh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj yang membuka Konferwil.

• Baca: Pembukaan Konferwil, Kiai Mutawakkil Pamit Tak Maju Lagi

“Konferensi ini sangat kendel (berani) banget. Saya enggak melihat di depan ada pejabat. Enggak ada gubernur, enggak ada Polda, kendel banget konferensi ini. Luar biasa ini,” kata Kiai Said disambut aplaus hadirin.

“Bisa menjadi contoh ini. Rupanya enggak pakai proposal, rupanya. Alhamdulillah, kalau sudah enggak pakai proposal doanya mujarab. Dulu Kiai Mahrus Ali (Lirboyo) enggak pernah bikin proposal, setahu saya,” katanya sambil tersenyum.

Umat yang Cerdas

Dalam taushiyahnya, Kiai Said mengajak warga NU agar menjadi umat yang moderat alias cerdas. Sebab, Allah Swt melalui Al Qur’an memerintah Nabi Muhammad Saw agar membentuk organisasi dengan nama ummatan (umat).

“Umat seperti apa yang dikehendaki Al Qur’an, yakni ummatan wasathan. Mohon maaf para kiai, di Al Qur’an tidak ada kata-kata ummatan islamiyah atau ummatan Arabiyah. Yang ada ummatan wasathan. Umat yang moderat, modern,” jelasnya.

• Baca: Kiai Mustamar Lebih Dibutuhkan sebagai ‘Benteng Aswaja’

Untuk menjadi umat yang modern, lanjut Kiai Said, harus diperjuangan, tidak mungkin kalau hanya berpangku tangan. Agar perjuangan sukses, maka harus cerdas. Tawassuth harus cerdas atau dengan kata lain yang tidak tawassuth tidak cerdas.

“Kalau cuma ngomong shalat tidak wajib atau LGBT boleh, kan enggak perlu cerdas itu. Wong ngomong gitu aja kok,” katanya.

Tapi, tandas Kiai Said, yang cerdas itu acuannya agama. “Kita amalkan Al Qur’an dan hadits, kita pegang erat-erat, tapi akal juga harus kita difungsikan. Maka cerdas adalah gabungan antara Qur’an, hadis dan akal,” tegasnya.