Kritik Pakde Karwo, Pengamat: Gus Ipul Tak Paham soal Legacy

(Dari kiri) Gus Ipul, Suko Widodo dan Pakde Karwo. Jatim banjir legacy. | Foto: Barometerjatim.com/Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pasca kalah di Pilgub Jatim 2018, Wakil Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) terlihat rajin mengkritik tandemnya, Gubernur Soekarwo (Pakde Karwo).

Terbaru, Pakde Karwo disebutnya selama 10 tahun memimpin Jatim tidak memiliki legacy (warisan) yang bisa dijadikan penanda keberhasilan. Dia membandingkan dengan banyak kepala daerah, di antaranya gubernur Jatim sebelumnya, Imam Utomo yang mampu menghadirkan Jembatan Suramadu.

Sebaliknya, Gus Ipul menyebut dirinya tak bisa berbuat banyak untuk mewujudkan legacy karena posisinya hanya Wagub yang harus mengikuti apapun keputusan gubernur. Dia hanya bisa menyesali karena selama 10 tahun tidak bisa menghadirkan warisan yang bisa dijadikan ikon Jatim.

Gus Ipul pun berharap agar Gubernur Jatim terpilih 2019-2024, Khofifah Indar Parawansa mampu membuat legacy yang menjadi icon sebagai tanda keberhasilan dalam memimpin sebuah provinsi.

“Saya percaya gubernur baru bisa bikin legacy,” kata pejabat yang juga salah seorang ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut, seperti dikutip sejumlah media online, Senin (31/12/2018).

Namun cara pandang Gus Ipul tersebut malah menuai kritik dari Pengamat Politik asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Suko Widodo. “Legacy seperti apa? Kan Parasamya Purnakarya Nugraha itu legacy. Ngerti enggak?” katanya di Surabaya, Jumat (4/12).

Menurut Suko, justru 10 tahun di bawah kepemimpinan Pakde Karwo, Jatim banjir legacy. Sejumlah penghargaan dan prestasi mengalir, di antaranya keterbukaan informasi publik, provinsi dengan pelayanan publik yang bagus, provinsi layak anak, provinsi koperasi, serta puncaknya anugerah Parasamya Purnakarya Nugraha.

“Parasamya itu legacy tertinggi di dalam tata pembangunan. Parasamya itu kumpulan prestasi dari mulai ekonomi, sosial hingga politik. Belum lagi legacy dari kementerian dan swasta, kan cukup banyak. Menurut saya enggak paham soal legacy Gus Ipul,” katanya.

Jadi legacy tidak melulu berbentuk bangunan fisik? “Ya enggak! Legacy adalah pengakuan atas sesuatu hal. Kalau ada yang ngomong Jatim tidak punya legacy, ya salah! Jatim itu legacynya banyak sekali,” tegasnya.

Suko menandaskan, legacy itu yang membuat bukan diri sendiri, tetapi pengakuan dari pihak lain yang dilegalkan. Contohnya dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) atau Lee Kuan Yew Institute. “Kalau melegalkan diri sendiri kan lucu, diketawain orang,” katanya.

Jangan-jangan Proklamasi

Bahkan secara berseloroh, Suko menyebut jangan-jangan yang dimaksud Gus Ipul bukan legacy, tapi proklamasi. “Kalau proklamasi itu baru benar, memproklamirkan diri. Sama dengan narsis, pencitraan gitu lah. Kalau legacy itu harus dilakukan pihak lain yang punya otoritas, misalnya itu tadi Mendagri.”

Dalam statement-nya, selain mengkritik Pakde Karwo, Gus Ipul juga percaya Khofifah bisa membuat legacy. Apakah ini upaya Gus Ipul untuk ‘menghantam’ Pakde dengan meminjam tangan Khofifah?

“Saya tidak tahu!” tegas Suko. Tetapi, lanjutnya, “Tanpa harus ‘memukul’ Gus Ipul, saya kira Jatim sudah punya legacy tertinggi di dalam tata kelola pembangunan dan keberhasilan berupa Parasamya Purnakarya Nugraha.”

Sekali lagi, menurut Suko, Parasamya Purnakarya Nugraha merupakan legacy tertinggi di dalam pembangunan di Indonesia, karena tidak semua provinsi mendapatkannya. Apalagi Jatim meraihnya sampai tiga kali.•

» Baca Berita Terkait Pakde Karwo, Khofifah, Gus Ipul