Kisah Janda Sebatang Kara Naik Haji dengan Uang Jamuran

NAIK HAJI DENGAN UANG JAMURAN: Supinah, bertahun-tahun hidup superhemat akhirnya niat naik haji terwujud tahun ini. | Foto: Barometerjatim.com/NANTHA LINTANG
NAIK HAJI DENGAN UANG JAMURAN: Supinah, bertahun-tahun hidup superhemat akhirnya niat naik haji terwujud tahun ini. | Foto: Barometerjatim.com/NANTHA LINTANG

Ini kisah Supinah. Nenek asal Ponorogo yang hidup sebatang kara. Naik haji dengan uang jamuran.

JANDA tanpa anak. Hidupnya sebatang kara. Tapi perjuangan Supinah, nenek 76 tahun asal Ponorogo ini sungguh luar biasa. Puluhan tahun rela mengencangkan stagen — ikat pinggang kain panjang yang biasa dikenakan kaum perempuan di desa — demi mewujudkan mimpinya sejak muda untuk ibadah haji.

Sejak suaminya meninggal, puluhan tahun Supinah hidup superhemat. Setiap hari, hanya memasak beras dua gelas kecil dengan lauk dan sayuran ala kadarnya. Seperti sambel terong dan bayam. Lauk paling enak yang pernah dimakannya tahu dan tempe.

Sementara untuk hidup sehari-hari, sejak muda, nenek sebatang kara yang tinggal di Dukuh Krajan, Ngrupit, Kecamatan Jenangan ini, bekerja sebagai buruh tani dengan upah tak bisa dibilang besar.

• Baca: Buah Niat Suci, Pemulung asal Probolinggo Bisa Naik Haji

“Awalnya Rp 500, naik Rp 20 ribu sampai 30 ribu rupiah perhari,” kenangnya saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES) Sukolilo, Sabtu (28/7).

Karena sudah sejak muda bercita-cita pergi haji, uang yang didapatnya dari bekerja sebagai buruh tani dikumpulkan sedikit demi sedikit. “Uangnya saya simpan di bawah amben (ranjang kayu),” katanya.

Ketika terkumpul sekitar Rp 300 ribu, uang simpanannya itu dititipkan ke tetangga depan rumah yang dipercayanya. “Lama nyimpannya, uangnya sampai dimakan rayap dan jamuran,” sambungnya.

Rumah Layak Dibedah

Medio 2010, uang yang dititipkan ke tetangganya itu terkumpul lebih dari Rp 25 juta. Selanjutnya, dengan diantar tetangga dekatnya, Supinah daftar haji dan menjadi salah satu calon haji (Calhaj) pada 2018 ini.

Dia bergabung dengan kelompok terbang (kloter) 37 rombongan 8 asal Ponorogo.

Sementara menurut tetangga yang satu rombongan haji menceritakan, Supinah tinggal di rumah sangat sederhana. Tak ada barang berharga yang menghiasi gubuknya.

• Baca: Sempat Patah Kaki, Akhirnya Atik Berangkat ke Tanah Suci

“Kasihan, sepeda pun tak punya. Dinding dan lantai rumahnya banyak ngelupas dan pecah. Layak dapat bantuan. Semoga ada yang mau bedah rumah Mbah Supinah,” katanya.

Tak hanya itu, masih cerita tetangga Supinah, saat ini nenek sebatang kara tersebut juga sudah tidak lagi bekerja sebagai buruh tani.

“Ya karena usianya sudah lanjut, sudah hampir satu tahun ini sudah tidak bekerja sebagai buruh tani,” ungkapnya.

• Baca: Rekayasa Dokumen, 16 Calhaj Lumajang Batal ke Tanah Suci

Saat ini, sehari-harinya, Supinah bekerja ala kadarnya. Kadang, dua hari sekali memetik bunga turi dari pohon milikinya untuk dijual.

“Dari jualan bunga turi itu, bisa dapat uang Rp 5 ribu sampai 10 ribu rupiah. Uangnya bisa buat beli beras, garam untuk makan. Turinya juga kadang buat makan,” timpal Supinah.