Gus Hans: Rekom Nasdem Turun ke Machfud Arifin, Selamat!

PILKADA SURABAYA: Gus Hans, sebut rekom Nasdem turun ke Machfud Arifin. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PILKADA SURABAYA: Gus Hans, sebut rekom Nasdem turun ke Machfud Arifin. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Meski baru diserahkan Rabu (19/2/2020) siang ini, rekomendasi Partai Nasdem untuk bakal calon wali kota (Bacawali) Surabaya bisa dipastikan turun ke Machfud Arifin.

Hal itu disampaikan salah seorang peserta konvensi yang digelar DPD Partai Nasdem Surabaya, Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans. Dia bahkan sudah memberikan ucapan selamat untuk mantan Kapolda Jatim tersebut.

“Rekomendasi Nasdem turun ke Pak Machfud Arifin, selamat!” ucap kiai muda yang juga wakil ketua DPD Partai Golkar Jatim tersebut saat ditemui di Poskonya, Jalan Progo 5, Surabaya, Selasa (18/2/2010) malam.

Gus Hans bisa memastikan rekom turun ke Machfud, karena Selasa pagi sempat diminta Ketua DPW Partai Nasdem Jatim, Sri Sajekti “Jeanette” Sudjunadi untuk datang ke kantor Nasdem Jatim.

Bu Jeanette ingin menyampaikan secara hati-hati kepada saya, dan ingin tetap menjalin komunikasi yang baik, kan ini semua proses politik belum selesai, belum final sebenarnya,” kata Gus Hans.

“Dia menyampaikan bahwa bisa jadi besok (siang ini) Pak Machfud Arifin yang akan direkomendasikan,” tandas Jubir Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak di Pilgub Jatim 2019 tersebut.

Bukan kali ini saja, sejak awal bulan lalu Jeanette juga sudah menyampaikan ke Gus Hans terkait langkah politik yang akan diambil Nasdem di Pilwali Surabaya 2020.

“Sudah menyampaikan masukan-masukan dan juga resionalitas menurut Nasdem. Kita bisa menerima dari apa yang disampaikan, dan itu adalah hak dari partai untuk menentukannya,” ucapnya.

Hanya saja, lanjut Gus Hans, yang sedikit menjadi pertanyaan, ada tiga nama yang diusulkan DPD ke DPP — selain dirinya dua lainnya yakni Vinsensius Awey (kader Nasdem) dan Hariyanto (ketua Peradi Surabaya) — tapi yang keluar malah Machfud.

“(Nama) yang keluar tidak di antara tiga itu (usulan DPD ke DPP). Tapi ya itu sudah menjadi ranah internal Nasdem, kita hormati,” ujarnya.

Di sisi lain, pemahaman Gus Hans soal rekomendasi adalah surat yang ditandatangani ketua umum dan Sekjen DPP untuk pasangan calon (paslon), bukan hanya satu calon — Bacawali atau Bacawawali saja.

“Jadi biarkan proses ini berlanjut, dan menjadi bagian dari dinamika politik yang ada. Saya masih punya keyakinan bahwa ini belum final dalam proses politik yang ada di Surabaya,” tandasnya.

Apakah belum final tersebut, artinya Gus Hans masih berharap untuk diusung sebagai Bacawawali mendampingi Machfud?

“Saya tidak berharap apapun, karena posisi itu kan tergantung partai saya, bukan memandatkan saya di posisi mana. Sehingga saya belum tertarik untuk bicara posisi yang lain, L1-nya siapa, L2-nya siapa,” jelasnya.

Apalagi, tegasnya, peta politik di Pilwali Surabaya masih sangat cair. “Biarkan saja Nasdem memutuskan ini, tadi saya hanya menyampaikan yurisprudensi politik,” katanya.

Dia mencontohkan di Pilbup Teranggalek 2015. Saat itu PDIP tidak di posisi mendukung Emil Dardak-Nur Arifin, dan sudah deklarasi ke calon yang lain. Tapi sekitar seminggu jelang pendaftaran, sikap politik PDIP berubah.

Begitu pula di Pilbup Banyuwangi 2015, awalnya PKB tidak mendukung Azwar Anas­-Yusuf Widyatmoko, dan memilih deklarasi ke paslon lain. “Tapi dalam last minute, selisih beberapa hari pindah ke Anas,” ujarnya.

Sehingga, lanjut Gus Hans, yurisprudensi itu bisa menjadi pegangan bahwa proses politik Pilwali Surabaya 2020 masih berjalan dinamis.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya