Eks Anggota PDIP Dimakamkan dengan Uang Hasil Patungan

BECAK KENANGAN: Supriyadi menunjukkan becak yang sehari-hari dipakai Agus Hariyono untuk mencari nafkah. | Foto: Barometerjatim.com/BAYAN AR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Lantaran tak diterima keluarganya, eks anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Surabaya, Muh Agus Hariyono (51), warga Putro Agung III/38, Kecamatan Tambaksari akhirnya dimakamkan warga dengan uang hasil patungan.

“Untuk mengurus jenazahnya, warga narik iuran untuk biaya pemakaman. Saya nggak tahu persis jumlah uang itu berapa,” tutur Ketua RT III/RW III Putro Agung, Supriyadi (47) kepada wartawan di rumahnya, Selasa (18/7) sore.

“Uang itu saya serahkan ke Yuni, salah satu warga sekitar, untuk biaya makam, bayar mudin, dan sisanya ada Rp 680 ribu. Kemudian saya minta Rp 50 ribu untuk bayar lampu penerangan.”

• Baca: Eks Anggota PDIP Ini Ditolak Keluarganya hingga Akhir Hayat

Selain uang santunan warga, pihak Polsek Tambaksari juga menyumbang sejumlah uang untuk biaya pemakaman. “Sisa uangnya digunakan untuk selamatan selama tiga hari,” ungkap Supriyadi yang juga takmir Masjid Solihin, Tambak Segaran.

“Selamatannya kita jadikan satu, mulai tujuh harinya hingga 1.000 harinya. Karena tidak ada keluarga yang mau ngurusi, selamatannya kita taruh di masjid.”

Bapak dua anak ini juga mengungkap, selama ini, Agus hidup sebatang kara dan tidur di atas becak kesayangannya. “Ibunya menikah tiga kali. Dengan suami pertama punya anak satu ya Pak Agus ini. Kemudian dengan suami kedua juga punya anak satu tinggal di Malang. Dengan suami ketiga, Pak Darto, tidak punya anak,” cerita Supriyadi.

• Baca: Parpol ‘Berlomba’ Sumbang Hadiah di NU Jatim Award

Agus sendiri pernah menikah dan tinggal di daerah Setro. Tapi seingat warga, Agus tak memiliki anak. “Dulu sebelum ibunya meninggal, dia tinggal di sini, dan masih tercatat sebagai warga saya. Kemudian saat ibunya meninggal, dia keluar dari rumahnya dan tinggal di rumah istrinya di Setro.”

Kemudian, entah cerai atau pisah ranjang dengan istrinya, sekitar satu tahun lebih, Agus tinggal di atas becaknya. “Kita tidak tahu ya, entah cerai atau pisah ranjang, sekitar satu tahun dia tidur di atas becaknya,” ungkap pria yang sudah enam tahun kontrak di rumah Agus, Jalan Putro Agung III/38.