Demokrat Tak Gesit! Wajar Andai Pakde Karwo Pilih Jokowi

BELUM TENTUKAN SIKAP: Soekarwo (kiri) bersama KH Ma'ruf Amin saat menghadiri acara Muslimat NU. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
BELUM TENTUKAN SIKAP: Soekarwo (kiri) bersama KH Ma’ruf Amin saat menghadiri acara Muslimat NU. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.com – Langkah Ketua DPD Partai Demokrat Jatim, Soekarwo yang hingga kini belum terlihat mendukung Prabowo Subianto dinilai sebagai sikap wajar kalau melihat konfigurasi politik di Jawa Timur.

“Fakta politik Jatim yang dijadikan basis pertimbangan arah dukungan itu masuk akal. DPP (Partai Demokrat) tidak boleh emosional menanggapi aspirasi Pakde (Karwo) dan DPD Jatim,” kata Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surochim Abdussalam, Senin (13/8).

Apalagi DPP Demokrat tengah menghadapi situasi dimana komunikasi dengan PDIP macet, sehingga tidak memungkinkan bergabung ke Jokowi. Karena itu, tandas Surochim, Pakde Karwo lebih elegan untuk melihat kepentingan koalisi di level nasional yang punya pilihan terbatas.

• Baca: Nasdem Siapkan Karpet Merah untuk Pakde Karwo

Menurut Surochim, semua ini didasari langkah Demokrat yang kurang gesit dalam jejaring koalisi dan terlalu wait and see sehingga posisinya tidak lagi menjadi penentu. Dalam dinamika koalisi, Demokrat dinilainya kurang agresif dalam membangun poros koalisi.

“Hal ini bisa jadi karena Demokrat terlalu terbebani AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) dalam tarik ulur koalisi,” sambung peneliti Surabaya Survey Center (SSC) itu.

“Sementinya AHY tidak harus jadi faktor bargaining dalam membangun koalisi. Demokrat semestinya harus bermain lincah, sehingga lebih leluasa membangun komunikasi dengan berbagai partai.”

Politisinya Terlalu Baper

Dalam posisi sekarang, menurut Surochim, Demokrat tidak ada lagi pilihan. Hanya ada satu pilihan saja yang tersedia, ditambah beban penempatan AHY, membuat Demokrat semakin terkunci dan sulit membuka komunikasi antarpartai.

“Ditambah politisi Demokrat yang terlalu baper (terbawa perasaan) dan tidak elegan, membuat Demokrat ter-barier pada komunikasi dengan partai lainnya,” tegas Surochim.

Namun lanjutnya, ada perkembangan positif menyangkut fatsun politik Demokrat yang mencoba untukk tidak mem-break dan lari dari koalisi. “Ada tren tulus untuk ikut berkoalisi kembali,” ungkap dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya UTM tersebut.

• Baca: Harapan Pupus! Soekarwo No Comment soal Pilihan Demokrat

Pesan Pakde Karwo ini, kata Surochim, seharusnya menjadi bahan evaluasi DPP agar tidak emosional menanggapi aspirasi DPD Demokrat Jatim.

“Pakde akan elegan jika tetap memainkan peran seperti saat Pilgub kemarin. Memainkan seni bermain elegan dengan membangun wacana Demokrat kultural dan struktural, agar lebih leluasa bergerak dan tidak tersandera,” pungkasnya.