Selasa, 06 Desember 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Dari Atas Kapal Pinisi, ABK Beragam Suku Peringati HUT RI

Berita Terkait

BERAGAM SUKU: ABK dari berbagai suku melangsungkan upacara HUT ke-72 RI dari atas Kapal Pninisi di Pelabuhan Rakyat, Tanjung Perak Surabaya, Kamis (17/8). | Foto: Barometerjatim/BAYARN AP
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Saat bendera merah putih dikibarkan di atas tiang posisi oleh beberapa Anak Buah Kapal (ABK), semua yang berada di dermaga dan di atas kapal-kapal yang tengah sandar, tertuju pada satu arah. Mata mereka terpusat pada Kapal Pinisi yang dijadikan lokasi pengibaran bendera.

Di antara para ABK ada yang hormat dari atas dek kapal, warung kopi di dermaga, serta truk-truk di sepanjang dermaga. Dengan posisi tangan memberi hormat pada merah putih, secara serentak mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Ya, meski dilakukan di atas kapal, upacara HUT ke-72 RI yang digelar puluhan ABK di Pelabuhan Rakyat, Tanjung Perak Surabaya berjalan khidmat. Merah putih pun berkibar gagah di atas Kapal Pinisi yang tengah sandar, Kamis (17/8).

• Baca: Anak Amrozi Gemetar Kibarkan Bendera Merah Putih

Ketua Masyarakat Maritim Jatim, Lukman Ladjoni mengatakan, makna dari upacara di atas kapal rakyat ini bahwa orang-orang maritim dari berbagai suku dan daerah di Indonesia yang tengah sandar di Surabaya masih eksis.

“Selain untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI yang 72, kami juga ingin menunjukkan bahwa orang-orang maritim yang kapalnya sandar di Pelabuhan Rakyat ini masih eksis, meskipun tidak lagi diperhatikan pemerintah,” kata Lukman.

“Para ABK ini berasal dari berbagai macam suku. Ada yang menunjukkan sifat kedaerahannya seperti dari Bugis yang memakai songkok daerah. Ada dari Madura yang memakai sarung dislempangkan ke badan.”

• Baca: Mensos Tampil Anggun dengan Busana Adat Sumenep

Upacara yang dilakukan secara spontan ini, lanjut Lukman, berlangsung begitu natural, apa adanya. Karena tanpa persiapan, para ABK yang mengikuti upacara pun hanya mengenakan pakaian apa adanya.

Mereka, ada yang hanya mengenakan celana pendek seperti saat sedang bekerja. Ada juga yang sekadar memakai sarung, tanpa mengenakan sandal.

“Nenek moyang orang-orang maritim inilah yang dulu pernah jaya mempersatukan nusantara melalui jalur laut. Ingat semboyan kita: Nenek moyangku seorang pelaut,” tandas Lukman.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -