Cerita Keagungan ‘Pesantren Prostitusi’

MEMILIH JALAN SURGA: Sebelum lokalisasi Bangunsari ditutup, 90 persen para santri anak-anak mucikari dan PSK.

Raudlotul Khoir dibangun di tengah lokalisasi untuk memutus ‘mata rantai’ prostitusi. Kelak, agar anak-anak PSK dan mucikari tidak mewarisi perilaku yang dimurkahi Ilahi.

LANTUNAN Surat Al ‘Alaq terdengar nyaring dari ratusan bocah santri: Iqro’ bismirobbika al-ladzi kholaq.. Kholaqol insaana min ‘alaq.. Sore itu, Rabu, 11 Desember, di lantai dua Pesantren Raudlotul Khoir, Jalan Alun-alun Bangunsari IV-7A Surabaya.

Sang pengasuh, Drs KH Khoiron Syu’aib, terlihat serius mengamati satu persatu anak didiknya. Kadang duduk, sesekali berdiri. Sementara di luar ruangan, sambil lesehan di lantai, ibu-ibu pengantar ikut mendengarkan kepintaran sang buah hati dengan raut muka bangga. Beberapa di antaranya menghabiskan waktu menunggu dengan membaca Al Qur’an.

Suasana ‘surgawi’ itu berlangsung tiga kali sehari: pagi, sore dan malam. Kiai Khoiron, karena kesibukan, tak selalu bisa mengawasi. Untuk rutinitas sehari-hari ada 13 ustadzah yang membimbing, mengajari 300-an santri dengan sabar dan ikhlas.

“Dulu, sebelum lokalisasi (Bangunsari) ditutup, 90 persen mereka itu anak-anak mucikari dan PSK. Sekarang campur. Tapi karena wilayah ini basic-nya lokalisasi, ya masih berhubungan,” kata pria yang dijuluki Kiai Prostitusi itu.

“Kalau tidak bapaknya, ya kakeknya dulu mucikari. Tapi sudahlah, saya nggak mau mengungkit. Alhamdulillah, yang penting sekarang semuanya ngaji.”

Raudlotul Khoir memang tak bisa dilepaskan dari cerita keberadaan hingga pembebasan lokalisasi Bangunsari. 26 tahun lalu, tepatnya 1990, pesantren ini dibangun selain sebagai tempat pertaubatan dan benteng dakwah, juga untuk memutus ‘mata rantai’ agar anak-anak PSK maupun mucikari tidak mewarisi.

***

Semua berawal pada 1982, saat Kiai Khoiron pulang nyantri dari Pesantren Tebuireng, Jombang, sebelum melanjutkan pendidikan di IAIN Sunan Ampel Surabaya (sekarang UINSA/Universitas Islam Negeri Sunan Ampel).

“10 tahun saya bergaul dengan orang baik di pesantren, dengan santri, ustadz hingga kiai. Tapi setelah pulang, kembali ke kampung sendiri, saya merasa hidup ini black-white. Inilah yang membuat saya harus bergerak, dan akhirnya berdakwah di lokalisasi,” kenangnya.

Dia memulai dakwah dengan merayu ketua RW. Dalam pandangannya, selain PSK, mucikari, tokoh serta mereka yang menggantungkan ekonomi di lokalisasi, ketua RW memiliki power paling menonjol. Kebetulan saat itu Kiai Khoiron mengangkat tema prostitusi untuk meraih gelar BA (sarjana muda).

“Pak RW paling punya power, paling ditakuti, dia walikota kecil di lokalisasi,” katanya.

Ketua RW memang doyan maksiat, tapi untuk sementara dibiarkan demi memuluskan strategi dakwah. Lebih-lebih, dalam pendekatan yang dilakukan, sang walikota kecil juga punya keinginan untuk menjadi orang baik.

Deal-nya: Kiai Khoiron dipersilakan menggelar pengajian rutin setiap Jumat sore, mulai pukul 15.30-17.00 yang difasilitasi ketua RW. Awalnya di Gedung Bioskop Srikandi, lama-lama bergeser ke Balai RW. Pengajian terus berjalan dan mulai melibatkan ‘penjuang pembebasan lokalisasi’ lainnya.

“Saya berusaha jangan sampai pengajian kosong. Sehingga saya sering menjadi ‘tumbal’, menyesuaikan dengan jadwal sendiri dan kalau pengajian kosong saya selalu masuk,” tutur wakil ketua Ikatan Da’i Area Lokalisasi Majelis Ulama Indonesia (Idial MUI) Jatim itu.

PENGUATAN AGAMA: pengajian rutin ini harus ada penguatan lewat lembaga pendidikan agama dan didirikanlah Raudlotul Khoir.

Kiai Khoiron dituntut istiqomah karena kedatangan PSK dan mucikari sedikit dipaksa. Mereka dikasih kartu oleh ketua RW untuk datang. “Yang menggiring datang itu bukan saya, tapi Pak RW. Kalau saya yang mengundang terlalu banyak musuh nanti. Nah, saya datang gagah saja seperti diundang, padahal saya yang nyetting. Itu yang bikin kita dan ketua RW saling understanding.”

Sampai awal 1990, Kiai Khoiron merasa pengajian rutin ini harus ada penguatan lewat lembaga pendidikan agama, dan didirikanlah Raudlotul Khoir.

Harapannya: daerah hitam ini lambat laun menjadi kelabu, semi putih, dan akhirnya putih. Bisa dibayangkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi. Saat itu, satu RT (satu gang) paling hanya lima rumah yang difungsikan sebagai rumah tangga, selebihnya wisma.

“Dakwah harus dimulai dari lingkungan sendiri, penguatannya dengan anak mengaji. Dakwah tak hanya mengajak untuk melakukan kebaikan, juga meski konsisten dengan memberikan pengajaran,” ujarnya.

Tak hanya itu, “Kami ingin membuktikan kepada masyarakat, apapun dosa yang dilakukan manusia itu akan diampuni Allah selama masih ada upaya untuk taubat,” katanya.

“Jadi masyarakat jangan terjebak: Saya sudah dosa maka akan saya lakukan sampai mati. Jangan! Selama masih ada nafas, ada kehidupan, marilah kita berubah. Saya berusaha memberikan agar mainset mereka berubah, itu saja.”

Pesantren dengan segala semangatnya sudah terbangun, dia dan istrinya lalu mulai mengajar mengaji. Sebenarnya, di mushala dan masjid sekitar juga ada tempat mengaji, tapi mungkin karena orang tuanya masih mucikari jadi mau masuk masjid saja malu. Mereka pun berbondong-bondong memasukkan anaknya ke Raudlatul Khoir.

Saat berdiri masih TPA saja. Menyusul diniyah, lalu majelis taklim untuk ibunya. Mereka ini campur, ada mucikari dan PSK yang dibina istri Kiai Khoiron. Hingga kini santri TPA yang mengaji 300-an anak. Untuk ibu-ibu yang mengaji harian sekitar 50, khusus Kamis selain pengajian juga ada shalat tasbih. Jumlahnya lebih banyak, 120-an orang.

“Sekarang sudah ada asrama, tapi belum ada santri yang menetap. Ini kan daerah pasca penutupan ya, jadi kalau mau mengantarkan anaknya mondok di sini masih gimana gitulah. Tapi jumlah yang mengaji ya bisa sampeyan lihat sendiri,” kata Ketua MUI Kecamatan Krembangan serta Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Surabaya itu.

***

Istiqomah. Itulah modal Kiai Khoiron dalam memperjuangan pembebasan prostitusi di Bangunsari, serta menjadikan pesantrennya semakin berkembang. “Saya berusaha mengistiqomakan diri sendiri, karena guru-guru mengaji di sini tidak punya kebanggaan seperti guru-guru di lembaga pendidikan besar,” katanya.

Dia selalu meyakinkan, mengajar di Raudlotul Khoir perlu keikhlasan tinggi. Nanti, kalau sudah ada pekerjaan lain, dipersilakan keluar. “Tapi selama di sini ikhlaskan saja, Allah tidak tidur. Allah pasti tahu apa yang mereka dilakukan di sini. Sehingga meski honornya kecil, ya alhamdulillah.”

Sebenarnya, santri ditarik iuran Rp 10 ribu per bulan dari semula Rp 1.000 dan sudah berlangsung bertahun-tahun. Sudah menjadi cerita klasik, tidak 100 persen santri dalam membayar iuran. Problemnya pun beragam: ada yang memang tidak mampu, terlupakan hingga memudahkan.

“Tapi tidak apa-apa, asal istiqomah dan fokus ada saja rezeki dari yang lain. Kuncinya di para guru itu, jangan sampai yang mengaji banyak tapi gurunya tidak ada,” tegasnya.

Setelah Bangunsari menjadi wilayah bebas prostitusi, Kiai Khoiron berharap anak-anak serta eks penguni lokalisasi dibina dengan baik. Lebih-lebih Bangunsari sebagai pilot project penutupan lokalisasi di Jawa Timur.

“Ini tanggung jawab kita bersama untuk membina. Mulai Idial, pemerintah maupun tokoh agama lainnya,” tuntasnya.• mdm