Senin, 15 Agustus 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Catatan Gus Hans dari Makkah: Haji dan Amalan Cinta Tetangga

Berita Terkait

MAKNAI IBADAH HAJI: Gus Hans, ibadah haji jangan jadi sarana mencari status “umat komplementer”. | Foto: Gus Hans/DOK
MAKNAI IBADAH HAJI: Gus Hans, ibadah haji jangan jadi sarana mencari status “umat komplementer”. | Foto: Gus Hans/DOK
- Advertisement -

HAJI adalah amalan “komplementer” dari empat rukun Islam lainnya. Jika empat rukun Islam lain memiliki status kewajiban yang absolut untuk menjalankannya, maka untuk haji ada prasyarat yang disematkan di belakangnya. Haji hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu.

Sekalipun demikian, ada fenomena yang menarik terkait dengan pemenuhan kewajiban haji ini. Umat Islam tampak lebih senang dan merasa lebih “heroik” jika bisa melakukan ibadah komplementer ini daripada menjalankan rukun-rukun Islam yang lain.

Kita hampir tidak pernah melihat ada kelompok bimbingan ibadah shalat yang rajin mengadakan pertemuan bimbingan shalat di hotel-hotel atau di restoran-restoran, seperti bimbingan manasik haji yang dilakukan kelompok bimbingan ibadah haji di berbagai kota dan kabupaten.

Kita nyaris tidak pernah melihat protesnya orang yang gagal mengeluarkan zakat, tapi kita heboh mendengar berita tentang kegagalan para calon jamaah haji yang gagal karena ulah travel agent dan makelar visa. Haji memang komplementer, tapi mungkin justru karena itu banyak orang yang mengejar dan merebutkannya.

Tidak ada yang salah dengan orang yang berusaha sekuat tenaga melaksanakan ibadah haji. Tapi kita perlu mengingatkan diri agar pelaksanaan ibadah haji tidak menjadi bagian dari upaya untuk sekadar mengejar status sosial. Kalau tidak hati-hati, ibadah komplementer ini bisa hanya menjadi sarana untuk mencari status “umat komplementer” alias extra ordinary person.

Mengapa demikian? Satu satunya ibadah yang bisa membuat orang untuk mencetak ulang kartu nama adalah ibadah haji. Tradisi penyebutan gelar haji — biasa ditulis dengan huruf H — di depan nama orang yang telah melaksanakan ibadah haji telah menjadi hal yang lumrah bahkan tren di Indonesia.

Bahkan, salah satu penanda budaya dari Islam Indonesia adalah pemanggilan Pak Haji atau Bu Hajah bagi orang yang telah menunaikan ibadah haji, yang ini diiringi naiknya status sosial orang yang gelar haji tersebut.

Belum puas dengan sekadar penyebutan haji di depan namanya, orang dengan gelar H ini bisa terus mencari kepuasan baru dengan status hajinya. Sesuai dengan teori kepuasan yang pemenuhannya bisa tak terbatas, muncul status sosial baru yang bisa sepenuhnya bersifat “ekonomis”.

Ini misalnya tercermin dari pertanyaan, “Sudah berapa kali haji?” Nah, jika seseorang yang beribadah haji terjebak di sini, kita perlu mempertanyakan, “Untuk apa haji berulang-ulang? Bukankah Allah hanya mewajibkan haji sekali?” Saat ini, antrean haji di Indonesia telah mencapai masa tunggu 30 tahun lebih. Pun tidak sedikit rupiah yang diperlukan untuk menjalankan prosesi ini.

Saya tidak sanggup membayangkan bagaimana perasan Kanjeng Nabi yang diziarahi oleh para jamaah berduit yang telah berkali-kali berziarah ke makamnya.

Mereka mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk memuliakan dan mendapatkan syafaatnya, tapi pada saat yang sama, mereka lalai banwa Kanjeng Nabi mengajarkan kepadanya tentang betapa pentingnya memuliakan sanak saudaranya, tetangganya, fakir miskin, dan yatim piatu di sekitarnya.

Suatu hari, saya bertemu dengan seseorang yang menceritakan bahwa dia telah belasan kali naik haji. Umrah pun tak terhitung jumlahnya. Baginya, pergi ke Tanah Haram itu seperti rindu yang sudah menjadi “candu”.

Saya sama sekali tak menuduhnya bahwa ia sedang bergagah-gagahan di depan saya. Saya hanya berdoa, “Ya Allah, jika Kau memberiku rezeki yang melimpah, mohon jangan beri candu ini kepadaku sebelum memastikan saudaraku sudah berkecukupan dan tetanggaku tak kelaparan”.

Devisa Arab Saudi

Menurut data Kemenag, jumlah peziarah umrah pada 2014-2012 berjumlah 649.000. Jumlah ini naik signifikan pada 2017-2018 menjadi 1.005.336. Jika diambil rata-rata para pelaku ziarah umrah ini mengeluarkan dana 25 juta rupiah saja, maka terkumpul dana sebesar Rp 25.133.400.000.000.

Dana ini sebagian besar terserap menjadi devisa negara Saudi Arabia. Jangan heran dan sudah semestinya jika Kerajaan Arab Saudi membantu negara kita dalam paket-aket bantuan tertentu. Jika 10 persen saja dari angka ini bisa dialokasikan untuk kesejahteraan tetangga masing masing, akan terkumpul dana Rp 2.513.340.000.000.

Dari dana ini, bayangkan, berapa ribu anak tetangga putus sekolah yang bisa kita selamatkan; Berapa ribu fakir miskin tentangga yang bisa kita berdayakan.

Mungkin perlu dipikirkan kembali regulasi pembatasan, bukan hanya haji, tetapi juga umrah. Misalnya, umrah dibatasi lima tahun sekali untuk setiap orang, atau 10 persen dari biaya umrah didonasikan ke RT atau RW masing-masing untuk dijadikan dana sosial berbasis tetangga.

Mari kita jadikan solidaritas sosial kepada keluarga dan tetangga-tengga kita sebagai prioritas sebelum tergoda dengan poster-poster menarik dari biro perjalanan haji dan umrah.

Memang, acap kali sulit kita menghindar dari poster-poster indah yang dibuat para profesional poster maker yang beredar di beranda gadget kita atau yang terpampang di sudut-sudut jalan.

Jika kita sudah memastikan bahwa orang-orang yang seharunya kita prioritaskan untuk dibantu sudah bisa mandiri dan dalam keadaan tidak berkekurangan absolut, bolehlah kita berpikir untuk bisa berziarah lagi ke Tanah Suci dan makam Kanjeng Nabi.

Dalam keadaan seperti ini, kita bisa tanpa sungkan berucap salam ke beliau: Assalamu’alaika ya Rasulullah, aku sudah menjalankan perintah dan teladanmu untuk memuliakan sanak saudaraku dan para tetanggaku, kini aku sowan dan memohon syafaatmu.

Mari jadikan haji ini sebagai ibadah penyempurna Islam kita dengan telah memastikan bahwa kita tidak menuhankan apa pun dan siapa pun selain Allah. Kita menjalankan shalat bukan karena dilihat calon mertua, misalnya. Kita menjalankan berpuasa dan membatinkannya sehingga bisa merasakan susahnya orang yang kelaparan, dan berzakat seusai yang disyariatkan.

Untuk para jamaah haji, semoga hajinya dimabrurkan. Jangan lupa, ketika sudah pulang untuk berbagi kebahagiaan kepada sanak saudra walau dengan seteguk air zamzam.

Jika ingin menjalankan ibadah umrah di lain waktu, sapa dahulu para sanak saudara terdekat dan tengok rumah tetangga yang mungkin gentengnya bocor; Pastikan tidak ada anak tetangga yang ijazahnya ditahan oleh sekolah karena tidak bisa membayar SPP; Tengoklah ke sekeliling apa masih ada janda yang perlu bantuan.

Mari kita renungi satu hadits nabi:

Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah Saw beliau bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”

Mari mulai saat ini kita amalkan harta kita lebih kepada sanak saudara dan tetangga kita. Kita sudah “beramal devisa” untuk negara di Timur Tengah sana melalu ziarah, saatnya kita menjalankan amalan cinta tetangga.

*KH Zahrul Azhar Asumta SIP, M.Kes (Gus Hans) adalah Wakil Rektor Unipdu Jombang; Petugas Haji Indonesia di Arab Saudi

Disclaimer: Tulisan opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi Barometerjatim.com. Rubrik Opini terbuka untuk umum. Naskah dikirim ke [email protected] Redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengubah substansinya.

» Baca berita terkait Haji. Baca juga tulisan terukur Rofiq Kurdi.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -