Senin, 15 Agustus 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Catatan Gus Hans dari Makkah: Keramahan yang Pernah Hilang di Balik Jabal Rahmah

Berita Terkait

JEDDAH KIAN RAMAH: Kesaksian Gus Hans, Jeddah Arab Saudi kian ramah bagi tamu-tamu Allah. | Foto: Gus Hans/DOK
JEDDAH KIAN RAMAH: Kesaksian Gus Hans, Jeddah Arab Saudi kian ramah bagi tamu-tamu Allah. | Foto: Gus Hans/DOK
- Advertisement -

SALAH satu ‘ritual ekstra’ para peziarah ke Tanah Suci adalah ziarah ke Jabal Rahmah yang lokasinya di atas bukit ditandai dengan sebuah tugu.

Dinamakan demikian, karena konon tempat ini adalah titik bertemuanya Nabi Adam dan Hawa setelah keduanya terusir dari surga. Entahlah! Yang jelas, lokasi ini banyak dikunjungi karena masuk wilayah Arafah yang menjadi keharusan bagi jamaah haji untuk wukuf di sini karena “Haji adalah Wukuf di Arafah”.

Istilah “rahmah” yang kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “ramah” memiliki arti yang kurang lebih sama dengan pengertian kita terhadap kata ramah itu sendiri.

Ibnu Faris menyebutkan, bahwa kata rahmah yang terdiri dari fonem ra, ha, dan mim pada dasarnya bermakna kelembutan hat, belas kasih, dan kehalusan.

“Tugu rahmah” ini memang pas berada di tanah Arab yang karakter masyarakatnya cenderung keras. Bayangkan saja, bagaimana jadinya Bangsa Arab jika Nabi Muhammad yang lemah lembut tidak diturunkan Allah di negeri tandus ini?

Tipikal keras yang dimiliki sebagian orang Arab ini, apakah karena kondisi alamnya yang keras dan tandus ataukah karena pola konsumsi yang lebih banyak mengkonsumsi daging daripada sayuran? Wallahu’alam.

“Jangan belajar keramahan (hospitality) di Negeri Arab!” Itu ada dalam benak saya sejak ketika pertama kali menginjakkan kaki di negeri Arab hingga setidaknya sampai empat tahun yang lalu.

Kesan yang tampak adalah wajah-wajah “tidak butuh tamu”, bahkan oleh para petugas imigrasi di bandara yang bertugas menyambut tamu mancanegara di pintu masuk ke sebuah negara.

Kondisi bandara terkesan asal-asalan. Jauh dari gambaran kemewahan yang sering dipamerkan keluarga Kerajaan Arab Saudi. Situasi bandara itu segera memunculkan kesan di benak kita bahwa mereka tidak butuh kita, toh kita juga pasti datang karena ada haramain.

Mereka mungkin lupa bahwa para tamu Allah pun berhak berandai-andai, “Ah, andaikan negerimu tak ada haramain, tak sudi rasanya aku ke sini”.

Persis Angkot di Indonesia

Di saat saya ke Bandara Jeddah sendiri pakai taksi dari Makkah, saya salah masuk terminal. Jangan bayangkan ada shuttle bus atau skytrain untuk menghubungkan antarterminal yang terpisah pagar.

Saya harus mencari taksi lagi menuju terminal satunya yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer, tapi harus keluar bandara yang jaraknya mencapai lima sampai enam kilo meter dengan tarif taksi penawaran pertama mencapai 200 SAR.

Untunglah ada taksi liar yang bisa diajak bernegosiasi dan akhirnya dapat seperampat dari harga umum. Setelah naik taksi dengan mobil yang ber-sunroof, di tengah jalan si sopir berhenti dan memasukkan penumpang lagi. Gubrak! Persis angkot di Indonesia. Saya tak bisa berkata-kata, sungguh negeri yang tidak mengenal hospitality.

Pemandangan ini jauh berbeda dengan di Dubai atau Qatar. Mereka sepertinya telah belajar banyak tentang hospitality dan tourism. Mereka sadar betul bahwa ketersediaan minyak yang menjadi sumber devisa negera mereka pasti ada batasnya.

Namun jasa melayani hati manusia tak berbatas selama matahari masih menyinari bumi. Pariwisata adalah tentang melayani para pengunjung dengan keramahan yang mengesankan. Pariwisata sudah menjadi devisa utama bagi berbagai negara.

Dunia pariwisata tidak akan bisa lepas dari jiwa rahmah, kasih sayang, dan lemah lembut. Hospitality atau keramahan adalah jantung dari industri pariwisata, tak peduli apakah yang dijual agama maupun nonagama.

Bukankah nabi pun memerintahkan kita untuk menghormati tamu? Tapi yang selalu mengherankan kita adalah mengapa yang lebih banyak menerapkan anjuran-anjuran nabi itu justru orang lain?

Jeddah Kian Ramah

TITIK BERTEMU: Jabal Rahmah, konon di sinilah tempat bertemuanya Nabi Adam dan Hawa usai terusir dari surga. | Foto: Umma/IST
TITIK BERTEMU: Jabal Rahmah, konon di sinilah tempat bertemuanya Nabi Adam dan Hawa usai terusir dari surga. | Foto: Umma/IST

Di 2022 ini saya berkesempatan lagi berziarah ke Tanah Suci. Setelah empat  tahun  berselang, tampak dari jendela pesawat tidak ada perubahan yang berarti dari sisi pembangunan fisik. Hanya sedikit facelift di sana-sini.

Saya membayangkan akan mendapatkan pengalaman seperti sebelum-sebelumnya. Saya sudah menyiapkan mental untuk menemui situasi yang kurang welcome dalam kondisi tubuh yang masih lelah karena perjalanan jauh.

Namun bayangan buruk dan kekhawatiran saya segera sirna begitu keluar dari bus remote bandara dan masuk ke terminal kedatangan. Di antara para petugas di bandara, saya menemukan sosok-sosok wanita berparas khas Arab menyapa dengan ramah, “Your vaccin certificate please!”.

Mungkin karena saya terlanjur membayangkan hal-hal negatif, begitu sedikit saja ada senyuman dari petugas wanita di Bandara Jeddah dini hari, rasanya kepenatan saya langsung menghilang sekitar 30 persen.

Teryata, suprise “sambutan menyegarkan” yang diberikan Pemerintah Arab Saudi kepada “tamu-tamu Allah” ini belum berakhir. Jika biasanya kita melalui jalur antrean imigrasi yang panjang dan bersiap berhadapan dengan wajah-wajah para petugas imigrasi yang dingin dan tak bersahabat, kini berubah 180 derajat.

Pintu-pintu imigrasi dioperasionalkan  semua sehingga antrean menjadi cepat. Dari sekian banyak pintu, terdapat beberapa petugas perempuan yang melayani dengan ramah.

Sebagian bercadar, beberapa membiarkan wajahnya tetap terbuka. Diam-diam saya berdoa, “Ya Allah jadikan saya tetap menjadi suami setia”.

Saya pun diarahkan oleh seorang petugas laki-laki ke pintu imigrasi yang dijaga oleh petugas perempuan yang tak bercadar. Alhamdulillah ya Allah!

Dia menyapa saya dengan ramah. Kemampuannya dalam berbahasa Inggris dan cara komunikasi yang cair membuat saya meyakini bahwa dia sudah lulus pelatihan hospitality.

Di sela sela memeriksa paspor dia bertanya, “Kamu menyebut apa dengan ini?“ sambil menujukkan ibu jarinya. Langsung saya jawab, “jempol”. Mbaknya memang jempol karena terbukti bisa membantu mengurangi rasa capek karena perjalanan.

Ketertinggalan Infrastruktur

Kondisi bandara lebih bersih dan toilet pun sudah tidak bau lagi. Sekalipun demikian, masih ada yang perlu diperbaiki, yaitu adanya para sales provider kartu perdana yang bersikap terkesan memaksa dan memanfaatkan kendala bahasa  yang dimiliki oleh para jamaah.

Banyak jamaah menganggap mereka adalah petugas bandara yang mengecek identitas, karena tiba-tiba mereka minta paspor dan membawa alat sidik jari karena regulasi Saudi satu paspor hanya boleh memilik satu nomor seluler.

Jelas sekali bahwa Pemerintah Arab Saudi tengah berbenah. Tampaknya, peningkatan kemampuan SDM menjadi prioritas sambil terus membangun sarana fisik agar tidak kalah dari Doha dan Dubai. Saya yakin, ini tidak semudah negara lain dalam merevolusi budaya yang sudah hidup selama puluhan atau bahkan ratusan tahun.

Para wanita Arab Saudi yang selama ini hanya berdiam diri di rumah, kini sudah berani bermitra dengan para pria dalam beberapa profesi. Kesetaraan antara pria dan wanita di Arab Saudi yang selama ini hanya mimpi kini sudah mulai muncul di permukaan, sekalipun baru di ujung permulaan.

Visi 2030 yang dicanangkan Arab Saudi masih memerlukan waktu panjang untuk mencapainya. Arab Saudi harus mengejar ketertinggalan infrastruktur agar bisa seperti negara-negara tetangganya. Tetapi, saya yakin Arab Saudi akan bisa mengejar ketertinggalannya karena yang digarap pertama adalah kesiapan SDM-nya.

Dari sisi ekonomi, Arab Saudi jauh lebih stabil daripada yang lain terutama dengan adanya Makkah dan Madinah. Sampai kapan pun, umat muslim pasti akan berziarah dan ini berarti menyumbang devisa negara yang sangat signifikan.

Dengan beralihnya penanganan haji dari muassasah yang bersifat semi sosial ke syarikah yang sepenuhnya profesional, ini akan berdampak pada kualitas layanan dan hospitality yang lebih baik. Sekalipun, konsekuensinya adalah tahun-tahun mendatang biaya haji dapat dipastikan akan meningkat.

Menyaksikan apa yang sedang terjadi di Arab Saudi, saya berharap perubahan ini akan melahirkan Saudi Arabiyah yang ramah. Saya berharap bisa lebih bayak melihat “Islam” seperti halnya banyaknya jumlah muslim di negeri ini.

Di saat yang sama, saya tidak bisa menyembunyikan perasaan sayang dan cinta kepada Indonesia. Di negeriku, kultur ramahnya yang sudah lama membudaya. Bumi Nusantara, sekalipun jauh dari jabal rahmah, keramahan penduduknya mencerminkan nilai-nilai Islam yang salamah (damai) dan rahmah (penuh kerahmatan) sesuai dari asal kata Islam itu sendiri: Aslm yang artinya damai dan salam yang berarti sejahtera.

*KH Zahrul Azhar Asumta SIP, M.Kes (Gus Hans) adalah Wakil Rektor Unipdu Jombang; Petugas Haji Indonesia di Arab Saudi

Disclaimer: Tulisan opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi Barometerjatim.com. Rubrik Opini terbuka untuk umum. Naskah dikirim ke [email protected] Redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengubah substansinya.

» Baca berita terkait Haji. Baca juga tulisan terukur Rofiq Kurdi.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -