Boleh Jadi Hakim, Cara Ulama Lindungi Martabat Perempuan

JAGA MARTABAT PEREMPUAN: Wisuda ke-78 UINSA dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Dalam orasinya, Menag menegaskan ulama di seluruh jagat sepakat perempuan harus dilindungi, dijaga harkat dan martabatnya. | Foto: Barometerjatim.com/ ENEF MADURY

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ulama di seluruh jagat sepakat bahwa perempuan harus dilindungi, dijaga harkat serta martabatnya. Tapi soal cara, disesuaikan dengan budaya suatu wilayah atau negara tanpa harus meninggalkan syariat Islam.

Hal itu ditegaskan Menteri Agama (Manag), Lukman Hakim Saifuddin saat menyampaikan orasi ilmiah di acara wisuda ke-78 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Sabtu (18/3).

Menag mencontohkan ulama di sebagian negara Jazirah Arab yang melarang perempuan menyetir mobil. “Jangan dilihat itu diskriminatif, tapi itulah cara ulama di sana melindungi perempuan,” katanya.

Kondisi di Jazirah Arab berbeda dengan sikap mayoritas ulama di Indonesia. Jangankan menyetir mobil, perempuan di Indonesia boleh menjadi hakim, bahkan hakim pengadilan agama.

“Sesuatu yang mungkin tidak terjadi di negara Arab. Itulah (cara) ulama-ulama kita dalam rangka menjaga derajat dan harkat perempuan,” tambahnya.

• Baca: Keberagaman di Indonesia Jadi Contoh Dunia

Perbedaan sikap ulama dalam mengimplimentasikan nilai-nilai Islam, kata Luqman, didasarkan pada kearifan mereka melihat konteks kebudayaan di setiap daerah atau negara.

Karena itu, pintanya, wisudawan dan wisudawati harus merawat kearifan yang telah dilakukan oleh UINSA dalam menyebarkan Islam di nusantara.

Sarjana muslim, tambahnya, tidak cukup hanya hebat secara intellectual quotient, emotional quotient dan spiritual quotien, tapi juga harus diimbangi kehebatan dalam hal cultural quotient.

“Harus memiliki kecerdasan kebudayaan, karena yang diperlukan sebenarnya kearifan dalam memahami dan menyikapi perbedaan,” katanya.

Menag juga berpesan agar lulusan UINSA dan sarjana muslim di perguruan tinggi lain tak henti menyebarkan ajaran Islam bercorak moderat. “Moderasi kata paling relevan dengan konteks ke-Indonesia-an,” tandasnya.