Bersaing Sesama Kader NU, Kiai Hisyam Unggulkan Khofifah

SILATURAHIM: (Dari kiri) KH Masykur Ali, Khofifah Indar Parawansa, KH Hisyam Safaat dan Bupati Azwar Anas saat menggelar silaturahim di kompleks Ponpes Ibnu Sina, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Minggu (11/6) malam. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA AR

BANYUWANGI, Barometerjatim.com – Jangan pernah memaksakan ijtihad politik Nahdliyin (warga NU). Ini buktinya: Meski mayoritas kiai di PWNU Jatim mendorong PKB agar mengusung Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai bakal Cagub di Pilgub Jatim 2018, ternyata hal itu tak diamini warga dan pengurus NU di level cabang.

KH Hisyam Safaat, misalnya. Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi ini malah condong mendukung Khofifah Indar Parawansa karena dinilainya lebih berpeluang menang. Dia pun tak canggung menyebut Khofifah yang akan terpilih menjadi gubernur jika harus bersaing dengan sesama kader NU.

Pertimbangan Pengasuh Ponpes Darussalam Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi tersebut, selain jumlah pemilih perempuan lebih banyak dan ‘militan’ juga bisa mempengaruhi laki-laki.

“(Jumlah pemilih) perempuan itu lebih banyak, 6 banding 1 dan cukup sambil ngerumpi (untuk menyatukan pilihan),” katanya usai buka puasa bersama di kediaman Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi, KH Masykur Ali di kompleks Ponpes Ibnu Sina, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Minggu (11/6).

• Baca: Gus Ipul Minta Dukungan, Nyono Tegaskan Muslimat juga NU

Khofifah hadir di kediaman Kiai Masykur Ali usai menyalurkan bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Kalibaru untuk 38.208 keluarga penerima manfaat di Banyuwangi tahun ini sebesar Rp 236,2 miliar.

Wong wedok itu tinggal meneruskan saja, sambil meladeni (suaminya): Monggo ‘Kopine’, tinggal nambahi ‘Pah’ (Khofifah). Monggo Kopinupun.. Pah,” tambah Kiai Hisyam setengah berseloroh.

Ketika dipertegas, mengapa Kiai Hisyam begitu yakin Khofifah bakal memenangi Pilgub Jatim 2018? “Bukan saya ke Bu Khofifah, saya juga akrab dengan Gus Ipul. Tapi semua kan punya itung-itungan kalau maju, menang apa kalah. Tapi kalau Bu Khofifah maju, menang. Monggo Kopinipun.. Pah,” tandasnya.

Redam ‘Syahwat Politik’

Namun agar tidak terjadi perpecahan di internal NU, Kiai Hisyam meminta para kiai berembug. Bagaimanapun, katanya, perpecahan hanya akan menjadikan malapetaka. “Kalau bisa suara (NU) itu dijadikan satu,” harapnya.

Kalau menuruti ‘syahwat politik’ ingin maju, lanjut Kiai Hisyam, semua orang juga ingin maju menjadi gubernur. “Namanya juga kepingin. Tapi kalau Bu Khofifah yang maju, menang,” ucapnya.

“Sekarang dibalik saja, ingin jadi calon apa calon jadi. Kalau pingin jadi gubernur suara itu dibulatkan saja, rundingan podo tuwo-tuwo (para kiai). Nanti kan bisa ditoto. Kalau bisa jangan nyalon semua, dirunding, semua kan tahu ini mashlahah dan mafsadah-nya.”

• Baca: Nyono Kunjungi Khofifah dan Makna Lima Tusuk Sate

Bukankah Gus Ipul sudah memastikan maju dan Khofifah juga didukung Nahdliyin di grass-root untuk maju, apakah masih bisa dirunding agar hanya satu calon dari kader NU?

“Oh, masih bisa. Politik itu kan per detik. Seperti di Banyuwangi ini. Dulu NU mau nyalon semua, lalu ditekan sama Pak Maskur (KH Masykur Ali, ketua PCNU Banyuwangi). Begitu ada yang nyalon dari NU oleh Pak Maskur nggak direstui. Yang direstui cuma satu, (Azwar) Anas, yang lainnya klejingan semua.”

Tapi kalau Gus Ipul dan Khofifah akhirnya harus sama-sama maju, maka tinggal dilihat siapa calon wakilnya. “Tinggal sekarang wakilnya siapa, ini juga akan menentukan. Tapi kalau bisa dikondisikan sama-sama dari NU malah tambah kuat,” katanya.