Tokoh Budha Puji Komitmen NU Ayomi Kelompok Minoritas

KUNJUNGAN TOKOH BUDHA: Muhibbin Zuhri (tiga dari kanan) menerima kunjungan tokoh agama Budha dari Budhis Dharma Center (BDC) Surabaya yang berkunjung ke Museum NU Surabaya. | Foto: PCNU Surabaya/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.com – Selasa (2/5) malam, sejumlah tokoh agama Budha dari Budhis Dharma Center (BDC) Surabaya berkunjung ke Museum NU di Jalan Gayungsari Surabaya. Rombongan diterima Direktur Museum yang juga Ketua PCNU Kota Surabaya, Dr H A Muhibbin Zuhri MA bersama para pengurus lainnya.

“Kami ingin mempererat jalinan persaudaraan antartokoh agama, terutama dengan NU, organisasi Islam terbesar yang memiliki paham moderat,” kata Ketua BDC Surabaya, Herman.

“Kita ingin bersama-sama NU membangun harmoni dalam bingkai kebangsaan dan persaudaraan yang kokoh antarumat.”

Menurut Herman, selama ini komitmen NU sangat kuat dalam mengayomi kelompok minoritas serta tidak mempertentangkan perbedaan. “Sejak kami mengikuti prasaran Pak Kiai (Muhibbin Zuhri, red) waktu seminar di Unair, kami sangat ingin belajar lebih banyak terkait kearifan dan pemikiran NU,” ujarnya.

• Baca: Peringati Harlah, PCNU Surabaya Kirab Panji dan Ziarah

“Banyak ide-ide cemerlang beliau yang perlu ditindaklanjuti, khususnya tentang multikulturalisme dalam bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Syukurlah kami bisa diterima malam ini.”

Herman juga menyampaikan keinginan BDC mengundang Muhibbin untuk mengulas lebih jauh tentang kearifan NU, khususnya soal tasawuf dalam seminar yang akan diselenggarakan tidak lama lagi.

Sementara Muhibbin menyampaikan terima kasih atas kunjungan tersebut. Dia menekankan membangun kesepahaman dan kebersamaan menjadi hal penting untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan sejahtera. “Sisi wisdom dalam masing-masing agama harus dikedepankan agar tercipta toleransi yang produktif,” tegasnya.

Muhibbin juga mengajak umat Budha untuk bersama-sama menjaga negeri ini dari ancaman luar dan internal umat beragama. “Kita jangan mau dipecah belah. Mari kita jaga umat masing-masing dari pengaruh kelompok radikal dan ekstrem yang bisa saja muncul dari dalam umat kita sendiri,” tambahnya.

• Baca: Kiai Hasyim, Ulama ‘Bermazhab’ Kritik Keras tapi Tak Pedas

Mengenai kebhinekaan, Muhibbin menegaskan perbedaan terletak pada koridornya, termasuk dalam agama, budaya dan pemikiran. Perlu saling menghargai selama masih berada dalam batas itu.

“Tapi pengkhianatan terhadap konsensus nasional sudah berada di luar koridor itu. Kita tidak boleh permisif, harus kita lawan bersama-sama,” ujarnya.

Dia pun mengajak menyatukan langkah untuk menghadapi kelompok-kelompok yang ingin merusak, baik yang berbasis agama, sekular (termasuk kelompok neo-liberal dan kapitalis) maupun komunis.