Sosok Kontroversial, Penelor Atlet Kaliber Internasional

PELATIH BERPRESTASI INTERNASIONAL: Nurul Ansori (kiri) bersama Gubernur Soekarwo, ‘tangan dinginnya’ lahirkan perenang dan peselam kaliber nasional maupun internasional. | Foto: Barometerjatim.com/TOMMY RABBANI

Ajang penghargaan insan olahraga Jawa Timur kembali digelar Sie Wartawan Olahraga – Persatuan Wartawan Indonesia (SIWO-PWI) Jatim di Pasuruan, Rabu (22/3). Untuk kategori pelatih terbaik jatuh ke tangan Nurul Ansori. Siapa dia?

DI DUNIA olahraga, khususnya aquatic, kiprah pria yang akrab dipanggil Ansori ini pasti akrab di telinga. Maklum, pria kelahiran Bangil, Pasuruan tersebut tercatat sebagai pendiri klub POR Suryanaga yang kerap melahirkan perenang dan peselam kaliber nasional dan internasional.

Tahun ini, SIWO PWI Jatim menjatuhkan pilihan kategori pelatih terbaik Jawa Timur kepada Nurul Ansori bukan tanpa alasan. Salah satu tolok ukurnya adalah prestasi yang diukir cabang olahraga (cabor) selam pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat.

Di tanah legenda itu, selam mengukir prestasi luar biasa sebagai cabor penyumbang medali emas terbanyak, yaitu 11 emas. Selain itu juga mencatatkan diri sebagai juara umum di cabor selam. Tak bisa dipungkiri, torehan prestasi ini buah andil besar dari Ansori sebagai pelatih kepala cabor selam.

• Baca: Hasil Selekda, Kodrat Jatim Jaring 36 Petarung

Namun bagi Ansori yang membuatnya lebih bahagia bukan lantaran cabornya menjadi penyumbang medali emas terbanyak bagi kontingen Jatim di PON 2016. Lebih dari itu, prestasi salah satu atletnya, Guntur Putra Pratama berhasil memecahkan rekor Asia di nomor 50 bifins dengan catatan waktu 00:19,07 detik.

“Satu-satunya rekor Asia yang pecah di PON ada di cabor selam dan itu dipecahkan atlet Jawa Timur. Tidak mudah dan rasanya bahagia sekali anak didik kita berhasil mengukir prestasi internasional,” ujar pegawai Dispora Jawa Timur ini.

Tidak berhenti di situ, ‘tangan dingin’ Ansori juga melahirkan peselam muka baru yang tampil mengejutkan di PON 2016. Salah satunya Janis Rosalita. Meski baru tampil pertama kali di PON, Janis mampu memboyong tiga medali emas.

Terkait penghargaan sebagai pelatih terbaik dari SIWO PWI Jawa Timur yang akan diterimanya, bagi Ansori bukan yang pertama kali. Lima tahun lalu juga meraih penghargaan serupa ketika Anugerah Olahraga SIWO PWI Jatim digelar di SMANOR Sidoarjo.

“Tapi tahun ini rasanya agak berbeda dan berkesan. Sebab, diberikan di Pasuruan, tempat kelahiran saya. Tentu saya ucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman wartawan yang memilih saya sebagai pelatih terbaik. Ini menjadi motivasi agar ke depan, saya bisa lebih baik lagi,” ucapnya.

***

Jika menengok jauh ke belakang, prestasi yang diraih Ansori tidak semudah membalik telapak tangan. Maklum, puluhan tahun sebagai pembina olahraga aquatik, pengalaman manis dan pahit sudah pernah dirasakan. Tenaga, biaya dan pikirian dicurahkan.

“Suka dan duka pastinya ada. Menghadapi orang tua yang tidak sabar, pingin anaknya cepat prestasi. Menghadapi atlet yang tidak displin padahal punya potensi. Waktu dan biaya pasti. Saya beruntung punya anak dan istri yang mendukung, ” ujar pria yang dikenal sebagai perintis berdirinya organisasi olahraga selam di Jatim itu.

Namun segala pengorbanan, lanjut Ansori, tidak terasa jika sudah melihat anak didiknya menggengam medali di atas podium juara, “Apalagi kalau even internasional, melihat bendera merah putih berkibar, bangga sekali rasannya, ” ucapnya.

Yang unik, Ansori tidak punya background sebagai atlet,  seperti kebanyakan pelatih di Indonesia.  Keluarga Ansori  juga bukan menggeluti olahraga. Dari delapan bersaudara, hanya dia yang merasakan pendidikan perguruan tinggi. Maklum, kedua orang tuanya petani yang kehidupan ekonomi serba terbatas.

“(Penghargaan) tahun ini rasanya agak berbeda dan berkesan. Sebab, diberikan di Pasuruan, tempat kelahiran saya.”

Jenjang kepelatihan di rintis dengan menempuh pendidikan di Sekolah Guru Olahraga (SGO) di Surabaya. Setelah lulus SGO dilanjutkan ke Universitas Negeri Surabaya (Unesa), “Untuk kuliah harus jual TV tabung hitam putih di rumah,” kenangnya.

Sejak memutuskan kerir menekuni sebagai pelatih cabor selam dan renang, mantan pelatih SEA Games Indonesia ini ingin membuktikan jika bisa melahirkan atlet juara meski tidak punya pengalaman sebagai atlet, “Dulu ada stigma pelatih harus mantan atlet. Itu salah satu motivasi untuk bisa membuktikan, pelatih tidak harus pernah jadi atlet, ” tandasnya.

Sosok Ansori juga sempat menuai kontroversi. Dua tahun lalu sempat di tuding menjual atlet Jatim ke Kalimantan Timur. “Memang ada tudingan seperti itu. Tapi dari sisi mana melihatnya, saya juga ingin atlet selam atlet renang dapat masa depan yang bagus,” katanya.

“Seperti pemain sepakbola pindah dari klub ke klub tidak ada masalah. Atlet Jatim ini sangat banyak, persaingan tinggi. Semua saya ambil hikmahnya saja, ” tuntas pria yang menjabat wakil ketua umum Pengprov Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Jatim tersebut.