RS di Jatim Butuh HFNC, Bukan Ventilator Buatan Amerika!

PROBLEM VENTILATOR: Joni Wahyuhadi, RS di Jatim lebih membutuhkan HFNC ketimbang ventilator buatan AS. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PROBLEM VENTILATOR: Joni Wahyuhadi, RS di Jatim butuh HFNC ketimbang ventilator buatan AS. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Di saat angka kematian pasien Covid-19 di Jatim yang masih tinggi, per Kamis (23/7/2020) mencapai 1.538 (7,91%) dari 19.450 kumulatif terkonfirmasi, ventilator rupanya menjadi problem tersendiri.

Peyebabnya, beberapa rumah sakit (RS) masih gagap mengoperasikan teknologi untuk membantu pernapasan pasien tersebut. Termasuk mengawaki ventilator buatan Amerika Serikat (AS) yang dikirim Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Menurut Ketua Gugus Kuratif Percepatan Penanganan Covid-19 Pemprov Jatim, dokter Joni Wahyuhadi ventilator buatan AS memerlukan keahlian khusus. Mulai dari perawat khusus, hingga dokter anastesinya harus khusus pula.

“Ventilator yang dari Kemenkes sudah kita bagi-bagi ke seluruh rumah sakit, ada yang belum terpakai malah,” curhat Joni kepada Plt Deputi 3 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dody Ruswandi saat Rapat Koordinasi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Jatim via daring, Rabu (22/7/2020).

Joni pun menyarankan Kemenkes sebaiknya mengirim HFNC (High Flow Nasal Cannula) ketimbang ventilator buatan AS. Terlebih dari temuan yang didapat, pasien yang mulai hipoksia dan segera dilakukan resusitasi dengan HFNC, ternyata menunjukkan hasil luar biasa.

Seperti diketahui, HFNC adalah teknologi pertama di Indonesia ciptaan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang dirancang untuk membantu pasien Covid 19, sekaligus yang pertama pula lolos uji dari Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Kemenkes.

“Problemnya sekarang bapak, kita itu kesulitan di dalam pengadaan HFNC. HFNC Ini memang agak sulit mencari barangnya. Saya dengar di Jakarta banyak diborong kawan-kawan RS di Jakarta. Mungkin kami bisa dibantu di Jatim ini untuk pengadaan HFNC,” harapnya.

Jika pengadaan HFNC cukup banyak, tandas Joni yang juga Dirut RSUD dr Soetomo, maka bisa mencegah jatuhnya pasien-pasien ke dalam hipoksia yang lebih berat yang memerlukan ventilator, dan ternyata mortalitas ventilator besar.

“Kemarin kami komunikasi dengan dr Fatimah, kami akan dibantu tetapi berupa non invasif ventilator (NIV). Kami sudah mengusulkan ke beliau kalau kita bisa dibantu HFNC,” katanya.

“Selain lebih murah ya, dan ternyata di dalam riset pengamatan kami di dalam ICU kami yang sudah 1400-an pasien ini, memiliki angka kesembuhan yang tinggi,” sambungnya.

Menanggapi permintaan Joni, Dody berjanji segera melakukan komunikasi lebih lanjut dengan pihak Kemenkes.

Sebelumnya, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Widodo Iryansyah mengungkap beberapa RS di Jatim ternyata tidak bisa mengoperasikan ventilator.

Kegagapan pihak RS ini, dinilai menjadi salah satu penyebab mengapa angka kematian akibat Covid-19 di Jatim tak kunjung bisa ditekan.

TEKNOLOGI CIPTAAN LIPI: HFNC, teknologi ciptaan LIPI yang dirancang untuk membantu pasien Covid 19. | Foto: IST
TEKNOLOGI CIPTAAN LIPI: HFNC, teknologi ciptaan LIPI yang dirancang untuk membantu pasien Covid 19. | Foto: IST

» Baca Berita Terkait Wabah Corona