Ke-NU-an Khofifah Diragukan Cak Imin, Gus Hans: Sudah 23 Tahun Jadi Ketum Muslimat, Apa Harus 50 Tahun?

| -
Ke-NU-an Khofifah Diragukan Cak Imin, Gus Hans: Sudah 23 Tahun Jadi Ketum Muslimat, Apa Harus 50 Tahun?
KAPAN REGENERASI?: Khofifah saat Harlah ke-78 Muslimat NU di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. | Foto: IST

SURABAYA | Barometer Jatim – Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawasa kembali menyentil Cawapres nomor urut 1, Muhaimin Iskandar alias Cak Imin yang meragukan ke-NU-annya. Kali ini bahkan di hadapan Presiden Jokowi saat menghadiri Harlah ke-78 Muslimat NU di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Sabtu (20/1/2024).

“Saya menyampaikan terima kasih. Pak Sekjen PBNU, Gus Ipul secara khusus bersama-sama KH Yahya Cholil Staquf, beliau menyampaikan kalau ke-NU-an Khofifah katanya asli,” ujar perempuan yang juga Gubernur Jawa Timur tersebut.

“Saya tidak pada maqom-nya ngitung. NU-nya saya asli apa tidak ibu?” tanya Khofifah pada jamaah Muslimat NU yang memadati GBK dan dijawab asli. “Asli apa tidak?” tanyanya lagi yang kembali dijawab asli. “Persis dawuhipun (kata) Ketua Umum dan Sekjen PBNU, matur nuwun,” sambung Khofifah.

Usai acara, Khofifah menegaskan bahwa semua pihak tidak bisa menakar kadar ke-NU-an seseorang, karena hal itu berkaitan dengan ideologi kehidupan keagamaan. Dia meminta semua pihak untuk saling menghormati.

| Baca juga:

Sebelumnya, saat diwawancarai wartawan di Blitar, Kamis (11/1/2024), Cak Imin menyinggung Khofifah sebagai Nahdliyin yang mendukung Prabowo-Gibran di Pilpres 2024. Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengatakan, warga NU seharusnya konsisten pada pasangan Anies-Muhaimin (Amin).

"Saya yakin rakyat bukan elite yang berideologi NU, saya yakin pasti Amin. Orang yang punya ideologi NU pasti istiqomah ke Amin, saya meragukan ke-NU-annya kalau tidak pilih Amin," ucap Cak Imin.

Polemik soal ke-NU-an Khofifah juga mengundang komentar Tokoh Muda NU, KH Zahrul Azhar As’ad alias Gus Hans. Dia 'heran' dengan pernyataan Cak Imin, karena Khofifah merupakan Ketum Muslimat NU selama 23 tahun.

“Saya justru heran dengan pernyataan dari Cak Imin yang meragukan tentang ke-NU-an Khofifah. Apa ya harus menjadi Ketum Muslimat 50 tahun dulu baru diakui menjadi NU,” kata Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang itu dengan senyum tipis saat diwawancarai Barometer Jatim, Senin (22/1/2024).

Ya, Khofifah bisa dibilang Ketum Muslimat NU 'abadi' karena sudah menduduki jabatan puncak di Banom perempuan NU itu sejak terpilih pada 2000 (periode 2000-2005) dan hingga kini atau 23 tahun belum ada tanda-tanda regenerasi. Padahal Ketum PBNU sudah berganti sebanyak tiga kali. Mulai dari KH Hasyim Muzadi, KH Said Aqil Siroj, dan kini Gus Yahya.

Batasan Periode Dihapus

Dari data yang dihimpun Barometer Jatim, Khofifah terpilih menjadi Ketua Umum PP Muslimat NU pada 2000 (periode 2000-2005) menggantikan Aisyah Hamid Baidlawi. Lima tahun berselang, kembali terpilih untuk periode 2006-2011 lewat Kongres XV di Batam, 1 April 2006.

Sebelum kembali menjabat untuk periode ketiga, Khofifah sebenarnya terganjal aturan dua periode. Namun dalam Kongres XVI di Bandar Lampung, Komisi Organisasi yang membahas AD/ART memutuskan menghapus batasan periode ketua umum untuk memuluskan jalan Khofifah dengan alasan didukung mayoritas pengurus wilayah.

Walhasil, pada 16 Juli 2011, secara aklamasi Khofifah terpilih menjadi ketua umum periode 2011-2016. Nah, di Bandar Lampung inilah tonggak Ketua Umum PP dan Ketua PW Muslimat NU tanpa batasan periode dimulai.

Setelah tiga periode memimpin, Khofifah lantas kembali dipilih secara aklamasi untuk menjadi ketua umum periode 2016-2021 lewat Kongres XVII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, 25 November 2016.

| Baca juga:

Sedianya, Khofifah mengahiri periode keempatnya pada November 2021. Namun kemudian ada perpanjangan SK lantaran pandemi Covid-19 dan hingga kini Muslimat NU belum lagi terdengar bakal menggelar Kongres.

Lantaran ada penghapusan batasan periode, di tingkat wilayah Masruroh Wahid bisa kembali menjadi Ketua PW Muslimat NU Jatim untuk periode 2021-2026, setelah terpilih secara aklamasi lewat Konferwil di Hotel Utama Sidoarjo, Minggu (27/10/2021).

Ini merupakan kali keempat Masruroh menakhodai PW Muslimat NU Jatim. Tiga sebelumnya yakni periode 2005-2010 lewat Konferwil di Hotel Asida, Batu. Dilanjut periode kedua 2010-2015 lewat Konferwil di Hotel Utami, Sidoarjo.

Lalu periode ketiga 2015-2020 lewat Konferwil di Hotel Solaris Singosari, Malang, dan sempat ada perpanjangan SK terkait keadaan pandemi Covid-19 sampai 2021.

Dikritik Kalangan NU

BUTUH REGENERASI: 23 tahun Muslimat NU dipimpin Khofifah dan belum ada tanda-tanda regenerasi | Foto: IST

Terkait mandeknya regenerasi di tubuh Muslimat NU, selama ini kritik sudah bermunculan dari kalangan NU dan pesantren. Di antaranya dari Pengasuh Ponpes Metal Muslim Al Hidayah Pasuruan, KH Nur Kholis Al Maulani. Dia berpandangan, regenerasi di PBNU secara otomatis harus diikuti seluruh Banom.

"Saya sampaikan bahwa regenerasi itu penting. Karakter bangsa kita ini adalah karakter yang junjung tinggi martabat orang sepuh, tetapi juga mengangkat kreativitas dan memuliakan anak-anak muda," katanya, Selasa (12/10/2021).

Gus Nur Kholis mencontohkan Soeharto yang memimpin negeri ini selama 32 tahun. Selama waktu yang panjang tersebut. Indonesia tidak bisa mengalami loncatan-loncatan tinggi.

"32 tahun menjadi pemimpin Indonesia, tetapi hasilnya begitu saja. Begitu ada regenerasi, loncatan tinggi luar biasa. Bukan berarti pemimpin sebelumnya tidak baik, butuhnya regenerasi ya seperti itu," katanya.

| Baca juga:

Tegasnya, Muslimat NU butuh regenerasi atau tidak? "Butuh regenerasi. Regenerasi itu sangat penting di segala lini. Di Fatayat, Muslimat, terutama juga di NU-nya," katanya.

Kritik tajam juga dilontarkan Pengasuh Ponpes Al Falah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, KH Maulana Ahmad Hasan alias Gus Hasan.

"Muslimat ini pun perlu ditata yang baik. Marwah PBNU harus bisa mengendalikan dalam artian menertibkan organisasi, baik kinerja-kinerja maupun ketertiban terhadap disiplin mematuhi amanah AD/ART NU," tegasnya, Rabu (29/10/2021).

"Jadi nanti tidak stagnan. Banyangkan saja, kalau organisasi sudah dikendalikan sampai empat periode itu sudah kayak bukan milik orang banyak, tapi seperti milik sendiri," tandasnya.

Malah Rangkap Jabatan

Sebenarnya, sebelum Kongres Muslimat NU di Pondok Gede, Gus Yahya yang kala itu menjabat Katib Aam PBNU secara khusus mengingatkan agar terjadi regenerasi dalam kepemimpinan Muslimat NU yang saat itu sudah tiga periode dipimpin Khofifah.

"Saya menyampaikan bahwa sesuai hasil rapat gabungan syuriyah-tanfidziyah pada 27 Oktober, PBNU mengingatkan Muslimat NU agar kembali kepada AD NU Pasal 16 Ayat 3 yang menyatakan, bahwa masa khidmah ketua umum pengurus Banom adalah dua periode, kecuali ketua umum pengurus Banom yang berbasis usia adalah satu periode," ujarnya dikutip dari NU Online, Jumat, 11 November 2016.

Gus Yahya meminta Muslimat NU untuk menegakkan aturan yang berlaku demi kemajuan dan kelangsungan kaderisasi di tubuh Banom NU yang beranggotakan kaum ibu tersebut.

"Tanpa mengurangi rasa hormat, (rapat gabungan syuriyah-tanfidziyah) meminta Ibu Khofifah Indar Parawansa, saatnya pada Kongres kali ini menyerahkan estafet kepemimpinan kepada kader lain," tambahnya.

PBNU, katanya, sudah menoleransi kepemimpinan Khofifah di Muslimat NU selama tiga periode. Namun, kali ini tidak, sebagai langkah mengantisipasi kemacetan yang lebih lama dalam proses kaderisasi.

| Baca juga:

Ketua Umum PBNU saat itu, KH Said Aqil Siroj juga meminta agar Khofifah menyiapkan kader untuk menduduki posisi sebagai ketua umum periode 2016-2021.

“Seharusnya Ibu Khofifah sendiri yang tidak mau dicalonkan lagi. Silakan disiapkan kadernya, siapa yang kira-kira layak untuk melanjutkan kepemimpinan di Muslimat NU,” ucapnya.

“Bu Khofifah tokoh Muslimat, tokoh NU, perempuan pinter, cerdas, enerjik, kita akui. Hanya sebagai Ketua Umum Muslimat, tolong AD/ART diperhatikan,” pinta Kiai Said.

Namun tujuh tahun berselang, setelah Gus Yahya terpilih menjadi Ketum PBNU periode 2022-2027, malah memasukkan Khofifah ke dalam kepengurusan PBNU sebagai salah satu ketua dan tetap menjadi Ketua Muslimat hingga sekarang alias rangkap jabatan.

Ini juga untuk kali pertama dalam sejarah pengurus harian tanfidziyah, ada dua perempuan diamanahi sebagai Ketua PBNU. Selain Khofifah, satu perempuan lainnya yakni Alissa Qotrunnada Wahid.{*}

| Baca berita Muslimat NU. Baca tulisan terukur Rofiq Kurdi | Barometer Jatim - Terukur Bicara Jawa Timur

Simak berita terukur barometerjatim.com di Google News.