Mantan Aktivis 98: Mediator Khofifah Tak Paham Mahasiswa!

PAHAMI MAHASISWA: Aaan Ainur Rofik, mediator dari gubernur tak paham mahasiswa. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PAHAMI MAHASISWA: Aan Ainur Rofik, mediator dari gubernur tak paham mahasiswa. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Tak hanya wakil ketua DPRD Jatim, respons terkait gaduh mahasiswa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya juga disuarakan mantan aktivis 1998, Aan Ainur Rofik.

Menurutnya, gaduh terjadi — dipicu mahasiswa yang menolak jamuan makan malam — lantaran mediator dari pihak Gubenur Jatim, Khofifah Indar Parawansa tidak memahami kehendak mahasiswa yang melakukan tuntutan.

“Dalam sejarah gerakan mahasiswa, tidak ada istilah perjamuan mahasiswa, yang ada dialog! Mediator dari pihak gubernur yang kurang memahami kehendak tuntutan mahasiswa,” tegas Sekjen Gerakan Rakyat Pro Reformasi 1998 Surabaya itu pada Barometerjatim.com, Kamis (10/10/2019).

Di sisi lain, Aan juga meminta mahasiswa untuk berkaca dari pergerakan di masa lalu, yang tak perlu ada mediator di luar birokrasi untuk bertemu gubernur atau pejabat terkait.

“Di era saya, ketemu gubernur dan panglima saat itu tidak ada mediator. Bisa lewat Kesbang atau Sospol dan bisa jadi mediator, karena dia pasti tahu apa yang dimau gubernur dan mahasiswa,” katanya.

Nah, setelah gagal dialog di Grahadi, mantan ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Surabaya itu menyarankan, ada baiknya mahasiswa mengundang gubernur karena yang melakukan tuntutan adalah mereka.

“Pihak BEM yang mengundang ke tempat mahasiswa. Dengan demikian yang nantinya bertanggung jawab ketika sesuatu terjadi terhadap gubernur, mahasiswa sudah tahu antisipasinya,” paparnya.

Selain itu, tambah Aan, dalam forum semacam rencana dialog di Grahadi kemarin, ada baiknya juga gubernur atau TNI/Polri melibatkan Bakesbangpol maupun lembaga Sospolnya di lingkup masing-masing.

“Bakesbang lebih dekat dengan Ormas dan mahasiswa. Teman-teman intel, baik dari Kodam atau polisi juga selalu aktif komunikasi dengan mahasiswa, LSM atau Ormas,” tandas Aan yang wakil sekretaris DPD Partai Golkar Jatim.

Sebelumnya, pengajar di Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi Kusman yang menjadi penghubung antara mahasiswa dan Khofifah, menyebut gaduh mahasiswa di Grahadi lebih disebabkan miskomunikasi.

“Sepertinya ada miskomunikasi, sehingga kami sendiri minta maaf pada gubernur, Bu Khofifah, Pak Kapolda, Pak Pangdam terkait peristiwa ini,” katanya.

Namun Airlangga menilai, situasi tersebut masih bisa diperbaiki karena persoalannya hanya pada miskomuniaksi yang perlu dikelola lebih baik lagi.

“Dalam konteks ini mahasiswa juga harus bisa introspeksi diri,” tandas dosen yang juga CEO The Initiative Institute tersebut.

» Baca Berita Terkait Khofifah, Mahasiswa