Kiai Mutawakkil: Saya Tidak Punya Ambisi, Naudzubillah!

TAK PUNYA AMBISI: KH Hasan Mutawakkil Alallah, tak punya ambisi untuk kembali memimpin PWNU Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
TAK PUNYA AMBISI: KH Mutawakkil Alallah, tak punya ambisi untuk kembali pimpin PWNU Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Dua periode Kiai Mutawakkil memimpin PWNU Jatim. Akankah kembali maju atau ada penyegaran kepemimpinan?

30 JULI nanti, KH Hasan Mutawakkil Alallah mengakhiri kepemimpinanya di PWNU Jatim periode 2013-2018. Siapa ketua tanfizdiyah berikutnya akan ditentukan lewat Konferensi Wilayah (Konferwil) di Ponpes Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, Kediri, 28-29 Juli.

Menariknya, seminggu jelang Konferwil, sejumlah kandidat mulai bermunculan. Di antaranya Wakil Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfud alias Gus Kikin; Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Mojokerto, KH Asep Saifuddin Chalim; serta mantan Ketua PWNU Jatim, KH Ali Maschan Moesa.

Sementara dari kalangan muda, muncul nama Ketua PCNU Jember, Dr KH Abdullah Syamsul Arifin. Pengasuh Ponpes Darul Arifin Jember yang akrab disapa Gus Aab itu bahkan bersaing ketat dengan Kiai Mutawakkil, saat pemilihan ketua PWNU Jatim pada Konferwil sebelumnya di Ponpes Progresif Bumi Sholawat Sidoarjo, 2 Juni 2013.

• Baca: Eks Bendahara PBNU: Gus Kikin Layak Ketua PWNU Jatim

Sebaliknya, Kiai Mutawakkil belum memberi pernyataan tegas akan maju lagi atau bersedia jika dipilih kembali untuk memimpin PWNU Jatim. “Wong konferensinya belum,” elaknya.

Pengasuh Ponpes Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo itu malah bersyukur kalau banyak kandidat ketua PWNU di Konferwil nanti. Hal itu menandakan kalau kaderisasi di NU berjalan dengan baik.

Berikut wawancara dengan Kiai Mutawakkil usai menerima silaturahim Gubernur Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansa di kantor PWNU Jatim di Jalan Masjid Al Akbar Timur, Gayungan, Surabaya, Rabu (18/7) lalu.

Bagaimana persiapan Konferwil di Lirboyo?
Alhamdulillah, persiapan Konferwil sudah hampir mendekati 90 persen. Kita memang punya waktu yang sangat singkat, dan ini sebenarnya tujuan kami memberikan contoh kepada cabang-cabang untuk taat terhadap aturan organisasi.

Masa jabatan saya, periode 2013-2018, jatuh pada tanggal 30 Juli. Oleh karena itu ada surat dari PBNU untuk tepat waktu, dan kami memang sedang mempersiapkan. Alhamdulillah perangkat dan pengurus harian semuanya sudah siap.

Sehingga, semua proses persidangan, materi sudah lengkap, baik komisi-komisi maupun LPj (Laporan Pertangungjawaban). Kita mengambil tema, tadi, memperkuat NU sebagai payung bangsa.

Apakah kiai akan maju lagi?
Wong konferensinya belum..

Atau ada calon lain yang dipersiapkan?
Kita harapkan banyaklah kader-kader dan tokoh NU yang tentunya lebih baik dari saya, yang tetap bisa menjaga supaya NU Jatim menjadi barometer NU nasional. Dan juga bisa memosisikan NU pada posisi yang terpuji. Kalau bahasa santrinya maqamam mahmudah ya, on the right track.

Apakah ini sinyal kalau kiai tidak akan maju lagi?
Terserah mau nafsiri apa saja. Pokoknya ini bahasa santri seperti itu. Jadi, saya memang tidak punya ambisi, naudzubillah! Karena di NU itu yang penting kita berkhidmat kepada para ulama, kiai, aulia sebagai owner NU. Tidak masalah dimana saja posisinya.

Kiai, banyak kader muda NU yang disebut layak memimpin PWNU..
Itu menandakan bahwa banyak yang berminat ke NU, alhamdulillah daripada sepi berarti NU ndak laku. Berarti di situ ada regenerasi di NU sudah bagus.

Yang penting NU tetap solid, kompak, satu barisan guna menjaga bangsa ini, kedaulatan bangsa ini di hadapan bangsa-bangsa yang lain. Karena bagaimanapun juga barometer Jatim.

Kalau Jatim tidak terkendali, maka yang lain juga tidak akan terkendali. Karena tokoh-tokoh agama yang menjadi mediasi antara pemerintah dan masyarakat selama ini, itu banyak alumnus pesantren yang ada di Jatim.