Kenali Eko Wandowo, Paguyuban Kesenian Jawa di Sulteng

EKO WANDOWO: Tak lagi muda, Hartono (kanan) masih cekatan bermain gamelan. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
EKO WANDOWO: Tak lagi muda, Hartono (kanan) masih cekatan bermain gamelan. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Eko Wandowo bukan sebatas paguyuban kesenian. Lebih dari itu: Wadah komunikasi orang Jawa di Sulteng.

USIANYA tak lagi muda, 63 tahun. Namun tangan Hartono masih cekatan memainkan gamelan. Sesekali, kakek kelahiran Magelang, Jawa Tengah, itu meladeni pertanyaan tamunya dari rombongan humas Pemprov Jatim. Siang itu, Senin, 16 Desember 2019.

“Gamelan ini bantuan dari Kanjeng Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono X. Beliau yang menyerahkan sendiri ke sini bersama Gusti Kanjeng Ratu Hemas,” kata Hartono kepada Barometerjatim.com yang turut dalam rombongan.

“Waktu itu, tahun 2006, beliau memberikan seperangkat alat gamelan pelog slendro perunggu ini komplet dengan wayangnya, seharga Rp 800 juta,” sambungnya.

Hartono adalah ketua umum “Eko Wandowo”, sebuah paguyuban kesenian Jawa yang ber-home base di Jalan Kartini No 88, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Setelah merasa cukup melakukan ‘check sound’, Hartono kemudian masuk ke sebuah ruangan, mengambilkan kursi dan suguhan untuk tamu-tamunya. “Di sini saja ngobrolnya ya, biar enggak panas,” pintanya.

Sambil menikmati teh, pensiunan pegawai Dinas Pekerjaan Umum (Pemerintah Kota) Pemkot Palu itu lantas menceritakan kehadiran Eko Wandowo di Sulteng.

“Paguyuban ini berdiri pada 1974. Ketuanya ganti-ganti, sudah beberapa kali reorganisasi. Kalau zaman dulu ketuanya ya orang Jawa para Kadis-Kadis (kepala dinas) itu,” katanya.

“Tapi karena sekarang otonomi daerah, hingga orang seperti sayalah yang memimpin Eko Wandowo ini. Saya sudah ngesuhi (merawat) paguyuban ini lebih dari 15 tahun, mulai 2003 jadi ketua umum,” sambungnya.

Mengapa diberi nama Eko Wandowo? Eko berarti satu, sedangkan Wandowo bermakna praupan atau wajah. “Jadi beramacam-macam wajah orang Jawa, menyatu di paguyuban ini,” jelas kakek yang masuk ke Sulteng pada 31 Maret 1981 itu.

Paguyuban ini didirikan, lanjut Hartono, selain untuk nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa, juga menjadi wadah berkomunikasi sesama orang Jawa di Sulteng. Apapun pekerjaanya: Mulai penjual makanan, hingga mereka yang berkecimpung di birokrasi.

“Ini ya markas ya rumah galeri. Jadi tempat berkumpul tidak hanya membicarakan soal budaya, tapi soal apa saja bisa berkumpul di sini,” katanya merujuk bangunan mirip pendopo atau joglo khas rumah orang Jawa.

“Pernah juga teman-teman Kaili (suku asli dan terbesar di Kalteng) mengadakan acara adat di sini. Siapa saja boleh, karena ini rumah seni, kami tidak memandang etnis, agama, pokoknya kami rangkul semuanya,” katanya.

Tanpa Anggaran Pemerintah

PAGUYUBAN ORANG JAWA: Hartono (kini) menerima tamu dari Pemprov Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PAGUYUBAN ORANG JAWA: Hartono (kini) menerima tamu dari Pemprov Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Meski sudah 45 tahun berdiri, Eko Wandowo belum pernah disentuh bantuan anggaran dari pemerintah, baik Pemkot Palu maupun Pemprov Sulsel. Bukannya tidak mau, tapi permintaan anggaran yang diajukan tidak pernah ditanggapi.

“Kalau dari pemerintah setempat belum pernah. Sesen pun belum pernah sejak berdiri, baik dari Pemkot maupun Pemprov, belum pernah!” katanya.

Memangnya tidak pernah diminta tampil di Pemkot maupun Pemprov? “Nah itulah, kami sebagai pelaku seni merasakan sepertinya hanya dieksploitasi. Hanya diminta meramaikan, tapi tidak pernah dikasih anggaran,” ucapnya.

Tapi pasca gempa, tsunami dan likuifaksi di Palu dan Donggala lalu, Eko Wandowo mendapat dana CSR (Corporate Social Responsibility) dari PLN.

“Baru sekali ini sejak berdiri. Itupun kami mengajukan proposal. Secara simbolis dana sudah kami terima minggu lalu, nilanya Rp 35,7juta,” ungkapnya.

Selebihnya, pemasukan rutin Eko Wandowo dari hasil menyewakan tempat di area pendopo paguyuban untuk ruko dan kios. Maklum, tanahnya cukup luas, satu hektare lebih.

“Di samping itu, kami ada kegiatan arisan anggota kurang lebih yang rutin ikut 80 sampai 110 orang setiap tanggal 8 bulan berjalan, serta hasil dari kegiatan,” katanya.

Sementara untuk menjaga kelestarian budaya Jawa, paguyuban merekrut anak-anak muda yang tergabung dalam Permuja (Perkumpulan Mahasiswa dan Pelajar Jawa-Sulteng).

“Itu kesulitan kami, mengajak anak muda zaman sekarang untuk melestarikan budaya leluhur. Tapi kelihatannya sekarang ada kesinambungan,” tuntas Hartono.

JAWA DI TANAH SULTENG: Markas sekaligus rumah galeri Eko Wandowo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
JAWA DI TANAH SULTENG: Markas sekaligus rumah galeri Eko Wandowo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

» Baca Berita Terkait Pemprov Jatim