Instruksi PWNU ke TPS Berbaju Putih, Pengamat: Tak Elegan!

Pengurus PWNU Jatim serukan Nahdliyin ke TPS pakai baju putih. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Pengurus PWNU Jatim serukan Nahdliyin ke TPS pakai baju putih. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

SURABAYA, Barometerjatim.com – Instruksi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim mengundang kritik. Dari empat butir, ada satu yang dinilai tidak tepat, yakni ajakan ke TPS memakai baju putih yang mirip dengan seruan Paslon 01, Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Instruksi nomor 1, 2 dan 4 saya bisa memahami. Instruksi yang nomor 3 itu tidak populer dan bisa mematik reaksi negatif,” kata Pengamat Politik asal Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam, Selasa (16/4/2019).

Menurut Surochim, sebagai Ormas sosial keagamaan yang adaptif di akar rumput mestinya PWNU bisa lebih elegan, karena instruksi nomor tiga tersebut justru bisa mematik sentimen negatif.

“Kelasnya instruksi PWNU harusnya lebih substantif, elegan, dan menaburkan semangat NU sebagai penjaga khitthah. Apalagi instruksi itu tidak hanya untuk pengurus, tetapi juga warga NU,” katanya.

Surochim menambahkan, sebagai institusi struktural PWNU harus bisa menunjukkan kelasnya, khususnya dalam menjaga dan tenggang rasa kepada warga non NU.

“Selama ini jalan dakwah kultural NU tidak pernah mendahulukan dan mementingkan simbol-simbol fisik, tetapi jalan simbolik kultural substantif. Itu juga mengapa NU selalu bisa adaptif, mencair, dan adaptif dengan berbagai kelompok di luar NU,” paparnya.

Jalan kultural itu, lanjut pengamat yang juga peneliti senior lembaga survei Surabaya Survei Center (SSC) itu, semestinya lebih banyak diadopsi jika ingin menjaga khitthah dan sebagai rahmat alam dalam jargon Islam Nusantara.

“Menurut saya akan mengundang tanya, karena TPS itu milik bersama dan dengan menunjukkan seragam itu akan terlihat eksklusif,” tandasnya.

Harusnya Lebih Subtantif

Surochim menyarankan, lebih baik memilih instruksi yang lebih substantif menjaga kebhinekaan dan inklusifitas NU sebagai gerakan kultural yang elegan serta fleksibel adaptif terhadap lingkungan.

“Itu akan jauh menjaga marwah NU ketimbang harus berseragam, yang bisa mematik polemik dan dugaan tidak independensi dalam politik kepada umat,” katanya.

Warga NU, menurut Surochim, akan terus bertanya dengan instruksi itu dan yang kritis akan bertanya lebih jauh ada maksud apa di balik instruksi itu. Apalagi ini era serba terbuka.

“Menurut saya instruksi yang elegan saja, karena dalam politik warga NU bisa berbeda pilihan. Tidak lazim untuk ruang publik bersama dan iklim Pemilu yang Luber,” katanya.

“Warga NU bisa membaca lebih cerdas sekarang terhadap hal-hal seperti itu dalam hajatan politik, itu tidak elegan,” tuntasnya.•

» Baca Berita Terkait Pemilu 2019, PWNU Jatim