Gus Ipul Suka Traktir Kiai Biar Didukung Jadi Gubernur

CAK NUN-SIGIT: Cak Nun (kanan) berbincang dengan Pembina YKN, Sigid Haryo Wibisono (tengah) sebelum acara Halal bi Halal e Arek Suroboyo dimulai. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Emha Ainun Nadjib memang “kiai mbeling”. Tokoh kharismatik asal Jombang yang lekat dipanggil Cak Nun itu selalu menyelipkan lelucon untuk menambah suasana gayeng pengajian yang dihadirinya. Tak jarang pula, pejabat yang hadir dijadikan ‘olok-olok’ di hadapan jamaahnya.

Kali ini Wagub Jatim, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang declare maju di Pilgub Jatim 2018 jadi objek ‘olok-olok’ saat acara Halal bi Halal e Arek Suroboyo yang digelar Yayasan Kalimasadha Nusantara (YKN) bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Jalan Imam Bonjol, Surabaya, Rabu (19/7) malam.

Bahkan, sama sekali tak canggung, Cak Nun memanggil Gus Ipul dengan sebutan “Lontong”. Setelah memperkenalan tokoh-tokoh yang berada di atas panggung bersamanya, di antaranya Hariman Siregar (tokoh Malari), Cak Nun kemudian mengolok-olok Gus Ipul.

• Baca: Refleksi Persatuan, YKN Halal bi Halal Bareng ‘Kiai Mbeling’

“Iki Lontong. Selamete aku iki wonge sabare pol. Nraktir yo gak tau. Sing ditraktir kiai-kiai ae cik ndukung dadi gubernur (Beruntung saya ini orang yang sangat sabar. Yang ditraktir hanya para kiai biar didukung menjadi gubernur),” selorohnya sebelum memulai pengajian yang disambut ger-geran ribuan jamaah.

Wis rek, wis yo rek.. Oke. Bismillah,” tambahnya, sambil mengajak ribuan jamaah — sebagain di antaranya jamaah Maiyah, penggemar Cak Nun — untuk memulai pengajian.

Situasi Ketidakseimbangan

HALAL BI HALAL: Ribuan jamaah menghadiri Halal bi Halal e Arek Suroboyo yang digelar Yayasan Kalimasadha Nusantara (YKN) bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Jalan Imam Bonjol, Surabaya, Rabu (19/7) malam. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Selebihnya, Cak Nur bicara panjang lebar terkait kondisi negara saat ini, termasuk penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang menuai pro dan kontra di masyarakat.

Suami artis Novia Kolopaking itu menyebut kondisi bangsa Indonesia kini dalam situasi penuh ketidakseimbangan. “Ketidakseimbangan berpikir, manajemen, apa saja. Lahirnya Perppu Ormas adalah hasil dari ketidakseimbangan,” paparnya.

• Baca: Lewat Perppu Ormas, NU juga Bisa Bubar

Kendati demikian, dia berharap seluruh elemen bangsa tidak putus asa dengan kondisi sekarang. “Ke depan, harus berpikir mencari siapapun kelompok orang, cara berpikir, yang dasar tujuannya adalah mencari keseimbangan. Karena hidup adalah keseimbangan,” tandasnya.

Namun, lagi-lagi setengah berseloroh, di tengah ketidakseimbangan ada elemen bangsa yang tetap merasa bahagia, yakni Bonek — sebutan suporter klub sepakbola Persebaya Surabaya.

“Bangsa Indonesia yang paling bahagia itu Surabaya, karena Bonek ada di sini. Orang tidak punya uang banyak yang susah, tapi kalau Bonek biarpun nggak punya uang, dia tetap nikah,” katanya yang disambut gelak tawa jamaah.