Dulu ‘Wilayah’ Karsa, Kini Madura Lebih Ramah buat Khofifah

DIDORONG PIMPIN JAWA TIMUR: (Dari kiri atas searah jarum jam) Bupati Bangkalan RK Muh Makmun Ibnu Fuad, tokoh Madura H Nasir Zaini, Pengasuh Ponpes Al Anwar KH Mukhlis Muksin dan Plt Bupati Sampang Fadilah Budiono saat menyambut kehadiran Khoffah di Madura. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP

BANGKALAN, Barometerjatim.com – Dua kali Pilgub Jatim (2008 dan 2013) digelar, wilayah Madura ‘didesain’ tak ramah buat Khofifah Indar Parawansa lewat beragam propaganda, black campaign hingga kecurangan di TPS, khususnya di Kabupaten Bangkalan dan Sampang.

Bahkan, Pilgub Jatim 2008 harus digelar sampai tiga putaran karena Khofifah yang saat itu berpasangan dengan Brigjen TNI (Purn) Mudjiono (Kaji) dikerjai habis-habisan oleh ‘pengendali’ politik nasional dan Jatim yang lebih berpihak pada pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa).

Sampai-sampai lembaga survei harus kehilangan martabatnya, lantaran hasil quick count yang mengunggulkan Kaji ‘dijarah’ habis-habisan lewat rekapitulasi KPU Jatim.

Mengutip buku Vote for Kaji Plundered – East Java Gubernatorial Election Scandal, kala itu hasil hitungan cepat lima lembaga survei — tiga di antaranya level nasional dan cukup kredibel — nyata-nyata Kaji mengungguli Karsa.

• Baca: 4 Alasan Kiai Pengasuh Ponpes Besar Dukung Khofifah

Lembaga Survei Indonesia (LSI) pimpinan Saiful Munjani merilis pasangan Kaji meraih 50,44 persen suara, Karsa 49,56 persen. Persentase ini didapat LSI dari sampel 400 TPS yang tersebar di 62 ribu lebih TPS di seluruh Jatim.

Sampel TPS yang sama diambil Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA. Hasilnya tak jauh beda: Kaji meraup 50,77 persen, Karsa 49,23 persen. Pun demikian dengan Lembaga Survei Nasional (LSN) pimpinan Umar S Bakrie yang mengunggulkan Kaji dengan 50,29 persen dan Karsa 49,23 persen.

Namun rekapitulasi KPU Jatim menetapkan hasil bertolak belakang, Karsa berbalik menang di 22 kabupaten/kota dengan 7.729.944 suara (50,20 persen), sedangkan Kaji hanya menang di 16 kabupaten/kota dengan 7.669.721 suara (49,80 persen). Ada selisih 60.223 suara atau 0,4 persen dan 506.343 suara dinyatakan tidak sah.

“Saya heran, baru kali ini lembaga survei salah semua dengan angka error-nya ada di Kaji semua,” gundah Umar S Bakrie kala itu. ” KPU Jatim-lah yang memenangkan Karsa.”

• Baca: Petinggi Golkar: Survei Tak Unggulkan Khofifah, Itu Palsu

Dan inilah jawaban atas rasa gundah Umar S Bakrie: Pilgub Jatim 2008 diwarnai kecurangan secara sistematis, terstruktur dan masif. Terbukti dengan amar putusan majelis hakim Mahkamah Konstitusi (MK) yang diketuai Mahfud MD memerintahkan KPU Jatim agar menggelar pemilihan ulang di Bangkalan dan Sampang serta penghitungan ulang di Pamekasan.

Namun hasil pasca putusan MK tak banyak berubah karena praktik kecurangan belum berakhir. Hasil pemilihan dan hitung ulang tetap menguntungan Karsa.

Sedihnya lagi, Kapolda Jatim saat itu, Irjen Pol Herman S Sumawiredja — yang kemudian menjadi pasangan Khofifah di Pilgub Jatim 2013 — dibuat tak berdaya meski mengakui banyak kecurangan.

16 Maret 2009, Herman pun memilih pensiun dini daripada harus membiarkan eks Ketua KPU Jatim, Wahyudi Purnomo bebas berkeliaran karena penetapan tersangka yang dikeluarkan Polda Jatim dianulir Mabes Polri.

Doakan Khofifah Gubernur

SAMBUTAN HANGAT RA MOMON: Bupati Bangkalan, RK Muh Makmun Ibnu Fuad menyambut hangat dan membisikkan sesuatu kepada Khofifah usai penyaluran PKH di Pendopo Agung Kabupaten Bangkalan. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Kini, hampir sepuluh tahun berlalu sejak Pilgub Jatim 2008, Madura — yang sebenarnya dari dulu memang ramah — terlihat kian ramah dengan Khofifah.

Di Bangkalan, misalnya, keramahan tak hanya ditunjukkan Bupati RK Muh Makmun Ibnu Fuad alias Ra Momon tapi seluruh warganya, termasuk tokoh masyarakat dan pengasuh pondok pesantren (Ponpes).

Mereka tak sekadar menyambut kehadiran Khofifah sebagai Menteri Sosial, tapi mendorong dan mendoakan agar perempuan yang juga ketua umum PP Muslimat NU itu menjadi gubernur pasca kepemimpinan Soekarwo.

“Mari kita doakan, mudah-mudahan beliau pada periode berikutnya menjadi gubernur Jatim. Amin, setuju?” kata Pengasuh Ponpes Al Anwar Bangkalan, KH Mukhlis Muksin di sela penyaluran Bansos PKH non tunai di penghujung Ramadhan lalu yang disambut koor serempak hadirin, “Setuju!”

“Mudah-mudahan beliau oleh Allah Swt dipanjangkan umurnya. Mudah-mudahan ibu kita tercinta ini diberi kesehatan dhohir dan batin serta makin sukses. Amin. Hidup Ibu Khofifah! Hidup Ibu Khofifah! Hidup Ibu Khofifah!” sambungnya berapi-api.

• Baca: 11 Jam Khofifah-Anas Bikin Suhu Pilgub Jatim Menghangat

Sebelumnya, keramahan juga ditunjukkan Bupati Bangkalan, Ra Momon saat Khofifah memberikan bimbingan teknis kepada pendamping dan operator PKH di Pendopo Agung Bangkalan, 15 Agustus 2016.

Inilah kali pertama Khofifah hadir di Pendopo Agung Bangkalan sejak dua kali running di Pilgub Jatim. Dari informasi yang didapat Barometerjatim.com, semula acara dijadwalkan digelar di rumah dinas wakil bupati. Namun Ra Momon-lah yang meminta agar acara dipindahkan ke pendopo kabupaten.

Kemesraan Ra Momon-Khofifah makin terlihat saat pemotongan kue HUT ke-71 RI. Putra RKH Fuad Amin Imron itu bahkan menjemput kehadiran Khofifah saat terlebih dahulu mengisi kuliah ilmiah di Universitas Trunojoyo. Di situ Khofifah juga disambut sejumlah tokoh Madura, di antaranya H Nasir Zaini yang juga Ketua Forum Madura Bersatu (Formabes).

12 hari kemudian, tepatnya 27 Agustus 2016, Ra Momon bersama sejumlah kepala daerah di Jatim, termasuk Wakil Bupati Lamongan Kartika Hidayati, juga terlihat menemui Khofifah di rumah dinas bupati Jember.

Khofifah hadir di Jember dan disambut langsung Bupati dr Faida untuk menghadiri acara Mata Najwa On Stage bertajuk Perempuan Penentu di Stadion Jember Sport Garden. Khofifah tampil sebagai narasumber bersama Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti dan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani.

Peluk Hangat ‘Si Miskin’

HADIR DI TENGAH WARGA TAK MAMPU: Tak hanya menyalurkan Bansos, Mensos Khofifah juga tak canggung memeluk hangat warga tak mampu penerima PKH non tunai. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP

Keramahan juga menyambut Khofifah saat penyaluran bansos PKH non tunai di Pendopo Kabupaten Sampang. Secara khusus, Plt Bupati Sampang, Fadilah Budiono mengajak warganya agar mengingat nama Khofifah yang tak henti menunjukkan kepeduliannya pada warga kurang mampu.

“Ibu-ibu kenal dengan Bu Menteri? Siapa namanya, Bu?” kata Fadilah yang dijawab penerima PKH, “Bu Khofifah!” Fadilah pun menimpali, “Alhamdulillah, ternyata ibu-ibu kenal semua dengan calon gubernur Jatim,” katanya disambut aplaus seisi pendopo kabupaten. “Kalau saya kenal banget sama beliau,” tambahnya.

• Baca: Lewat Lukisan, Cara Gusdurian Madura Dukung Khofifah

Selebihnya, Fadilah mengucapkan terima kasih atas kehadiran Khofifah yang sudah berkali-kali membantu menurunkan angka kemiskinan di Sampang.

“Karena dari IPM, kemiskinan ini termasuk yang harus kami garap dan kedatangan Ibu Khofifah membawa angin segar, membawa kebahagiaan bagi rakyat kami yang saat ini memang perlu dibantu,” paparnya.

Usai penyaluran Bansos PKH, Fadilah turut mendampingi Khofifah yang secara sepontan dihadiahi lukisan oleh Ketua Gusdurian Madura, Ra Fudoli. Lukisan tersebut tanda Gusdurian Madura mendukung dan siap memenangkan Khofifah menjadi gubernur Jatim di Pilgub 2018.