Bambang Gentolet, Tetap Laku Tanpa Bendera Srimulat

TUTUP USIA: Bambang Gentolet, tetap laku meski tak lagi bergabung dengan Srimulat karena pandai meramu materi lawakan. | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Bambang Gentolet berpulang. Pelawak legendaris bernama asli Kasbianto itu meninggal dunia karena sakit, satu jam setelah dirawat di Rumah Sakit (RS) Bakti Dharma Husada Surabaya, Kamis (27/4) malam.

Jenazah pelawak kelahiran Yogjakarta, 30 Juni 1941 dan menghabiskan hidupnya di Kota Pahlawan tersebut dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Babad Jerawat, Benowo, Surabaya, usai shalat Jumat.

Anak pertama Bambang, Winarti mengaku kehilangan sosok ayah pekerja keras meski di usia senja. “Tak ada firasat apa-apa, tapi dua hari sebelum meninggal sempat mengeluh sesak napas,” kata Winarti dengan raut wajah berduka.

• Baca: Moechtar, ‘Begawan’ Sastra Jawa itu Berpulang

Salah satu tetangga Bambang juga menceritakan hal yang sama. Sebelum meninggal dunia dia sempat bercanda dengan para tetangganya di Manukan Tengah III Blok 6 i/1 Surabaya.

Namun Kamis malam sekitar pukul 19.00 WIB dia mengeluh sesak napas. Untuk selanjutnya dibawa ke RS Bakti Dharma Husada pukul 21.00 WIB. Komedian Srimulat seangkatan dengan Tarzan, Tessy dan Asmuni itu dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 22.00 WIB.

Seniman Ludruk Jawa Timur, Dewi Wati Agustini mengatakan, Bambang yang selalu tampil dengan khas rambut kuncung saat melawak terjun di dunia komedian sejak masih duduk di bangku SMP di Yogjakarta.

Kemudian dia mulai dikenal dan kerap manggung di Jawa Timur sejak bergabung dengan Grup Lokakarya yang berbasis di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada 1967.

Keluar dari Lokakarya, Bambang bergabung Srimulat yang bermarkas di Solo. Saat grup ini pindah ke Surabaya, dia ikut hijrah dan menetap di Kota Pahlawan hingga meninggal dunia.

Terakhir, Bambang dipercaya mengisi acara ‘The Gentolet’ di salah satu stasiun televisi lokal di Surabaya.

“Almarhum adalah mentor ludruk dan lawakan bagi seniman Jawa Timur. Saya sendiri sangat mengagumi dan mengganggapnya sudah seperti orang tua. Saya manggilnya saja ayah,” aku Dewi.

• Baca: Darah NU Mengalir Deras di Negeri Samurai

Satu hal  yang menjadikan Bambang tetap laku di dunia lawakan meski sudah tidak bergabung dengan Srimulat, lanjut Dewi, karena pandai meramu materi komedi sesuai perkembangan zaman.

“Almarhum selalu up to date kalau sudah berada di atas panggung. Itulah kenapa para pelaku seni peran hormat kepadanya,” tuturnya.

Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia Jawa Timur, Nonot S Mono juga mengatakan hal senada. Di mata seniman, katanya, almarhum adalah sosok bersahaja. “Hidupnya diabdikan untuk kesenian, khususnya seni drama lawakan. Selalu ada nasihat dalam lawakannya,” tandasnya.