Moechtar, ‘Begawan’ Sastra Jawa itu Berpulang

‘BEGAWAN’ SASTRA JAWA: Moechtar, kenapa harus orang-orang Sunda yang mempertahankan sastra Jawa? | Foto: Ist

“Jangan tanya bagaimana dia meninggal, tapi tanyalah bagaimana dia menjalani hidup.”

MOECHTAR, mantan Pemimpin Redaksi (Pemred) Majalah Panjebar Semangat itu berpulang. Meninggal dunia di usia 92 di kediamannya Jl Pucang Asri 9, Surabaya, Jumat (17/3), sekitar pukul 02.15 WIB.

Jenazah dimakamkan satu liang lahat dengan istrinya, Ismi Soearni yang lebih dulu meninggal pada Februari 1999 di TPU Ngagelrejo Jalan Ngagel Jaya Selatan, Surabaya. Beberapa meter dari makam pasangan ‘suami-istri legendaris’ pendiri Harian Sore Surabaya Post, Abdul Azis dan Toety Azis.

Kepergian Moechtar yang meninggalkan lima anak dan delapan cucu menorehkan duka mendalam bagi dunia jurnalistik dan sastra — terutama sastra Jawa. Para tokoh pers dan jurnalis berbondong-bondong melayat ke rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir. Sementara sejumlah instansi mengirim bunga tanda belasungkawa.

***

Nama Moechtar nyaris tenggelam dalam sejarah tokoh pers dan jurnalistik di tanah air, meski sepanjang hidupnya beragam penghargaan terus mengalir untuk menghargai prestasi dan menghormati dedikasinya.

Di 1998, dia menerima piagam dari pemerintah RI selaku Tetua Wartawan atas dasar darma bakti dan kegigihannya menggeluti profesi kewartawanan secara aktif terus-menerus hingga usia 70 tahun lebih.

Tiga tahun berselang, menerima Bintang Kencana Budaya dan Piagam Budaya dari PLKJ (Pusat Lembaga Kabudayan Jawi) Surakarta. Berikutnya, di 2013, menerima hadiah sastra Rancage 2003 untuk jasa-jasanya di bidang pelestarian, pengembangan dan pembinaan bahasa dan sastra Jawa.

Beragam penghargaan itu lebih dari sekadar pantas diterima Moechtar lantaran sinar karya-karyanya menghiasi kazanah sastra dan jurnalistik di tanah air. Hal itu bisa dilihat lewat buku Serenade Schubert, Kumpulan Cerpen Dunia Pilihan (bahasa Jawa, 2003).

Lalu Ki Ageng Séla Nyekel Bledhèg”, Kumpulan Cerita Rakyat kiasan yang Tidak Masuk Akal, disertai keterangan dan makna yang sesungguhnya (bahasa Jawa, 2006) hingga Multatuli, Pengarang Besar, Pembela Rakyat kecil, Pencari Kebenaran dan Keadilan (bahasa Indonesia, 2005).

“Kenapa harus orang-orang Sunda yang mempertahankan sastra Jawa?” Banyak orang Jawa yang kaya, tetapi mungkin mereka hanya kaya harta. Jadi, ketika sudah bicara apresiasi sastra, mereka tidak lakukan apa-apa.”

Lewat sentuhan Moechtar, buku Multatuli menjadi jauh berbeda dengan karya HB Jassin yang menerjemahkan Max Havelaar. Moechtar berupaya menuliskan hal-hal yang tidak terangkum dalam buku itu.

Maka, keluarlah berbagai pustaka koleksinya. Mulai dari buku Verzamelde Werken van Multatuli, harian berbahasa Belanda Haagsche Post dan De Gids, hingga Indonesia Menggugat dari Bung Karno dan buku tentang Indonesia karangan Lous Fischer.

Berbagai pustaka ini dikeluarkan demi memperkaya profil Multatuli, terutama bagian-bagian yang belum diketahui orang banyak.

• Baca: Kisah Heroik ‘Doktor Prostitusi’

Moechtar menekuni profesi jurnalis sejak 1950 sebagai wartawan Harian Espres. Setelahnya dia berkarya di sejumlah media, termasuk menjadi redaktur di Harian Bhirawa, hingga pada 1982 diajak bergabung dengan Majalah Panjebar Semangat.

Majalah berbahasa Jawa yang didirikan dr Soetomo yang juga pendiri Boedi Oetomo pada 1933 itu membutuhkan tenaga Moechtar karena kemahirannya menulis dalam bahasa Jawa. 18 tahun kemudian dia dipercaya menjadi Pemred.

Tak hanya mahir menulis dalam bahasa Jawa, Moechtar juga piawai menerjemahkan karya-karya sastra sejumlah pengarang level dunia. Di antaranya Honore de Balzac (Prancis), Ignazio Silone (Italia), Saki (Myanmar), Edgar Allan Poe (Amerika Serikat), Ernest Hemmingway (Amerika Serikat) dan Arturo Barea (Argentina). Karya dengan beragam bahasa ini diterjemahkan secara brilian ke dalam bahasa Jawa.

***

Moechtar memang telah pergi untuk selamanya. Tapi karya hebatnya terus terpatri di kazanah sastra tanah air dengan berbagai kritik tajam yang dilontarkan atas ketidakpedulian orang-orang Jawa terhadap sastra Jawa.

Ya, rasanya baru kemarin saat pidato ‘hebohnya’ di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), 16 September 2003, membelalakkan mata dan hati para pelaku sastra Jawa. Pidato ‘heroik’ itu lantas ramai-ramai ditulis media nasional.

Naik mimbar sebagai penerima Hadiah Sastra Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage, tulis Harian Kompas, kalimat yang terlontar dari bibir Moechtar ibarat berondongan peluru, tajam menghujam terkait kecintaannya pada sastra Jawa.

“Kenapa harus orang-orang Sunda yang mempertahankan sastra Jawa?” katanya membuat hadirin terhenyak sekaligus memberikan aplaus panjang.

Moechtar pun melanjutkan ‘serangannya’, “Banyak orang Jawa yang kaya, tetapi mungkin mereka hanya kaya harta. Jadi, ketika sudah bicara apresiasi sastra, mereka tidak lakukan apa-apa.”

PEMRED PALING SENIOR: Moechtar bersama anak, menantu dan cucu dalam sesi foto keluarga. | Foto: DOK KELUARGA

Rancage adalah bentuk penghargaan atas karya sastra yang pada awalnya hanya diberikan untuk sastrawan Sunda. Hadiah sastra yang diprakarsai sastrawan Ajip Rosidi pada 1989 itu kemudian berkembang dengan memberikan penghargaan kepada karya sastra Jawa sejak 1994 dan sastra Bali sejak 1998.

Tahun itu, Moechtar mendapat penghargaan Rancage atas peranannya melestarikan sastra Jawa. Tajuk-tajuknya di Majalah Panjebar Semangat intensif dengan ide-ide untuk mengangkat martabat bangsa lewat pendidikan berlandas budaya Jawa.

Beberapa judul tajuk Moechtar yang mematri misinya, di antaranya Geneya PWI Melu-melu Nyingkur Basa Manca (Kenapa PWI Ikut-ikutan Menyingkirkan Bahasa Asing – 1995) dan Relevansi Basa Jawa karo Pendhidhikan Budi Pekerti (Relevansi Bahasa Jawa dengan Pendidikan Budi Pekerti – 2001).

• Baca: Darah NU Mengalir Deras di Negeri Samurai

Rupanya, semangat dr Soetomo mengalir deras di tubuh Moechtar. Dengan bahasa Jawa ragam ngoko, majalah ini memilih bahasa Jawa wong cilik. Umur Panjebar Semangat bahkan lebih tua dari republik ini. Lahir pada 2 September 1933 majalah yang berkantor di Surabaya tersebut tetap memperjuangkan kelestarian bahasa Jawa.

“Saya harap generasi muda tidak meninggalkan bahasa ibu mereka,” kata Moechtar. Bahkan semangat itu terus dijaga dan diperjuangkan hingga akhir hayatnya.

Luar Biasa! Perjuangan Moechtar dalam melestarikan sastra dan “bahasa ibu” patut diteruskan generasi negeri ini, terutama orang Jawa. Bukan malah ‘sibuk’ mencari bagaimana dia menjalani proses kematian.

Laiknya kalimat Kapten Nathan Algren dalam The Last Samuari — ketika diminta Kaisar Meiji menceritakan kematian Katsumoto dalam menjaga tradisi Samurai. “Jangan tanya bagaimana dia meninggal, tapi tanyalah bagaimana dia menjalani hidup.”

Selamat jalan ‘Begawan’ Sastra Jawa!