Gurita Prostitusi di Surabaya: Dibingkai Lewat Jasa Pijat dan Spa

PIJAT PLUS: Salah satu tempat pijat dan spa di kawasan Kedungdoro Surabaya. Pelanggan bisa berapa saja dengan theraphis. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR
PROSTITUSI LEWAT LAYANAN PIJAT: Salah satu tempat pijat dan spa di kawasan Kedungdoro, Surabaya. Pelanggan bisa berapa saja dengan theraphis. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

Empat tahun pasca Gang Dolly runtuh, prostitusi masih menggurita di Surabaya. Pelaku membingkainya lewat jasa pijat dan spa.

SEMUA tampak biasa saja saat kita melintas di wilayah Kedungdoro, Surabaya. Tapi jika ditelusuri, di balik kompleks ruko dan bangunan bisnis tersembunyi bisnis ‘esek-esek’ yang dibingkai lewat jasa pijat dan spa.

Di salah satu tempat pijat dan spa, Barometerjatim.com menyaru sebagai pelanggan agar bisa lebih leluasa masuk. Di dalam, kami bertemu dengan Arum (bukan nama sebenarnya). Usianya masih belia, 22 tahun.

Lajang bertubuh ramping ini mengaku baru empat bulan bekerja sebagai theraphis — sebutan untuk pemijat — di sebuah lokasi spa yang cukup lama beroperasi di Surabaya.

• Baca: Libur Lebaran, Bus Suroboyo Bertarif Plastik Kian Diminati

“Lebih banyak (uang) yang dihasilkan,” katanya saat ditanya mengapa memilih terjun menjadi theraphis, akhir pekan lalu.

Anak pertama dari tiga bersaudara ini sebelumnya bekerja sebagai sales di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Pahlawan. Gajinya perbulan Rp 1,8 juta, jauh di bawah UMK Surabaya yang mencapai Rp 3,58 juta.

Arum memutuskan berhenti tanpa ada paksaan dan pengaruh dari siapapun. Belia asal Jember itu langsung mendaftar sebagai therapis. “Gak ada skill mijat. Tapi waktu masuk kita ditraining dulu, pelatihnya asal Jakarta,” tuturnya.

• Baca: Seru Abis! Ngabuburit di Babat Barrage Lamongan

Biaya pijat dan spa di lokasi tersebut, paling murah Rp 500 ribu. Jika tamu memilih Arum untuk memijat, dia hanya diupah manajemen Rp 20 ribu per tamu.

Itupun jika rekapan setiap harinya masuk dalam list. “Kebanyakan ndak masuk. Ndak ada gaji bulanan di sini,” ucapnya.

Namun tips keahlian ‘lain-lain’ yang justru membuatnya bisa bertahan mengarungi kerasnya hidup di Kota Pahlawan.

Tidak hanya itu, upah di luar memijat inilah yang membuatnya meninggalkan dunia sales. Apalagi kalau bukan melayani hubungan seks dengan para tamunya. Setiap pelayanan ada tarifnya.

• Baca: Perjuangan Ali, Pembudidaya sekaligus Penjual Buah Langka

Jika Arum diminta meng-onani tamu dengan berpakaian, tarifnya Rp 200 ribu. “Kalau sambil telanjang bisa Rp 300 ribu,” terang lulusan SMK itu.

Paling besar yakni melakukan ML alias making love. Arum bisa meraup Rp 600-800 ribu pertamu. Jika tamu meminta servis full, tinggal hitung saja pelayanan dari awal hingga mencapai klimaks.

“Kalu aku lagi fit, sehari bisa melayani lima sampai 10 tamu,” ujarnya.

Jaga Kesehatan

Agar kondisinya tetap bersih, setiap bulan Arum dan teman sepekerjaan menjalani pemeriksaan kesehatan. Dokter disediakan manajemen yang datang memeriksa di lokasi, tapi biayanya ditanggung sendiri.

Sejauh ini, menuutnya, tidak ada yang terjangkit penyakit kelamin. Sebab, Standar Operasional Prosedur (SOP) di tempatnya bekerja mewajibkan tamu memakai kondom.

Aturan ini setidaknya membuat Arum merasa lebih nyaman dan aman. Selain resiko hamil dan tertular penyakit lebih kecil juga bisa menghasilkan uang lumayan.

• Baca: Kehabisan Ongkos Saat Pelesir ke Jatim? Ini Solusinya

Baginya, mendapatkan uang dengan cara seperti ini jauh lebih realistis ketimbang harus berdiri berjam-jam sebagai pramuniaga dengan gaji di bawah UMK.

Hasil dari pekerjaan ini juga dinilai lebih cukup. Arum yang memilih indekos di kawasan Jalan Arjuna, bahkan memiliki mobil yang diangsurnya hingga saat ini.

Saat ditanya keinginan berumah tangga, Arum tak terlalu memikirkan. “Nanti saja menikah, tunggu yang langsung ngajak. Sekarang memang belum menikah, tapi kalau kawin sudah tiap hari di sini,” selorohnya.