Dunia Merindukan Juru Damai Sekelas Gus Dur-Kiai Hasyim

MAULIDAN: Khofifah Indar Parawansa memberikan ceramah agama pada peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul ke-7 almaghfurlahum Ponpes Bumi Aswaja, Gresik, Sabtu (23/12). | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP
MAULIDAN: Khofifah Indar Parawansa memberikan ceramah agama pada peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul ke-7 almaghfurlahum Ponpes Bumi Aswaja, Gresik, Sabtu (23/12). | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP

GRESIK, Barometerjatim.com – Berbagai konflik di belahan dunia, terutama di negara-negara Timur Tengah yang mayoritas berpenduduk umat Islam, tak kunjung padam. Sedihnya lagi, hingga kini belum muncul tokoh level dunia yang hadir sebagai “juru damai” untuk membuat suasana kembali tenteram.

Situasi ini menurut Menteri Sosial yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa membuat masyarakat dunia merindukan sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Hasyim Muzadi. Dua tokoh dari Nahdlatul Ulama (NU) ini semasa hayatnya tak lelah keliling dunia sebagai juru damai.

“Ada konflik di Pattani Selatan (Thailand) nanti yang dicari sebagai juru damai dari Indonesia, ketemunya Gus Dur. Setelah beliau wafat, lalu diteruskan Kiai Hasyim,” katanya.

• Baca: Ternyata, Gus Dur Lebih Senang Disebut “Bapak Kemanusiaan”

Pernyataan Khofifah tersebut disampaikan saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul ke-7 almaghfurlahum Ponpes Bumi Aswaja asuhan KH Irsyadul Ibad di Wonokerto, Dukun, Gresik, Sabtu (23/12) yang dihadiri ribuan jamaah.

Begitu juga, lanjut Khofifah, ketika Syekh Nasrullah di Lebanon selatan melakukan gerakan klandestin, yang diminta menjadi juru damai adalah Kiai Hasyim. Pun saat konflik di Moro, Filipina, Kiai Hasyim pula yang diminta turun.

“Jadi kita ini butuh juru damai seperti Gus Dur dan Kiai Hasyim. Tapi hari ini kita belum punya tokoh maupun figur, yang oleh umat Islam di seluruh dunia dianggap bisa dijadikan juru damai seperti beliau berdua,” papar Khofifah.

• Baca: Jalan Kaki 1 Km, Khofifah Hadiri Sewindu Haul Gus Dur

Gus Dur, kata Khofifah, terbukti bisa mengayomi bermacam-macam komunitas, baik NU, non NU maupun non muslim.

“Kita butuh figur seperti itu karena memang kita harus membangun kerukunan, dan ini bagian dari upaya menjaga NKRI. Apalagi mulai lahir Indonesia sudah dihuni beragam suku, bahasa, budaya, termasuk beragam agama,” paparnya.

Bergandengan Tangan

Bagaimana mau mendamaikan dunia jika di interal NU terkadang banyak perbedaan? Khofifah memahami itu semua, terutama kalau sudah menyangkut ijtihad politik baik dalam Pemilu maupun Pilkada.

Namun, menurutnya, ukhuwah nahdliyah harus terbangun karena NU adalah jam’iyah diniyyah ijtima’iyah terbesar di dunia. Maka NU harus dijaga, ditata, jangan kemudian ada masalah malah merembet kemana-mana.

“Ayo kita selesaikan, lalu tokoh-tokoh NU sudah harus siap menjadi juru damai di banyak negara di dunia,” ujarnya.

Terlebih, perintah Al Qur’an, umat Islam di belahan dunia manapun antara satu dengan yang lain harus bergandengan tangan. Jangan sampai berpecah-belah.

• Baca: Anwar Sadad: Abah Hasyim Figur Inspiratif

“Posisi ini yang mesti kita bergandengan tangan dengan umat Islam se-dunia. Ternyata ada saudara kita di Syria, Iraq, Lebanon, Yaman, Mesir dan kini Palestina yang masih dililit konflik,” katanya sembari mengutip surat Ali Imran ayat 103.

Selain membutuhkan juru damai level dunia, terang Khofifah, hal lain yang bisa kita lakukan adalah mendoakan umat Islam di Timur Tengah agar terhindar dari disharmoni berkepanjangan.

“Kita minta kepada Allah Swt, semoga saudara kita diberikan ketenangan, kedamaian dan tidak berkonflik satu dengan yang lain,” katanya.