Belum Beranjak dari Problem Lahan dan Dampak Lingkungan

DISKUSI: Arif Affandi (tengah), dalam diskusi Kepedulian Terhadap BUMN Semen dari Serbuan Asing, Jumat (13/1).

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ketua Umum Badan Kerjasama Badan Usaha Milik Daerah Seluruh Indonesia, Arif Affandi menduga ada pihak asing berada di balik gejolak pabrik PT Semen Indonesia (Tbk) di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Pihak asing tersebut, katanya, punya rencana untuk mendirikan pabrik semen di Kabupaten Pati dan bisa jadi keberadaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu jadi hambatan dari kacamata bisnis.

“Saya dengar kabar ada pabrik asing yang mau berdiri di Pati. Kalau memang benar, jangan-jangan gerakan perlawanan (penolak pabrik Semen Indonesia di Rembang) itu jadi alat perusahaan asing itu,” katanya dalam diskusi bertajuk Kepedulian Terhadap BUMN Semen dari Serbuan Asing di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (13/1).

Namun Arif tidak menjelaskan secara rinci perusahaan asing yang berencana mendirikan pabrik semen di Pati tersebut. “Tapi itu baru dugaan. Mudah-mudahan tidak benar. Kita berbaik sangka saja, semoga perjuangan masyarakat (penolak Semen Indonesia) itu betul-betul untuk masyarakat,” tandasnya.

Polemik Semen Indonesia di Rembang, lanjutnya, sebetulnya sudah berlangsung lama. Problem yang dipersoalkan yakni tentang lahan dan dampak lingkungannya. “Mulai saya jadi wartawan dulu di Jawa Tengah tahun 1990-an, Semen Indonesia sudah ada polemik dengan masyarakat dan sekarang di Rembang,” ucapnya.

Namun, katanya, masyarakat juga perlu berpikir panjang tentang masa depan bangsa Indonesia, terutama dalam menghadapi industrialisasi global. “Satu sisi kita ingin negara ini maju, ada yang dibanggakan, tapi di sisi lain selalu ada yang meriwuki (bikin masalah),” katanya.

Menurut Arif, Semen Indonesia menjadi satu di antara sedikit BUMN yang patut dibanggakan karena kontribusinya yang besar bagi bangsa. “Semen Indonesia ada pabriknya di Vietnam. Telkomsel juga ada di Timor Leste. BUMN Karya, seperti Waskita, juga mengerjakan beberapa proyek di Arab Saudi,” ujarnya.

Dia menambahkan, masyarakat harus memahami bahwa beban tugas BUMN lebih besar dibandingkan perusahaan swasta. “Kalau swasta murni profit. Bagaimana caranya terus mengembangkan kapitalisasi,” ujarnya.

Sementara BUMN, terang Arif, memiliki tugas sebagai alat pemerintah untuk pendapatan negara. “Termasuk BUMD, kalau ketemu DPR yang ditanya pertama kali pasti berapa pendapatannya untuk negara. Sudah setor berapa?” kata mantan Direktur Utama PT Panca Wira Usaha (PWU), BUMD Pemprov Jawa Timur tersebut.• spm