Usut Tuntas ‘Makelar Perizinan’ Penyebab Jalan Gubeng Ambles

(Dari kiri) Risma, Awey, Armuji. Usut tuntas mafia perizinan di Surabaya. | Foto: Ist
(Dari kiri) Tri Rismaharini, Vinsessius Awey, Armuji. Usut tuntas ‘pemain’ perizinan di Surabaya. | Foto: Ist

Cerita Jalan Gubeng ambles sudah selesai. Tapi penyebab dari amblesnya fasilitas negara dan publik itu yang belum tuntas diteliti.

JALAN RAYA Gubeng tak sekonyong-konyong ambles! Tapi ada tangan-tangan kotor manusia yang turut ‘bermain’, diduga kuat akibat pembangunan proyek basement atau parkir bawah tanah milik Rumah Sakit (RS) Siloam yang dikerjakan PT Nusa Konstruksi Enjiniring (NKE).

Salah kaprah konstruksi pembagunan basement inilah, lantas memicu dugaan adanya ‘makelar perizinan’ yang melibatkan anak pejabat di Pemkot Surabaya. Tak main-main, dugaan itu dihembuskan orang nomor satu di DPRD Surabaya yang juga kader PDI Perjuangan, Armuji.

“Yang jelas ya toh, ini ada permainan izin yang diindikasikan, dilakukan oleh anak seorang pejabat,” kata Armuji di sela meninjau lokasi Jalan Raya Gubeng yang ambles, Rabu (19/12/2018) lalu.

Armuji menambahkan, “Ini sudah bukan menjadi suatu isu-isu yang.. tapi ini sudah banyak beredar di Pemkot seperti itu. Ini harus diusut tuntas! Ini mencelakakan dan merugikan warga Kota Surabaya.”

Usut tuntas! Kolega Armuji di DPRD Surabaya, Vinsensius Awey setuju dengan kata-kata itu. “Kalaupun ada potensi ke sana (makelar perizinan) harus diungkap tuntas. “Siapapun, dengan latar belakang apapun, sekalipun, ya, misalnya gitu,” katanya, Kamis (3/1/2019).

Di pihak Polda Jatim, penyidik telah menetapkan dua orang tersangka, yakni inisial F dari bidang perencanaan serta satu lagi (inisial belum disebut) kemungkinan masih dari bidang perencanaan yang di dalamnya menyangkut perizinan.

“Ketika perencanaan sudah ada, tentunya ada bagian perizinannya di situ masuk! Masak sih perencanaan satu proyek tidak ada izinnya? Berarti ini kan proyek bodong! Tentu ada izinnya di sisi bagian perencanaan itu,” terang Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera.

Ada Mediator Perizinan

Soal perizinan, Awey meletupkan fakta lain. Menurutnya, orang yang bisa mempermudah proses perizinan proyek, hanya yang memiliki jalur dan akses khusus ke Pemkot Surabaya. “Kita enggak sebut namanya. Jadi pihak pemberi izin sama pihak pengaju izin ada mediatornya,” ungkapnya.

Karena itu, anggota Komisi C DPRD Surabaya tersebut berharap agar penyidikan Polda Jatim tidak hanya berkutat di level bawah alias di pihak kontraktor semata.

“Tapi dari leveling atas (Pemkot Surabaya) yang mengeluarkan (izin), termasuk yang memungkinkan memediasi. Katakan ada yang memediasi, yang mempercepat proses ini (izin proyek) atau makelar atau apalah,(harus) diungkap tuntas juga!” tegasnya.

Secara khusus, Awey berharap penyidik bisa menelusuri lebih jauh terkait dugaan keterlibatan seseorang yang disebut Armuji sebagai anak pejabat. “Hukum, proses ini jangan sampai mencari satu dua orang sebagai kambing hitam,” ucapnya.

Dari sisi Pemkot, Awey meminta Wali Kota Tri Rismaharini (Risma) agar memperlakukan kasus Jalan Gubeng ambles secara fair. Sama ketika dia marah-marah melihat tanaman di Taman Bungkul diinjak pengunjung saat acara bagi-bagi es krim gratis, 11 Mei 2014.

“Kami sangat menyayangkan kalau Pemkot hanya puas sampai sebatas itu (recovery jalan). Begitu luar biasa (marahnya Risma saat Taman Bungkul rusak). Itu sampai siapapun tahu marahnya (Risma) luar biasa,” katanya.

Namun ketika Jalan Gubeng ambles dan melumpuhkan perekonomian di sekitar kejadian, sesal Awey, hanya ditanggapi biasa-biasa saja.

“Tidak sedahsyat saat menanggapi taman rusak. Maka kita meminta dari Pemkot, kepolisian juga, untuk membuka terang siapa (makelar perizinan) di balik itu semua,” tandas Awey. •

» Baca Berita Terkait Gubeng Ambles, Pemkot Surabaya