Pengamat: BDH Masih Punya Pengaruh di Pilwali Surabaya

RISMA MASUK, BDH TERLEMPAR: Risma cium tangan Megawati (foto kanan) dan Bambang DH. | Foto: IST
RISMA MASUK, BDH TERLEMPAR: Tri Rismaharini alias Risma cium tangan Megawati (foto kanan) dan Bambang DH (foto kiri). | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pasca Tri Rismahari alias Risma masuk kepengurusan DPP PDIP periode 2019-2024, kekuatan tiga faksi di internal PDIP Surabaya — Risma, Bambang DH dan Whisnu Sakti Buana — dinilai kian dinamis jelang Pilwali 2020.

Terlebih Bambang Dwi Hartono (BDH) justru terlempar dari kepengurusan DPP, dan Whisnu yang sukses membawa PDIP juara pada Pileg 2019 di Kota Pahlawan tak lagi ditugaskan sebagai ketua DPC — DPP lebih memilih Adi Sutarwijono alias Awi.

Sudah habiskah pengaruh BDH untuk Pilwali Surabaya? “Pak BDH saya pikir masih tetap punya pengaruh dan tidak bisa diremehkan,” nilai Pengamat Politik, Surokim Abdussalam pada Barometerjatim.com di Surabaya, Selasa (20/8/2019).

“Relasi personal beliau dengan Bu Mega (Megawati Soekarnoputri, Ketum DPP PDIP) ditambah kekuatan dalam kepengurusan DPC Surabaya yang baru, Pak BDH masih tetap punya pengaruh kuat dalam Pilwali 2020 nanti,” sambungnya.

Tapi dengan Risma naik ke DPP, lanjut Surokim, membuat Pilwali Surabaya kian dinamis karena kekuatan di internal PDIP relatif berimbang. Bisa jadi faksi Risma menguat seiring masuknya wali kota Surabaya itu ke DPP.

“Kendati itu juga bukan jaminan!” tandas Surokim. “Bahwa intensitas pertemuan Bu Risma dengan Bu Mega akan kian intens iya, sehingga bisa menguatkan sounding calon-calon yang didukungnya.”

Kalaupun faksi Risma saat ini dianggap leading, “Saya pikir itu juga enggak jauh-jauh, masih berimbanglah. Sekarang kan masih ‘tes ombak’ ya, calon-calon baru muncul ke publik,” kata Surokim.

Pengamat yang juga Dekan FISIP Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu meyakini, DPP PDIP tetap akan mempertimbangkan hasil survei melihat elektabilitas calon untuk menjaga tradisi menang di Surabaya.

“Menjaga tradisi untuk menang di Surabaya sebagai salah satu basis penting mereka, yang akan punya multiplier effect pada 18 Pilkada lainnya di Jatim,” ujar peneliti senior di lembaga survei Surabaya Survey Center (SSC) tersebut.

Karena itu, kata Surokim, kekuatan-kekuatan internal PDIP akan terus berjuang memberi pengaruh pada Megawati sebagai pemegang otoritas rekom calon.

“Dan masih juga akan bergantung pada dinamika hingga Maret 2020, satu bulan menjelang pendaftaran calon,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, PDIP