Urusan Pakai Masker, Orang Amerika Lebih Bandel dari Jatim

CEGAH COVID-19: Joni Wahyuhadi, orang Amerika lebih bandel dari Jatim soal tak pakai masker. | Foto: Barometerjatim.com/ROY
CEGAH COVID-19: Joni Wahyuhadi, orang Amerika lebih bandel dari Jatim soal tak pakai masker. | Foto: Barometerjatim.com/ROY

SURABAYA, Barometerjatim.com – Orang Jatim dinilai bandel untuk urusan memakai masker selama pandemi Corona (Covid-19). Sampai-sampai Presiden Jokowi, Juni lalu, memerintahkan agar Jatim dikirim masker sebanyak-banyaknya lantaran ada 70 persen warga tak bermasker.

Tapi orang Jatim rupanya bukan terbandel, karena masih ada ‘biangnya’ bandel yakni orang Amerika Serikat (AS). Bedanya, mereka ogah memakai masker karena punya alasan ilmiah. Hal itu diungkap Koordinator Rumpun Kuratif Satgas Covid-19 Jatim, dokter Joni Wahyuhadi.

“Dua minggu lalu, Sabtu, seharian saya ngikuti kuliah dari Prof Irfan. Beliau itu ahli virus, ahli imunologi, orang Indonesia menjadi profesor di Berkley, University of California, luar biasa!” tutur Joni, Sabtu (8/8/2020).

“Beliau frustrasi dengan orang Amerika tentang Corona. Lebih bandel daripada orang Jatim katanya, lebih bandel daripada orang Indonesia karena ndak pakai masker disertai dengan landasan ilmiah,” sambungnya.

Dan ternyata pandangan Prof Irfan dari sisi ilmu pengetahuan, lanjut Joni, untuk terinfeksi virus setiap orang harus punya reseptor yang disebut Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2).

“Jadi, kalau kita tidak punya reseptor atau reseptor kita sedikit, virus banyak masuk kita ndak apa-apa. Virusnya ndak bisa menempel di kita,” jelasnya.

“Masuk melalui hidung, melalui mulut, ya sudah. Ya melalui mulut, hidung ketemu di faring lari masuk ke esofagus sebagian, masuk ke lambung kita, mati dia,” katanya.

Biarpun masuk ke paru-paru, karena tidak punya pengikat, reseptor akan hilang begitu saja. “Makanya mereka, itu yang dipakai untuk tidak pakai masker oleh orang-orang Amerika, alasan itu,” katanya.

Lihat Triangle Epidemiologi

Joni lantas menjelaskan, bahwa timbulnya suatu penyakit harus kita lihat dari triangle epidemiologi: Host (manusia), agent (virus), dan environment (lingkungan).

“Dari sisi host, kebetulan manusia ini bertindak dua, sebagai host dan vector (pembawa virus). Apa yang paling utama adalah ketahanan tubuh orang itu terhadap virus,” katanya.

Lalu berat ringannya seseorang terhadap serangan virus, ditentukan oleh sistem imun dia sendiri. Ada orang dimasuki sedikit virus ke dalam tubuhnya, kemudian sistem imunnya melawan.

Ternyata, gejala yang ada ada, mulai dari panas, batuk sesak, kerusakan paru-paru, ginjal, itu akibat reaksi imun dari pasien itu sendiri. Bukan dari virusnya.

“Nah, karena kita ini tidak tahu bagaimana reaksi tarhadap virus makanya yang penting jangan dimasuki virus. Caranya ya social/physical distancing,” katanya.

“Kalau saya tahu ndak punya reseptor ya tenang-tenang saja, enggak usah pakai masker kemana-mana. Tapi kita kan enggak tahu,” tandas Joni yang juga irut RSUD dr Soetomo — RS milik Pemprov Jatim.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona