Ramaikan Bandara Turunojoyo, Sumenep Akan Bangun Hanggar

SIAPKAN HANGGAR: Wabup Achmad Fauzi (inset) akan bangun hanggar di Bandara Trunojoyo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
SIAPKAN HANGGAR: Wabup Sumenep, Achmad Fauzi (inset) akan bangun hanggar di Bandara Trunojoyo. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – 1,5 tahun sejak dikomersilkan pada 2018, Bandara Tunojoyo di Kabupeten Sumenep, Madura, tak kunjung ramai.

Salah satu penyebab, masyarakat Sumenep dan Madura pada umumnya belum terbiasa menggunakan jalur udara sebagai kebutuhan.

“Kebiasaan ini kan penting. Masyarakat merasa masih bisa lewat jalur darat. Dari Sumenep ke Surabaya ya sudah lewat darat saja,” kata Wakil Bupati (Wabup) Sumenep, Achmad Fauzi di Surabaya, Jumat (12/7/2019).

“Tapi lambat laun saya meyakini pasti jalur udara ini akan semakin padat. Dengan pertumbuhan ekonomi yang akan berkembang di Madura, pasti akan menyita waktu mereka untuk lewat darat dan memilih transpostasi udara,” paparnya.

Selain itu, Pemkab Sumenep juga akan membuat gebrakan dengan membuat hanggar untuk pesawat kecil jenis ATR 72 ke bawah yang selama ini kalau servis harus ke Singapura.

“Kami dengan kepala bandara rencananya, kalau tidak ada halangan dalam proses pembebasan lahan berikutnya dan pihak ketiga setuju, untuk investasi membangun hanggar di Sumenep,” tuturnya.

“Saya meyakini kalau di Sumenep dibuka misalnya empat hanggar, itu pesawat seperti ATR, tinoter, perintis, pasti di sana servisnya,” sambungnya.

Nah, saat pesawat ATR dan sejenisnya sudah ada di hanggar Turnojoyo, termasuk jet-jet pribadi, diyakini bandara dan penumpang komersialnya akan lebih ramai.

Apalagi dalam setahun ini grafik komersial di Bandara Trunojoyo masih naik turun. “Makanya kita berpikir harus ada terobosan. Kita sudah ada komunikasi dengan calon-calon pembangun hanggar,” ujarnya.

Target membuat hanggar ini, tanda Fauzi, menjadikan tempat servis dari beberapa pesawat menjadi puluhan pesawat. Sehinga banyak pesawat yang akan parkir di Trunojoyo dan akan mengerakkan semua lini.

Komunikasi dengan Provinsi

Kapan rencana tersebut terealisasi? Menurut Fauzi, sebenarnya kalau lahan yang dibutuhkan tidak terlalu besar, paling hanya butuh tiga hektare di lokasi bandara.

“Tapi kan kita harus mengikuti site plan yang ada, penloknya kan mengikuti provinsi. Kita lagi komunikasikan dengan provinsi untuk mengubah rencana awal,” jelasnya.

Artinya, begitu disetujui, maka ada pembebasan lahan dulu dan pihak ketiga masuk bangun hanggar. “Operatornya masuk misalnya JNF ataupun grupnya Merpati, ya otomatis bandara akan ramai. Jangka panjangnya, ini bandara luar biasa,” ujarnya.

» Baca Berita Terkait Sumenep