Saatnya Move On! Buku Perdana Karya Wabup Sumenep

Wakil Bupati Sumenep, Achmad Fauzi launching buku perdananya: Saatnya MOve On. | Foto: Ist
Wakil Bupati Sumenep, Achmad Fauzi launching buku perdananya: Saatnya MOve On. | Foto: Ist

SUMENEP, Barometerjatim.com – Sebagai pejabat publik, hampir tak ada waktu luang bagi Wakil Bupati (Wabup) Sumenep, Achmad Fauzi. Sehari-hari, waktunya banyak tersita untuk rutinitas tugas pemerintahan. Belum lagi kebiasaanya blusukan menyapa warga.

Meski demikian, dia tetap meluangkan waktu untuk menulis, profesi yang pernah dijalani sebelum menjadi pejabat publik. Hasilnya, Fauzi sukses meluncurkan buku pertamanya bertajuk “Saatnya Move On”.

Buku setebal 146 halaman berisi catatan seorang birokrat muda itu diterbitkan Diva Press Yogyakarta, diluncurkan di Taman Potre Koening Sumenep, Minggu (14/5/2019) lalu.

“Buku ini isinya motivasi dan saya persembahkan untuk pemuda. Judulnya saja pakai bahasa gaul move on. Kalau bahasa bakunya kurang lebih saatnya bangkit,” katanya.

Lewat buku tersebut, Fauzi berharap agar kaum muda menjadi generasi yang siap meneruskan perjuangan dan cita-cita bangsa. “Pemuda harus punya integritas tinggi. Hari ini apa yang bisa kita perbuat, ini waktu yang sangat berharga,” tegasnya.

Dalam peluncurannya, buku dibagikan secara gratis kepada para peserta yang terdiri berbagai organisasi pemuda dan profesi.

“Setidaknya ini menjadi catatan, kalau selama menjabat sebagai wakil bupati, saya bisa memberi hadiah buku. Semoga bermanfaat ketika dibaca,” ujarnya.

Konten Kekinian

Fauzi menambahkan, menulis buku bukanlah pekerjaan mudah, apalagi tak memiliki banyak waktu luang. Namun dia tetap mencoba menulis dan berhasil menjadi buku pertama dengan mempergunakan bahasa yang lugas, sederhana dan kekinian ala kaum muda.

“Bagi saya waktu itu ada tiga, yakni kemarin, hari ini dan besok. Jadi berbicara tentang waktu, bagi saya dari sisi kesibukan tidak ada waktu untuk menulis. Namun di sela kesibukan itu mencoba menulis dan berhasil,” tuturnya.

Dalam menulis buku pertamanya, Fauzi membutuhkan waktu dua tahun untuk menyelesikannya karena ditulis saat ada waktu senggang.

“Setidaknya ada dua hal yang memotivasi saya menulis. Pertama, ingin berbagi. Kedua, mengisi waktu luang di sela kesibukan,” ucapnya.•

» Baca Berita Terkait Madura