PTM di Zona Kuning, Gus Hans: Soal Nyawa, Jangan Gegabah!

JANGAN GEGABAH: Gus Hans, minta Pemprov Jatim tak gegabah soal pembukaan sekolah tatap muka. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
JANGAN GEGABAH: Gus Hans, minta Pemprov Jatim tak gegabah soal pembukaan sekolah tatap muka. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Di tengah pandemi Covid-19 belum melandai, Pemprov Jatim memutuskan tetap akan melaksanakan kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) SMA/SMK dan Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) tahun ajaran baru 2021-2022.

Namun PTM hanya boleh dilakukan di zona kuning dan zona hijau Covid-19. Sedangkan acuan zona tetap berdasarkan SE Gubernur Jatim yang lama, yakni skala mikro berbasis kecamatan.

Terkait rencana PTM tersebut, Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Pemerhati Kesehatan Masyarakat, Zahrul Azhar Asumta mengingatkan Pemprov agar tidak gegabah hanya menggunakan satu rujukan data sebagai dasar pertimbangan.

“Ini soal nyawa. Sebaiknya pemerintah daerah jangan gegabah hanya menggunakan satu rujukan data, sebagai dasar pertimbangan memasukkan siswa karena bisa berdampak fatal,” kata kiai muda yang akrab disapa Gus Hans tersebut, Senin (28/6/2021).

Menurut Gus Hans, mau zona kuning berbasis kabupaten/kota ataupun kecamatan, fakta di lapangan yang ditemukan para relawannya ternyata Covid-19 jauh lebih mengkhawatirkan dari data yang menjadi acuan zonasi.

Gus Hans mencontohkan di Kabupaten Sumenep, Madura, yang saat ini menjadi satu-satunya daerah di Jatim dengan zona kuning. Padahal fakta berdasarkan temuan dari para relawannya di lapangan, tak sedikit warga yang meninggal.

“Dalam dua hari kemarin saja ada lima warga yang meninggal. Belum termasuk yang meninggal di shelter atau di rumah, karena tidak cukupnya faskes yang ada di Sumenep. Mohon jangan ada yang bermain-main dengan nyawa rakyat,” tegas Gus Hans.

“Jadi lepas dari kecamatan atau kabupaten, yang kita soal adalah validitas warna zona. Ini yang kabupaten saja bisa jadi enggak valid, karena fakta di lapangan lebih mengkhawatirkan, apalagi skup lebih kecil kecamatan,” sambungnya.

Gus Hans menambahkan, semua orang tua pasti ingin anaknya bisa sekolah kembali seperti semula. Tapi jika kondisi Covid-19 masih tinggi dan dipaksakan, maka sama saja dengan mempertaruhkan nyawa.

“Yakinlah! Kita juga ingin anak-anak kita sekolah, tapi nyawa itu lebih utama. Dan soal pewarnaan zona sebaiknya terukur betul, karena fakta temuan para relawan di lapangan dalam kasus di Sumenep ternyata berbeda, bahwa Covid-19 masih memprihatinkan,” katanya.

Covid-19 di Sumenep Meluas

ZONA KUNING: Kabupaten Sumenep, satu-satunya daerah di Jatim yang berstatus zona kuning. | Foto: Satgas Covid-19 Jatim
ZONA KUNING: Sumenep satu-satunya daerah di Jatim yang berstatus zona kuning, fakta di lapangan? | Foto: Satgas Covid-19 Jatim

Mengacu data Satgas Covid-19 Jatim, Sumenep menjadi satu-satunya daerah di Jatim yang berstatus zona kuning. Padahal seperti diberitakan sejumlah media online, Covid-19 di kabupaten terujung di Pulau Madura itu justru semakin meluas bahkan hingga daerah kepulauan.

Di Kecamatan Sapeken, misalnya, dalam sepekan terakhir berdasarkan hasil swab antigen di Puskesmas setempat, terdapat 37 warga yang positif Covid-19. “Ada tambahan terus setiap hari, nakes termasuk 10 orang,” kata Camat Sapeken, Jailani, Minggu (27/6/2021).

Bupati Sumenep, Achmad Fauzi juga sudah memerintahkan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat untuk segera melakukan langkah-langkah penanganan dan pencegahan dengan melibatkan lintas sektoral agar kasus Covid-19 tidak semakin meluas.

Sementara jika merujuk data Satgas Covid-19 Jatim per 27 Juni 2021, kasus terkonfirmasi positif di Sumenep sebanyak 1.903. Rinciannya: kasus aktif 56, sembuh 1.739, dan meninggal 108.

» Baca Berita Terkait Wabah Corona